ROKOK BIKIN SEHAT?
Mari Kita Merokok,karena Itu Sehat
Bukan propaganda atau pun bermaksud menyesatkan maupun menentang peringatan pemerintah.
Setiap tahun beribu-ribu dokter medis dan anggota ‘Gerakan Anti-Merokok' mengeluarkan milyaran dolar untuk mengabadikan apa yang tak bisa disangkal lagi, sudah menjadi program rekayasa sosial yang walaupun berhasil, tapi paling menyesatkan dalam sejarah. Dengan dorongan dari beberapa pemerintahan Barat, para pelobi Orwellian ini memburu perokok dengan suatu semangat fanatik yang sepenuhuya mengalihkan kegiatan pelarangan alcohol Amerika, yang berawal tahun 1919 dan berlangsung hingga 1933.
Dewasa ini kita melihat ke belakang tentang pelarangan alcohol oleh Amerika dengan rasa keheranan yang dibenarkan. Benar adanya bahwa suatu bangsa secara kesluruhan membiarkan dirinya sendiri untuk tidak boleh minum segelas bir atau scotch oleh sekelompok kecil orang fanatik penabuh genderang? Memang meyedihkan, hal itu benar, meskipun kurangnya bukti bahwa alkohol itu membahayakan manusia jika tidak dikonsumsi terlalu banyak.
Sayang, keselamatan alkohol tidak menarik perhatian para penabuh genderang. Kendali terhadap orang lain merupakan satu-satunya tujuan yang benar bagi mereka. Orang-orang Amerika terlihat ‘berdosa' gara-gara menikmati beberapa jenis minuman alkohol, dan para militant mengetengahinya dengan nama Tuhan untuk membuat mereka semua merasa tidak senang lagi.
Walaupun tidak ada hubungan langsung antara alkohol dan tembakau, sejarah pelarangan Amerika menjadi penting, sebab sejarah itu membantu kita memahami bagaimana sejumlah kecil pengikut fanatik bisa berhasil mengendalikan perilaku dan kehidupan ribuan juta orang. Dewasa ini hal yang persis sama terjadi terhadap perokok, meskipun saat ini masalahnya lebih berada di tangan para pengikut fanatik pemerintah dan praktisi medis yang acuh ketimbang pengikut fanatik agama yang bertindak sebagai penabuh genderang.
Beberapa pemerintahan tertentu tahu bahwa tindakan-tindakan mereka di masa lalu bertanggungjawab langsung atas penyebab kebanyakan kanker paru-paru dan kulit di dunia sekarang ini. Jadi, mereka bertindak terlalu jauh dalam upayanya membelokkan tanggungjawab dan juga utang finansial mereka, dan sebagai gantinya, mereka menimpakannya terhadap tembakau hidup yang tak berbahaya itu. Sebagaimana akan kita lihat kemudian dalam laporan, tembakau hidup yang sederhana itu belum pernah membahayakan siapapun, dan dalam hal-hal tertentu dapat dibenarkan bahwa tembakau itu dapat memberikan proteksi awal bagi kesehatan.
Tidak semua pemerintah di dunia ini menghadapi masalah yang sama. Jepang dan Yunani mempunyai jumlah perokok dewasa terbanyak di dunia, tetapi mempunyai jumlah terkecil penderita kanker paru-paru. Sebaliknya, Amerika , Australia, Rusia, dan beberapa kepulauan Pasifik Selatan memiliki jumlah terkecil perokok dewasa di dunia, tetapi memiliki jumlah tertinggi penderita kanker paru-paru. Ini adalah petunjuk utama dalam membongkar kebohongan kedokteran barat yang mustahil tapi sudah berakar, bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru.'
Kontak pertama orang Eropa dengan tembakau terjadi tahun 1492 ketika Columbus dan rekan petualangnya, Rodriguo de Jerez, melihat penduduk asli merokok di Kuba. Pada hari itu juga de Jerez pertama kalinya mengisap rokok dan dia sangat merasa relaks, sebagaimana penduduk setempat meyakinkannya. Peristiwa ini menjadi penting, sebab de Rodriguo de Jerez menemukan apa yang yang sudah dikenal orang Kuba dan Amerika selama berabad-abad bahwa merokok cerutu dan sigaret tidak hanya membuat relaks, tapi juga menyembuhkan batuk-batuk dan penyakit-penyakit ringan lainnya. Ketika dia pulang ke negerinya, dengan bangganya de Jerez merokok cerutunya di jalan, dan akibatnya diapun segera ditangkap dan dipenjarakan selama tiga tahun oleh Pengadilan Spanyol yang mengerikan itu. Jadi, de Jerez adalah korban pertama lobi anti-merokok.
Dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, merokok menjadi kebiasan yang amat disenangi dan diterima oleh masyarakat di seluruh Eropa. Ribuan ton tembakau diimpor dari berbgai koloni buat memenuhi kebutuhan yang jumlahnya meningkat. Sejumlah penulis memuji tembakau sebagai obat universal untuk penyakit-penyakit manusia. Pada awal abad 20 hampir setiap satu dari dua orang adalah perokok, tetapi jumlah penderita kanker pariu-paru tetap rendah, sehingga hampir dapat diabaikan. Kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa pada 16 Juli 1945, sebuah peristiwa perubahan besar yang ahirnya akan menyebabkan banyak pemerintahan Barat untuk mengubah persepsi tentang merokok selamanya, sebagaimana dikemukakan oleh K. Greisen: “Ketika intensitas sinar itu berkurang, saya simpan gelas minum dan langsung melihat ke menara. Saat-saat itulah saya melihat warna biru mengelilingi awan asap. Kemudian, seseorang berteriak agar kami sebaiknya memperhatikan gelombang kejut yang bergerak di atas tanah. Kemunculannya berupa area melingkar yang bersinar terang dekat dengan tanah, yang pelan-pelan menyebar ke arah kami. Warnanya kuning. Permanennya awan asap itu adalah satu hal yang mengejutkan saya. Sesudah ledakan pertama yang cepat itu, bagian bawah awan tersebut terlihat membuat sebuah bentuk yang tetap dan terus tergantung di udara tanpa bergerak. Sementara itu, bagian atasnya terus naik, sehingga sesudah beberapa menit, bagian ini mencapai ketingian lima mil. Lama-lama, bagian atas ini bentuknya berkelok-elok yang disebabkan oleh velositas angin yang berubah-ubah pada ketinggian yang berbeda. Asap itu sudah menembus awan pada saat awal naiknya asap, dan terlihat tidak terpengaruh sama sekali oleh awan itu.”
Peristiwa jelek ini dikenal dengan ‘Trinity Test' (Tes Trinitas), senjaja nuklir pertama yang kotor ini yang diledakkan di atmosfir. Dengan enam kilogram plutonium yang dipadatkan luar biasa oleh lensa-lensa peledak, Trinitas meledak di atas New Mexico dengan kekuatan mendekati 20.000 ton TNT. Dalam hitungan detik saja, milyaran partikel radio aktif yang mematikan itu tersebar di atmosfir sampai ketinggian enam mil, yang dapat disebarkan pesawat-pesawat jet berkecepatan tingi ke mana-mana.
Pemerintah Amerika sudah tahu tentang radiasi ini terlebih dahulu dan sadar betul akn pengaruh lethal terhadap manusia, tetapi dengan naifnya memerintahkan uji coba itu tanpa memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan sama sekali. Di mata hukum, tindakan ini adalah pelanggaran besar yang jelas salah, namun Pemerintah AS tidak peduli. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan seorang penjahat lainnya untuk dampak jangka panjang yang akan diderita oleh rakyat Amerika sendiri dan warga negara lainnya di darerah-daerah setempat dan terpencil.
Jika sebutir partikel radio aktif mikroskopis mengenai kulit Anda di pantai, maka Anda akan terkena kanker kulit. Coba saja hisap sebutir partikel kotoran yang sama dengan lethal, maka kematian akibat kanker paru-paru tidak dapat dihindari, jika Anda bukan seorang perokok sigaret yang luar biasa beruntung. Partikel radio aktif mikroskopis padat mengubur dirinya sendiri jauh di dalam jaringan paru-paru, membanjiri persediaan vitamin B 17 yang terbatas dalam tubuh, dan menyebabkan pertambahan sel yang menjadi-jadi serta tidak dapat dikendalikan.
Bagaimana kita bisa sepenuhnya yakin bahwa partikel radio aktif yang turun ke tanah itu benar-benar menyebabkan kanker paru-paru setiap saat seorang subjek secara internal terkontaminasi? Bagi para ilmuan, yang sebaliknya dengan dukun-dukun medis dan para propagandis pemerintah, hal ini bukanlah masalah. Bagi teori apapun yang dapat diterima secara ilmiah, teori itu harus dibuktikan sesuai dengan kaidah-kaidah yang tepat yang secara universal disepakati para ilmuwan. Pertama, subjek tersangka radio aktif harus diisolasikan, kemudian digunakan dalam eksperimen-eksperimen lab yang dikedalikan dengan tepat untuk akhirnya mencapai hasil yang dikalaim, misalnya kanker paru-paru pada mamalia.
Melalui prosedur ini, para ilmuwan sudah mengorbankan puluhan ribu tikus dan wirog selama bertahun-tahun, yang dengan sengaja mendedikasikan paru-paru mereka kepada partikel radio aktif. Hasil-hasil penelitian ilmiah dari berbagai jenis eksperimen yang didokumentasikan ternyata persis sama. Setiap tikus atau wirog dengan setia menderita kanker paru-paru, dan kemudian setiap tikus atau wirog mati. Jadi, teori sudah disesuaikan dengan fakta ilmiah yang kuat dibawah kaidah-kaidah lab yang dikendalikan secara ketat. Subjek tersangka (materi radio aktif) menyebabkan hasil yang diklaim (kangker paru-paru) ketika dihisap oleh mamalia.
Besaran keseluruhan risiko kanker paru-paru terhadap manusia dari sebaran radio aktif di atmosfir tidak dapat terlalu dilebih-lebihkan. Sebelum Rusia, Inggris, dan Amerika mengundangkan uji coba nuklir di atmosfir pada 5 Agustus 1963, lebih dari 4.200 kilogram plutonium sudah disebar ke dalam atmosfir. Karena kita tahu bahwa kurang dari satu microgram (1/1.000.000 gram) plutonium yang terhisap menyebabkan kanker paru-paru pada seorang manusia, maka kita tahu bahwa pemerintah Anda yang baik itu sudah menyebarluaskan 4.200.000.000 (4,2 milyar) dosis lethal ke dalam atmosfir, dengan paruh hidupnya bertahan selama minimal 50.000 tahun. Menakutkan, bukan? Sayang sekali, keadaannya malah memburuk. Plutonium yang disebutkan di atas berada di dalam senjata nuklir sebelum peledakan, tetapi kandungan paling besar partikel rdio aktif berasal dari kotoran atau pasir biasa yang terhisap dari tanah, dan teradiasi saat partikel-partikel itu naik ke atas lewat bola api senjata itu. Partikel-partikel ini membentuk bagian ‘asap' terbanyak yang terlihat pada foto peledakan nuklir manapun. Dalam sebagian besar kasus, beberapa ton materi terhisap dan secara permanen terradiasi dalam persimgahan. Namun demikian, mari kita bersikap konservatif dan mengklaim bahwa hanya 1000 kilogram materi permukaan yang terhisap oleh masing-masing uji coba nuklir.
________________________________________
Sebelum dilarang oleh Rusia, Inggris, dan Amerika, ternyata sudah dilakukan 711 uji coba nuklir di atmosfir yang membentuk 712.000 kilogram partikel raio aktif mikroskopis yang masih harus ditambahkan lagi 4.200 kilogram yang berasal dari senjat-senjata mereka sendiri, maka berat kotornya sekalipun masih pakai perhitungan konservatif mencpai 715.200 kilogram. Tiap kilogram mengandung lebih dari satu juta dosis lethal . Ini berarti bahwa pemerintah Anda telah mengkontaminasikan atmosfir Anda dengan lebih dari 715.000.000.000(715 milyar) dosis, sehingga cukup sebagai penyebab kanker paru-paru dan kulit 117 kali pada setiap laki-laki, perempuan, dan anak di muka bumi ini.
Sebelum Anda bertanya, jawabannya ‘Tidak'. Partikel-partikel radio aktif itu tidak akan ‘menghilang' paling tidak selama hidup Anda atau anak dan cucu Anda. Dengan paruh hidup 50.000 tahun atau lebih, trliliunan partikel radio aktif buatan pemerintah yang mematikan ini berada di sekitar Anda selamanya. Dengan disebarluaskan ke seluruh dunia oleh pesawat- pesawat jet yang berkecepatan hebat itu, partikel-partikel tersimpan secara acak meski dalam konsentrasi-konsentrasi yang lebih tinggi dalam jarak beberapa ribu mil dari lokasi uji coba. Ganguan angin atau gangguan permukaan udara lainnya, semua dibutuhkan buat mengaduknya lagi dan menjadikan bahaya yang lebih besar bagi orng-orang di daerah sekitar mereka.
Aktivitas main tendang pasir di sekitar pantai pada musim panas sekarang ini dapat berarti bunuh diri jika Anda mengaduk-aduk partikel-partikel radio aktif yang dapat menempel pada kulit Anda atau terhisap masuk ke dalam paru-paru Anda. Oleh sebab itu, jangan lagi mengolok-olok Michael Jackson waktu dia muncul di bandara udara dengan memakai masker pada hidung dan mulutnya. Mungkin dia tampak eksentrik, tetapi Michael hampir pasti menyelamtkan hidup kita.
Dua belas tahun sesudah Tes Trinitas yang membawa bencana ini, menjadi jelas bagi dunia Barat bahwa banyak hal semakin tidak terkontrol. Laporan Badan Penelitian Kedokteran Inggris menyatakan bahwa angka kematian global akibat kanker paru-paru sudah lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu 1945 sampai 1955, meskipun tidak ada penjelasan yang diberikan. Dalam periode 10 tahun berikutnya, angka kematian akibat kanker paru-paru di lingkungan sekitar Hiroshima dan Nagasaki meningkat tiga kali lipat. Setelah sepenuhnya merusak lingkungan untuk jangka waktu 50.000 tahun ke depan, sudah saatnya bagi ‘negara-negara kuat' untuk mulai mengambil tindakan tegas guna menanggulangi masalah ini.
Bagimana rakyat dapat dibuktikan bersalah karena membuat diri mereka sendiri terkena kanker paru-paru, yakni dikatakan bersalah karena sakit yang ditimbulkannya sendiri, sementara pemerintah tidak bisa dipersalahkan atau digugat? Selain air, satu-satunya zat yang jelas terhisap orang ke dalam paru-paru adalah asap tembakau, jadi pemerintah itulah yang salah. Para ‘peneliti' kedokteran yang malang itu tiba-tiba kebanjiran dana besar serta gratis dari pemerintah yang semua itu ditujukan untuk mencapai hasil ahir yang sama yaitu ‘Membuktikan bahwa merokok menyebabkan kangker paru-paru.' Di pihak lain, para ilmuwan sejati (terutama beberapa ahli fisika nuklir terkemuka) tersenyum geram terhadap upaya-upaya lobi anti-merokok yang menyebalkan itu dan yang membujuk-rayu mereka hingga masuk perangkap yang mematikan itu. Para peneliti kedokteran gadungan itu diundang untuk membuktikan klaim mereka yang salah itu dibawah kaidah-kaidah ilmiah yang sama persis tegasnya dengan yang digunakan ketika membuktikan bahwa partikel-partikel radio aktif menyebabkan kangker paru-paru.
Ingat bahwa teori apapun yang dapat diterima secara ilmiah harus dibuktikan sesuai dengan kaidah-kaidah yang tepat yang secara universal disepakati para ilmuwan. Pertama, agen tersangka (asap tembakau) harus diisolasikan , lalu digunakan dalam kaidah-kaidah laboratorium yang dikendalikn dengan tepat untuk membuktikan hasil yang diklaim, yaitu kanker pada mamalia.
Meskipun sudah memasukkan puluhan ribu tukus dan wirog yang mudah terkontaminasi ke dalam asap tembakau yang ekuivalen dengan 20 batang rokok per hari selama beberapa tahun, ‘ilmu kedokteran' belum pernah berhasil membuktikan adanya kanker paru-paru pada tikus atau wirog manapun. Yah, bacalah benr-benar kalimat itu. Selama lebih dari 40 tahun, ratusan ribu dokter medis telah dengan sengaja membohongi Anda.
Para ilmuwan sejati sudah berhasil memegang kerongkongan para peneliti gadungan itu, sebab dengan ‘membandingkan' antara eksperimen partikel radio aktif yang mematikan dan eksperimen terhadap asap rokok yang ramah dan tidak berbahaya itu, membuktikan dan menyimpulkan selamanya bahwa dalam kondisi apapun merokok tidak dapat menyebabkan kanker paru-paru. Lebih jauh lagi, dalam sebuah eksperimen besar yang ‘kebetulan'itu, mereka tidak pernah diperbolehkan mempublikasikan para ilmuwan sejati membuktikan dengan penjelasan yang mentakjubkan bahwa merokok sebenarnya membantu melindungi terhadap kanker paru-paru .
Semua tikus dan wirog digunakan hanya satu kali dalam sebuah eksperimen tertentu, lalu dihancurkan. Dengan cara ini, para peneliti yakin bahwa hail-hasil dari zat apapun yang sedang mereka uji cobakan tidak dapat secara kebetulan ‘terkontaminasi' oleh pengaruh-pengaruh nyata atau khayalan dari suatu zat lain.
Kemudian suatu hari soeolah-olah magic, beberapa ribu tikus dari eksperimen terhadap merokok'secra kebetulan' menemukan jalan masuk ke dalam eksperimen terhadap partikel radio aktif yang sebelumnya sudah membunuh setiap tikus dan wirog malang yang diuji-cobakan itu. Tetapi saat ini, secara mutlak bukan hal-hal ajaib, 60 % dari tikus dan wirog yang sudah terkena asap tembakau ternyata bertahan hidup dalam kontaminasi partikel-partikel radio aktif itu. Satu-satunya variable adalah penyimpanan mereka terrlebih dahulu dalam ruang dengan kuantitas asap tembakau yang banyak sekali.
________________________________________
Tekanan pemerintah segera dilakukan dan fakta-fakta itupnn disembunyikan, tetapi hal ini tidak sepenuhnya dapat membungkam para ilmuwan sejati. Barangkali lidah di dagu, Profesor Schrauzer, Ketua Asosiasi Ahli Kimia Bio-inorganik Internasional, menyatakan di depan sebuah Komisi Kongres Amerika Serikat tahun 1982 bahwa sudah lama diketahui para ilmuwan bahwa zat-zat tertentu dalam asap tembakau berfungsi sebagai anti-carcinogens (zat anti-kanker) dalam binatang-bimatang percobaan. Dia melanjutkan bahwa ketika carcinogens yang sudah dikenal (zat-zat penyebab kanker) diterapkan terhadap binatang-binatang itu, maka aplikasi zat-zat asap rokok itu ternyat melawan mereka.
Profesor Schrauzer tidak berhenti sampai di sini . Dia lebih jauh menyatakan di atas sumpah di depan Komisi Kongres bahwa ‘tidak ada unsur asap rokok yang terbukti sebagai penyebab kanker paru-paru dalam tubuh hewan-hewan parcobaan di laboratorium akibat dari asap rokok.' Penyataan ini merupakan sebuah jawaban terhadap masalah yang agak membingungkan itu. Jika pemerintah memblokir publikasi makalah ilmiah Anda, ambllah jalan lain dan masukanlah fakta-fakta penting itu ke dalam catatan tertulis Kongres!
Dapat diprediksikan bahwa kebenaran nyata ini mengundang kemarahan pemerintah dan para ‘peneliti' kedokteran gadungan itu. Tahun 1982 sebenarnya mereka sudah mulai mempercayai propaganda mereka yang, dan tidak dapat dibungkam oleh para anggota terkemuka gerakan ilmiah ini. Tiba-tiba saja mereka mengkambing-hitamkan unsur-unsur rahasia yang dimasukkan ke dalam rokok oleh perusahan-perusahaan tembakau. “Yah, mesti demikian!” mereka beramai-ramai menuntut dengan penuh rasa ingin tahu, sampai sekelompok ilmuwan menelepon dan mengemukakan bahwa unsur-unsur ‘rahasia' yang sama sudah dimasukkan ke dalam eksperiman tikus, dan karena itu, juga sudah terbukti tidak dapat menyebabkan kanker paru-paru.
Pemerintah dan komunitas kedokteran semua kelihatannya putus asa. Karena pendanaan anti-merokok sudah mulai dilakukan sejak awal 1960-an, puluhan ribu dokter medis telah lulus dari fakultas kedokteran tempat mereka diajari bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru.' Sebaian besar mempercayai kebohongan itu, namun retak-retak mulai muncul pada cat ‘kebohongan' itu. Malahan, dokter-dokter yang lulus dengan IPK ‘C' tidak mampu membuat korelasi data, dan jika mereka bertanya, mereka diperintahkan agar tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh. Bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru' berubah menjadi sebuah dogma, yakni sebuah mekanisme kepercayaan agama yang pura-pura sebagai wadah kepercayaan taklid yang dijadikan pengganti bukti ilmiah.
Padahal, kepercayaan atas dasar taklid buta itu membutuhkan sebuah sistem penguatan yang positif. Dalam hal ini, sistem itu adalah agen-agen iklan dan media. Tiba-tiba, layer-layar televisi dibanjiri dengan citra tentang paru-paru perokok yang menghitam dan mengerikan, disertai mantera bahwa Anda akan brada dalam kesedihan yang mengerikan apabila Anda tidak berhenti sekarang. Itu semua tentu sampah yang menyedihkan. Di atas tempat tidur mayat, paru-paru seorang perokok dan bukan perokok kelihatan sama persis yaitu merah muda. Satu-satunya yang dapat dikatakan seorang ahli patologi bahwa Anda mungkin sudah menjadi seorang perokok jika dia menemukan lapisan nikotin yang tebal pada jari-jari Anda, sebungkus rokok Camels atau Malboro di dalam saku mantel Anda, atau salah seorang kerabat Anda secara tak bijak mengakui pada catatan bahwa Anda pernah merokok tembakau iblis.
Banyak orang bertanya mengapa tikus yang terkontaminasi asap rokok terlindungi dari partikel-partikel radio aktif yang mematikan, dan lebih banyak orang bertanya mengapa angka-angka nyata sekarang ini menunjukkan bahwa jauh lebih banyak bukan perokok mati karena kanker paru-paru daripada perokok. Profesor Sterling dari Universitas Simon Fraser di Kanada barangkali yang paling mendekati kebenaran. Dia menggunakan makalah-makalah hasil penelitian untuk menarik kesimpulan berdasakan pemikiran yang cermat bahwa merokok itu membentuk formasi lapisan lender tipis di dalam paru-paru, yang menjadi sebuah lapisan pelindung yang menghalangi partikel-partikel penyebab kanker agar tidak bisa memasuki jaringan paru-paru.
Mungkin ini merupakan sebuah penemuan ilmiah yang mendekati kebenaran yang dapat kita lakukan saat ini. Partikel-partikel radio aktif mematikan yang terhisap oleh seorang perokok akan terperangkap pada lapisan lender, dan kemudian dikeluarkan dari tubuh sebelum memasuki jaringan paru-paru.
Semua ini mungkin sedikit menekan bukan perokok, namun ada satu atau dua cara untuk meminimalkan risiko. Daripada menjauh dari perokok di pub atau club Anda, sebaiknya dekatilah sedapat mungkin, dan hisaplah asap bekas mereka yang mahal itu. Teruskan, jangan malu-malu, hisaplah dalam-dalam beberapa kali. Barangkali, Anda juga dapat merokok satu batang sigaret atau cerutu setiap kali sesudah makan, hanya tiga batang sehari untuk membentuk lapisan lender pada paru-paru Anda. Jika Anda tidak bisa atau tidak akan melakukan salah satu dari ketiga saran di atas, pertimbangkan untuk menelepon Michael Jackson untuk meminta sebuah masker cadangan!
Link sumber:
http://www.akhirzaman.info/index.php?option=com_content&view=article&id=1:rokok-bebas-kanker-paru-paru
http: www./joevialls.co.uk/transpositions/smoking.html 4/30/2004
http://www.kapanlagi.com/clubbing/showthread.php?t=16759
link terkait:
http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-07-05-Protein-Anti-Kanker-dari-Tembakau.shtml
http://forum.berani.co.id/default.aspx?g=posts&t=469
link terkait:
nyatanya, iklan rokok pada masa awal industri rokok banyak didukung oleh para dokter, dg slogan2 kesehatan: http://lane.stanford.edu/tobacco/index.html
NU Mulai Tersisih dari Instansi?
NU mulai tersingkir dari instansi
beberapa waktu belakangan ini di kampus UIN Sunan Kalijaga merebak isu bahwa orang-orang NU yang berada di jajaran pengurus instansi mulai di singkirkan dari stuktur. itu terbukti dengan mulai berkurangnya orang-orang NU yang menempati posisis struktur. haruskah kita diam saja?
tentu tidak!!!
kita harus mampu bersatu untuk membangun image NU di mata RI.
kuncinya cuma satu. bersatu dan saling membantu.
Posting by ABAS on Min Mar 02, 2008 10:30 pm
dari http://forum.nu.or.id
Mengapa NU selalu tersingkir?
Aku baca buku "NU; Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru" (Martin Van Bruinessen, LKiS Yogyakarta cet. v, Januari 08), ternyata NU selalu tersingkir sepanjang sejarah....
Why? Why?
Setidaknya ada dua argumen yang diajukan Martin. Pertama, NU lebih banyak menjadi jamaah daripada jam'iyyah. Secara jamaah (grubyak-grubyuk, bergerombol), NU emang nggak ada tandingannya. :lol: Namun secara jam'iyyah (manajemen organisasi), NU kalah jauh dari ormas-ormas lainnya. Lihat saja dalam kegiatan anak organisasi-organisasi NU atau dalam rapat-rapat, acara yang digelar selalu molor. Ada istilah, "jam NU" yang menggambarkan bahwa jika di undangan tertera pkl 10.00, peserta rapat yang pertama baru hadir pkl. 11.00. Kedua, NU kekurangan kader. Pada masa perjuangan kemerdekaan, lewat resolusi jihad-nya, NU berhasil mengumpulkan 'gerombolan' mujahid yang bersedia mati. Namun, sesudah kemerdekaan diraih dan dipertahankan, NU lebih banyak tersisih karena tidak adanya SDM yang mumpuni untuk memegang jabatan-jabatan di masa damai. Lihat saja dalam pemilu 55, dimana NU berada di tingkat 3 sesudah PNI dan PKI, NU kebingungan harus mengisi kursinya yang banyak. Akibatnya, NU mencari orang-orang di luar NU yang bisa mengisi jabatan itu--dengan kompensasi khusus terhadap NU tentunya. Intinya, NU lebih tepat dikatakan sebagai siap jadi pecundang, dan tidak siap jika menang... :twisted:
Yang ketiga (hadza min ziyadati; tambahan saya), sebagai orang NU, kita seringkali melupakan lambang NU. Lambang NU terlihat jelas bagaimana tali-NU melingkari jagad, mendekap bumi. Artinya, pandangan orang-orang NU harus bersifat global dan merangkul semua yang unsur yang ada di dunia. Tapi nyatanya, sikap keseharian kita sering kali tidak seperti itu. Orang-orang NU, terutama yang berada di desa-desa, masih banyak yang fanatik dan anti-perubahan. Jangankan terhadap organisasi lain, terhadap orang-orang NU lain--yang menawarkan kemajuan--pun kadang mereka memicingkan mata kecurigaan.
Fenomena ketiga ini juga seringkali menerpa kita yang sudah melek pendidikan. Misalnya, teman-teman mengatakan, "KIta harus bersatu..." Menurutku, itu sih baik. Namun kesannya teman-teman menuduh "orang luar" dan "ormas lain" sebagai biangnya. Seakan-akan ada penarikan kutub "kita" dan "bukan kita"; "teman" dan "lawan". Jika memang demikian, tentu ini tidak sejalan dengan lambang NU yang talinya melingkari jagad!
Menurutku, yang lebih baik adalah, kita introspeksi diri dulu lah. Apakah yang membuat orang-orang NU tersingkir? Apakah karena mereka "disingkirkan" secara zalim, ataukah memang "disingkirkan" karena memang sudah tidak dibutuhkan, misalnya, karena SDM-nya yang kurang disiplin, atau kurang memiliki visi ke depan, tidak memiliki sense of management, atau kelemahan-kelemahan yang lain?
Sesudah itu, marilah kita mengubah kelemahan-kelemahan kita. Kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita. Barulah kita bersaing dengan ormas dan golongan lain dalam rangka 'fastabiqul-khoirot!'
Sufi: Pilih Kaya ato Miskin? (2-habis)
Tapi, janganlah engkau buru-buru mengambil kesimpulan. Ketika aku tanya Zaid, ia bilang, "Stt! Diam, kau! Sebenarnya, air di cawan itu ada yang tumpah lho!"
Mungkin, jawaban Zaid inilah yang membuat sebagian besar para sufi lebih memilih miskin daripada kaya... mereka takut air dalam cawan hatinya tumpah...
Sufi: Pilih Kaya ato Miskin?
Tidak, sama sekali tidak ada hubungannya antara tasawuf (zuhud) dengan miskin. Orang yang miskin bisa jadi tidak zuhud, sebaliknya orang yang kaya belum tentu zuhud. Dan sebaliknya.
Zuhud itu kan nggak suka dunia. Nggak suka dunia bukan berarti harus nggak punya dunia. Contoh sederhana, seorang pecinta barang antik, belum tentu memiliki barang antik itu, misalnya karena ia nggak punya duit untuk membelinya. Sedangkan orang yang punya barang antik, belum tentu menyukainya: ia menganggapnya biasa sebagaimana barang-barang yang lain.
Justru, ketika seorang hidup miskin dan belum pernah kaya, mungkin ia menjadi sangat pengin kaya. Inilah yang dimaksud dengan gila dunia. Sedangkan orang yang (pernah) kaya (dan juga pernah miskin di sisi lain), mungkin menjadi merasa biasa dengan kaya dan miskin. Artinya, ia ikhlas mau menjadi kaya atau miskin. Artinya lagi, ia tidak peduli apakah ia punya harta dunia atau tidak; yang ia pedulikan hanyalah penghambaan kepada tuhan. orang yang seperti inilah yang disebut zuhud.
Mungkin saja orang yang zuhud hidup mewah; tapi ia tidak bermewah-mewah. Ia "nyah-nyoh" dengan hartanya. Jika ia punya sepuluh juta, ia merasa sama dengan memiliki uang seratus rupiah atau bahkan sama dengan tidak memiliki uang sama sekali. Punya harta atau tidak, ia tetap beribadah.
sebaliknya, banyak orang yang hidupnya miskin, tetapi matanya hijau. setiap melihat uang, melihat kemewahan, mulutnya mengeluarkan air liur. Inilah yang disebut "kadonyan". Demikian pula, seorang kaya yang masih "ngiler" dengan harta dunia, tentu juga tidak bisa disebut zuhud.
Pernah ada cerita sufi, begini:
Seorang santri, sebut saja namanya Zaid, hendak pulang kampung. Ia ijin sama kiainya. Kata kiai, "Jangan pulang dulu."
"Tapi kiai, saya diminta pulang oleh ibu." kata Zaid.
karena mendesak terus, kiainya pun mengijinkannya pulang. Tapi dengan syarat, ia harus ngaji dulu di pesantren Syaikh Jabir.
"Syaikh Jabir ini orangnya sangat zuhud dan juga alim. Kau boleh pulang kalo kau sudah ngaji di sana barang satu-dua hari."
Akhirnya, berangkatlah Zaid ke pondok Syaikh Jabir. Sepanjang jalan, ia bertanya-tanya, seperti apa sih rupa Syaikh Jabir yang kata kiainya begitu zuhud? Ia membayangkan, pondok Syaikh Jabir terbuat dari kayu yang keropos hampir roboh. atapnya dari rumbia. pakaian yang dikenakannya bolong-bolong.... dst.
Namun alangkah terkejutnya ketika zaid melihat pondok dan rumah SYaikh Jabir yang magrong-magrong kayak istana! Ketika kemudian ia mendekat, Mercedes Benz nongkrong di garasi. Ketika ia masuk, marmer dan pualam menyambut. Ketika Syaikh Jabir datang, pakaian dan sisirannya rapi dan kinclong.
Zaid langsung protes, "Kiai! Katanya kamu zuhud! kok seperti ini?"
Syaikh Jabir nggak menjawab. Ia masuk, mengambil mangkok, lalu menyerahkannya kepada Zaid.
"Bawa! dan jangan sampai airnya tumpah." kata Syaikh.
"Sobron!" teriak Syaikh memanggil body-guardnya yang serem. "Tempiling dia kalo sampai airnya tumpah!"
Lalu, SYaikh membawa Zaid naik andong. putar-putar desa (dengan jalanan yang tidak rata. Maka, Zaid pun harus bersusah payah menjaga air dalam mangkok itu... Ia nggak mau dipukul Sobron yang kekar dan galak tampangnya itu.
Hampir seharian mereka berkeliling kampung. Kemudian, legalah Zaid ketika Syaikh Jabir menghentikan andongnya.
Sudah sampai!
"Nak, kamu lihat apa tadi di jalan? Melihatkah engkau para penduduk yang sedang menanam padi di sawah-sawah? Melihatkah engkau gadis-gadis desa yang setengah telanjang mencuci pakaian? Melihatkah engkau burung-burugn di tepi hutan Gungliwang-liwung yang..."
"LIhat apa? Kiai ini bagaimana sih, saya kan harus njaga air ini agar tidak tumpah? bagaimana mungkin saya melihat-lihat jika mata saya harus terpaku pada air dalam mangkuk ini!?"
"Demikianlah, Nak. Kau boleh saja memiliki gedung seperti istana. Kau boleh saja beristri cantik jelita. Kau boleh saja memiliki mobil dan uang tujuh puluh gudang. Kau dapat saja menyaingi Qarun dalam kekayaan. Tapi kau tidak akan melihatnya jika mata hatimu terpaku menjaga air-tauhid, air ikhlas, dan air-penghambaan dalam mangkuk dan cawan hatimu... Kau tidak akan menganggapnya, sebagaimana tadi engkau tidak melihat gadis-gadis desa. Engkau tidak akan memikirkannya sebagaimana engkau tidak memikirkan para petani menanam padi... Namun, itu semua jika engkau terus berkonsentrasi pada air-hayat dalam jiwamu...!"
"Dan, sebagaimana engkau takut dipukul body-guardku, aku pun takut diazab Body-Guard yang maha mem-body-guard manusia!"
So, Zuhud boleh kaya, kan? Yang penting bukan apa yang ada di sekeliling kita; bukan "dunia" yang kita miliki. Namun, bagaimana cara pandang kita kepada dunia itu sendiri.
DI CARI: IBU KOTA BARU!
Begitulah ‘celoteh’ Iwan Fals, dalam sebuah lagunya yang aku lupa judulnya. Entah mengapa, lagu yang bertahun-tahun lalu digubah itu, sekarang terbukti menjadi kenyataan. Dari banjir, polusi, kriminalitas, pelecehan seksual, kemacetan, hingga perkara-perkara yang terkesan sepele semisal kapling tanah makam, benar-benar menumpuk menjadi PR bagi ibu kota, yang tiada pernah terselesaikan! Jakarta dikepung oleh problema.
Sejarah kekuasaan terpusat yang dialami negeri ini telah membuat Jakarta ‘begitu penting’. Sayangnya, daerah-daerah lain belum memiliki cukup kekuatan untuk mengimbanginya. Lihatlah, jalur penerbangan saja semuanya terpusat dari Jakarta. Aku jadi kepikiran, bagaimana kalau tibatiba Jakarta dilanda tsunami. Pada saat itu, bagaimana nasib Indonesia? (mungkin habis?)
Pikiran kedua, kayaknya jakarta sudah tidak layak lagi jadi ibukota. Banjir, jalan semrawut, penggusuran, tata kota yang tak rapi, dll. Bagaimana kalau ibukota dipindah ke tempat sepi, lalu direncanakan dengan model pembangunan yang rapi, terpadu, dan terencana? Misalnya, ibukota dipindah ke Kalimantan. Membangun dari nol, setelah berhasil, ibukota pindah lagi ke tempat tertinggal lain, membangun dari nol lagi, dan pindah lagi sesudah pembangunan berhasil. Mungkin (hanya) dengan cara begini, pembangunan di Indonesia akan merata?
Para Syaikh-2
Sayangnya, malam ini aku harus ronda; harus ikut jaga malam di kampung. Jadi, aku belum selesai baca... kita lanjut di lain waktu, kawan.
Para Syaikh-1
Eh, ternyata ada dua Ahmad Khatib di indonesia, yang sama-sama memiliki nama besar di jagat kepesantrenan. Ahmad Khatib Sambas, adalah kiai yang dikenal sebagai pembawa tarekat dan menyebarkannya ke pelosok-pelosok nusantara—tentu saja, lewat murid-muridnya. Ia juga dikenal sebagai kiai yang mampu menggabungkan dua buah tarekat menjadi satu; yakni, tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. Jadinya, di jawa seakrang tersebar tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.
Akan tetapi, telusur punya telusur, kenyataan ini masih patut untuk diragukan. Ahmad Khatib Sambas memang pernah berguru pada Syams al-Din, seorang mursyid Qadiriyah di tanah Makkah. Namun, darimana ia mendapatkan ‘wangsit’ atau jalur silsilah tarekat Naqsabandiyah? Meski demikian, toh buku karangannya yang berjudul—apa ya? Aku lupa. Tapi kayaknya—Miftahul Árifin, merupakan satu-satunya kitab yang menjelaskan secara detail ritual-ritual tertentu dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Sementara itu, ada pula Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Ini ulama besar, Bung! Ia termasuk salah satu ulama Indonesia yang berhasil menjadi ‘guru’ dan imam di masjidil-haram, dan diberi gelar Imamul-Haramain.
Tentang Bagus Burham, ia adalah seorang pujangga jawa yang berjiwa kompleks. Ia pernah mondok di pesantren Tegalsari Ponorogo—konon pesantren pertama di Indonesia—untuk “ngaji” kepada Kiai Hasan Besari di satu sisi, di sisi lain ia juga mendapat pengajaran etika jawa yang ketat dari ayah dan moyangnya. Di sisi ketiga, ia juga bergaul intens dengan para insinyur dan sarjana barat (Belanda). Uniknya, Bagus Burham berhasil menggabungkan ketiganya—dan terutama sinkretisme antara nilai-nilai jawa dengan nilai-nilai pesantren. Siapakah Bagus Burham ini?
Dialah, seorang sastrawan yang digelari sebagai ‘pujangga pamungkas’; penutup para pujangga Jawa. Dialah, yang pada kemudian hari dikenal sebagai Ronggowarsito. Seorang tokoh sejarah yang kemudian lebih banyak dikultuskan oleh orang-orang jawa sedemikian hingga seolah-olah hanya menjadi tokoh legenda yang tidak nyata.
Sebuah sajak yang sangat terkenal adalah konsepsi Ronggowarsito tentang jaman edan. Selain itu, konsep ratu adil, juga dicetuskan dalam karya-karyanya, khususnya dalam Serat…. (aku lupa namanya). Yakni, dengan menjanjikan akan munculnya kalasuba (jaman keemasan) sesudah runtuhnya kalabendu (jaman kemurkaan tuhan)….
javascript:void(0)
Masih banyak lagi yang perlu kupelajari tentang tokoh-tokoh ini, kawan. Itu saja sekilas review bacaanku semalam. Sampai jumpa.
"bisikan gaib buat penulis"
Ada penulis yang suka ngrokok dan ngopi di depan komputer. Berjam-jam ia duduk, memeras otak dan jiwa, memencet-mencet key-board, dan menuliskan semua isi ruhnya. Hingga tak sadarlah ia telah menghabiskan berbatang-batang. Telah menghirup bergelas-gelas. Telah duduk berwaktu-waktu. Ginjal, kawan! Awas ginjalmu! Jantung, kawan! Awas jantungmu! Jika pagi harinya engkau tidak bergerak; tidak berolahraga; tidak beraktivitas fisik, hati-hatilah!
Aliran darahmu menjadi tidak lancar karena kopi dan sampah-sampah nikotin. Lalu menggumpal di dinding-dinding pembuluh. Kerja jantung pun meningkat. Kerja ginjal pun semakin berat. Jantung, yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh, harus bekerja keras karena jalan-darah yang tersumbat. Ginjal, yang bertugas menyaring sampah dan racun dalam darah, harus menguras tenaga karena sampah yang banyak mencemari sungai-sungai darah. Wow! Bergeraklah, para penulis! Berolahragalah! Jangan engkau menjadi lilin yang sia-sia. Yang belum lagi bercahaya engkau sendiri sudah terbakar habis, mencair.
Berolahragalah, kawan! Demi kesehatanmu. Toh ‘gajimu’ hanya cukup untuk makan seminggu—bagaimana mungkin engkau akan membayar biaya pengobatan jika engkau sakit?
Berolahragalah, kawan! Bangun di pagi hari. Sehabis shubuh, berlarilah mengejar mimpi. Toh engkau akan mendapatkan ide di jalan-jalan yang engkau lalui! Apa ruginya? Apalagi dirimu adalah panji-panji peradaban, kawan, wahai para penulis…. Jangan sampai peradaban umat kehilangan engkau gara-gara laku hidupmu yang dangkal dan bodoh. Jangan biarkan peradaban mengenakan selubung hitam karena berduka lagi. Jangan biarkan, kawan! Jangan biarkan, wahai para penulis yang terhormat!
KORAN PONDOK NURUL UMMAH
Mangayubagya 7 Dino Koran Nurma
Oleh Mahbub Jamaludin
Al-‘ilmu shoid wa al-kitabah qayyiduhu. Kata-kata itu meluncur lembut namun tegas dari lisan seorang pemuda yang tiada tertandingi sepanjang sejarah Islam. Ia, yang sejak remaja telah mengikrarkan keimanan; ia yang dibesarkan oleh buaian kenabian. Ya, ialah Ali; tokoh besar yang pernah digilas gilanya sejarah. Ia dipuja-puja, juga dicaci-maki. Ia sempat dihina-dinakan. Turunannya dibantai. Partainya digembosi. Dan namanya hampir hancur oleh gilasan sepatu kekuasaan.
Pada masa kejayaan Umayyah berikut wadya-balanya, nama Ali seolah-olah tenggelam. Orang-orang bahkan sungkan meriwayatkan hadits darinya, atau sekedar bercerita tentangnya, atau sekedar menyebut namanya. Karena, siapa saja yang berani berbuat seperti itu, berani mengangkat namanya di pusat-pusat perbincangan, berani mengagung-agungkan dirinya, ia akan dituntut oleh suatu tuduhan: subversif. Mungkin, sama seperti orang Indonesia yang takut dan segan menyebutkan nama ‘PKI’ pada masa orde baru.
Untunglah sunnatullah tidak bisa dilawan. La tabdiila! Tak bisa diganti oleh kesombongan manusia. Sejarah kemudian membuktikan, bahwa kecemerlangan seseorang tidak bisa ditutup-tutupi. Beberapa puluh tahun kemudian, sesudah nama Ali bahkan hampir tidak diakui sebagai salah satu khulafaur-rasyidin, khalayak pun kemudian insaf bahwa namanya pantas ditahbiskan sebagai seorang tokoh yang tiada tandingan. Perjalanan waktu menjadi saksi bahwa buah pikirannya lah yang abadi; sebaliknya, kekuasaan dan singgasana—yang menindasnya—tiada pernah abadi. Kekuasaan berganti seiring perubahan generasi; namun buah pikiran tak lekang oleh waktu dan ruang yang menjeruji.
Ketika saya memulai tulisan ini dengan kata-kata Ali, bukan berarti saya orang Syiah. Saya akui, pada tataran tertentu, saya memang mengagumi Syiah. Bacalah Nahjul-Balaghah; selamilah karya-karya ‘Allamah Thaba’thaba’i; tenggelamlah dalam samudra kata-kata Murtadha Muthahhari; berenanglah dalam pikiran-pikiran Ali Syari’ati. Engkau akan mendapatkan perpaduan ideal antara pikiran dan hati. Engkau akan menemukan sinkretisme antara filsafat dan sufi. Engkau akan mencicipi nikmatnya logika dan rasa. Dan yang lebih penting dari itu semua, tradisi kepenulisan mereka sungguh jauh melampaui tradisi menulis kaum Sunni. Oh, benarkah?
Saya tidak akan menjawabnya. Saya, di sini hanya ingin bergerundel—minimal, untuk diri saya sendiri. Betapa kita, para santri, terkadang lupa dengan dengan kata-kata yang begitu mengguncang itu: “al-ilmu shaid, wa al-kitabah qayyiduh: Ilmu bak binatang buruan, menulislah tali kekangnya!”
Mengapa Ali bicara begitu? Untuk menjawabnya, sederhana saja. Bukankah sunnah nabi; perilaku hidup uswatun hasanah kita, teladan-yang-tiada-cacat kita, juga ‘mengatakan’—lewat lakunya—kata-kata yang seperti itu? Bukankah setiap kali wahyu turun, nabi selalu memerintahkan shahabatnya untuk segera menuliskannya? Di lain waktu, ketika Islam semakin tersebar ke berbagai pelosok bumi, dan darah para syuhada menjadi tebusannya, Abu Bakar pun tergopoh-gopoh mengumpulkan para shahabat yang hapal al-Qur’an.
“Beribu-ribu hafidz telah syahid. Al-Qur’an harus segera dituliskan dalam satu jilidan!”
Di saat lain, ketika Islam telah menyebar ke penjuru arah, Utsman pun menelurkan proyek penggandaan al-Qur’an. “Satu Qur’an sebagai pedoman! Dan sebagai pedoman—yang abadi—ia harus tertuliskan.”
Maka bayangkanlah, bagaimana jika tali-tali kesombongan membelenggu kreativitas mereka untuk menuliskan al-Qur’an. Dapatkah al-Qur’an sampai pada kita? Dapatkah kita mencercap tetesan ilmu al-Qur’an tanpa mereguknya dari tali kekangnya yang berupa tulisan pada lembaran-lembaran mushaf?
Dan masih banyak lagi contoh tentang ‘binatang buruan’ dan ‘tali kekang’; tentang keabadian ilmu oleh sebab ‘ikatan’ tulisan. Telusurilah kodifikasi hadits; telitilah ilmu-ilmu agama, mulai dari fikih hingga tasawuf; renungkanlah tentang sejarah kehancuran peradaban Islam sesudah infansi Jengis Kan, sesudah buku-buku dibakar dan dijadikan jembatan sungai Jaldah. Tengoklah kemajuan negeri Barat setelah menguasai Andalus—yang sempat menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam—pada perang Salib, berikut memboyong buku-buku hasil karya para cerdik-cendekianya. Lihatlah Cina, yang peradabannya begitu ‘ngawu-ngawu’, karena tulisan-tulisan Konfusius, Lao-Tse, dan lain-lain yang harus dipelajari oleh anak-anak setingkat SD, meski ‘hanya’ dengan menyalinnya ulang di buku mereka.
Mengapa menulis menjadi kekang terhadap ilmu? Saya bukan seorang ahli psikologi. Namun, kiranya dapat dipertimbangkan sebuah logika sederhana. Konon, pikiran kita memiliki sistem yang begitu handal dengan tiga proses yang harus selalu bergulir. Yaitu, menangkap, menyimpan, dan mengeluarkan kembali. Jika ketiganya lancar, maka memori kita menjadi lancar. Ketika pikiranmu menangkap, kemudian menyimpan, namun tidak dikeluarkan, maka memori-memori akan bertumpuk dan bertumpuk, hingga akhirnya busuk. Lain jika dikeluarkan, misalnya dengan diskusi atau dengan menulis—apapun itu; buku harian, coret-coret di komputer, novel, resensi, dan lain-lain—pikiran kita pun bekerja dengan sempurna. Pikiran seakan me-refresh, mengingat kembali memori-memori yang sudah lama tertumpuk di dasar-dasarnya. Sehingga tidak heran jika mereka yang senang berdiskusi ataupun senang menulis, relatif memiliki pengetahuan yang lebih daripada mereka yang ‘hanya’ gemar membaca.
Nah, dalam kaitannya dengan budaya menulis santri ini, saya sangat menyambut gembira lahirnya Koran Nurma. Dulu, sempat ada Assibaq; ada Tilawah; ada Mas-Cot. Meski kemudian terbitnya berkala, artinya: ‘kala-kala terbit dan kala-kala tidak’, itu tidak mengapa. Bahkan kemudian, ketika mereka semua pada akhirnya ‘mati suri’, itu tak masalah. Jika kemudian muncul sebuah koran harian seperti Korma, tentu akan lebih menantang bagi dunia kepenulisan pesantren—Nurul Ummah khususnya—untuk terus berkreasi, dan tentu saja, untuk mengabadi.
Yang patut kita renungkan adalah masalah ‘bagaimana agar korma tidak terbit berkala’ seperti para pendahulunya. Konon, sekali terbit, Korma membutuhkan dana 20.000,-. Jika terbit setiap hari, maka sebulan harus mengeluarkan dana minimal 600.000,-. Tentu bukan jumlah yang sedikit di saat perekonomian nasional sedang lesu. Dan konon, dana sebesar itu—sampai saat ini—masih ditanggung oleh saku seorang santri. Di sini, semua warga pesantren tentu perlu berkreasi untuk mencari solusinya. Agar ‘ia tidak terbit berkala’; agar ‘idealita yang dibawanya menjadi nyata’; agar ‘dunia kepenulisan santri Nurul Ummah semakin menggelora dan bergairah’. Bagaimana tidak? Nurul Ummah sudah membikin ‘iri’ pondok-pondok lain dalam hal ‘kemajuan menulis’. Sederhana saja, di Matapena, sebuah komunitas santri-novelis yang selama ini saya geluti, ‘orang-orang Nurul Ummah’ selalu menjadi mayoritas.
“Di mana krapyak? Di mana Wahid Hasyim? Di mana…” begitu, suatu kali direktur LKiS berseloroh. “Wah, kalau begini aku nggak jadi mondokin anakku ke krapyak nih!” guraunya.
Ya-ya. Begitulah kibaran ‘nama besar’ Nurul Ummah dalam kancah kepenulisan. Tentu masih banyak contoh kibaran lain di luar ‘novel’, yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Karena itu, yang layak kita pikirkan berkaitan dengan terbitnya Korma, sekali lagi, adalah bagaimana agar ia menjadi tembang yang abadi. Agar ia tidak jadi mati di satu sisi, dan di sisi lain agar ‘saluran’ santri dalam menulis; dalam menembus ‘keabadian’ ini juga tidak mati. Mungkin dengan melibatkan alumni, misalnya, kita minta mereka dana langganan per-bulan untuk Korma, dengan kompensasi dikirimi bundel Korma tiap bulannya. Toh mereka butuh juga info tentang almamater mereka tercinta? Di sini, tentu kualitas Korma perlu ditingkatkan. Meski begitu, jangan sampai ‘peningkatan kualitas’ itu menjadi beban. Biarlah santri menulis apa adanya, enjoy, sehingga sejelek apapun, itulah kreativitas mereka; itulah proses mereka…
Ya, sekarang Koran Nurma genap berusia tujuh hari. Selayaknya bayi, KorMa pun perlu mengadakan Aqiqah, pesta potong rambut pertama kalinya. Mungkin, untuk KorMa, tidak perlu diadakan pesta. Yang lebih perlu, kiranya adalah bagaimana ‘memotong’ ego kita masing-masing, melebur dan bersatu, bersama-sama memikirkan bagaimana masa depan Korma. Tentu, demi meniru sunnah nabi yang menuliskan wahyu demi menjadi abadi; tentu, demi kata-kata Ali, demi ‘mengikat’ sedikit ilmu yang kita miliki. Tentu, demi mewujudkan weling Almaghfurllah, “… agar nurul ummah benar-benar dapat jadi cahaya penerang bagi ummat.” Semoga.
Wallahu a’lam.
Tuesday, January 15, 2008
Malam yang panas
sepotong bintang berkedip sendirian
Perlukah Edjaan Jang Disempoernaken?
Oleh Mahbub Jamaluddin
Hakikat
Apa sih sebenarnya EYD itu? EYD adalah tata-cara berbahasa-tulis yang baik. Mengapa perlu ada tata-cara dalam berbahas-tulis, sih. Bikin repot aja.
Begini, kawan-kawan. Sebenarnya bahasa lisan dan bahasa tulis itu nggak jauh beda, koq. Bahkan, pada hakekatnya bahasa tulis merupakan sebuah usaha untuk mengungkapkan bahasa lisan ke dalam bentuk tulisan. Jadi ketika seseorang membaca buku, misalnya, maka sebenarnya ia sedang bercakap-cakap dengan penulisnya. Hanya saja, karena percakapan itu tidak terjadi secara langsung, maka pembaca membutuhkan semacam kode-kode yang bisa membantunya memahami tulisan itu. Banyak alat-alat bahasa lisan yang sukar digambarkan dalam bahasa tulisan, seperti lagu, jeda, tinggi rendah suara, tekanan, dan lain sebagainya. Nah, di sinilah peran ejaan berbahasa dalam mengurangi kesalahpahaman pembaca ketika menghadapi sebuah tulisan.
Sebelum kita bicara jauh tentang eyd (maaf, sejak sekarang aku nggak memperhatikan besar-kecil huruf. Komputer ini lagi agak rewel. Jadi harap maklum), marilah kita semua merenung sejenak—menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Mari kita pikir lagi, apa sih sebenarnya tujuan menulis? Ini penting, mengingat faktor inilah yang akan menjadi titik-tolak pembicaraan kita tentang eyd!
Baiklah. Sebenarnya sangat beragam tujuan seseorang dalam menulis. Ada yang karena materi, ada yang karena ekspresi, ada yang demi dakwah, ada yang demi nama besar, dan ada pula yang karena membebek: ngikutin trend. Terlepas dari tujuan yang beraneka ragam itu, ada satu tujuan yang mengikat berbagai tujuan itu dalam satu simpul. Yakni, mereka menulis agar dibaca orang. Baik mereka yang memimpikan materi, mereka yang berusaha mengungkapkan ekspresi, mereka yang pengin berdakwah, atau yang pengin jadi seleb, semua membutuhkan faktor ini: karya mereka harus dibaca orang.
Nah, dari sini, kita bisa tahu bahwa pembaca adalah nomor satu bagi seorang penulis. Se-memusingkan apapun sebuah karya, ia membutuhkan orang yang bisa diajak berbagi untuk menikmatinya. Untuk menyerapi dan tenggelam dalam suguhan-suguhannya. Penulis ibaratnya seorang koki yang memasak tulisannya dengan bumbu-bumbu dan menyuguhkannya dengan hiasan-hiasan yang menggairahkan selera. Proses menyuguhkan inilah yang penting. Karena seenak apapun sebuah masakan, kalau wajahnya menjijikkan, siapakah yang mau nyentuh? Jangankan nyentuh dan nyicipin. Liat aja bisa muak atau bahkan mungkin muntah.
Demikian pula, penulis harus bisa menyuguhkan karyanya dengan baik. Apa suguhan seorang penulis? Bahasa. Ya, ba-ha-sa. Sekali lagi, b-a-h-a-s-a.
Seapik apapun karya kalian. Sebaik apapun kisah yang kalian angkat. Semenarik apapun tema yang kalian tuliskan. Jika bahasa kalian kacau acak-acakan, pembaca akan segera membuang bukumu begitu membaca kalimat pertama.
Memang, dalam proses penerbitan terdapat tahap ‘edit’ dimana sebuah naskah diobrak-abrik oleh seorang editor agar layak dilempar ke pasar pembaca. Tetapi hal ini seyogyanya tidak usah dipikirkan penulis. Urusan penulis yang terutama ialah menyiapkan karangan yang serapi-rapinya dan sebersih-bersihnya. Setidaknya agar pihak selektor-naskah dalam sebuah penerbit tidak mendapat kesan buruk terhadap tulisan yang kamu tawarkan.
Lalu apa yang musti dipelajari dari bahasa? Kaidah apa saja yang bisa kita hapalkan agar bisa membantu proses penulisan?
Tidak ada kaidah yang baku bagi seorang penulis. Bahkan banyak penulis yang tidak tahu teori tentang eyd dan teori-teori bahasa, meski mereka menggunakannya ketika mereka berkarya. Karena yang mereka butuhkan adalah praktek, bukan teori. Yang mereka lakukan hanya belajar dan rasa. Belajar dari karya-karya yang sudah ada, dengan membaca dan membaca. Lalu meresapinya dengan perasaan mereka—sedikit demi sedikit—hingga secara tidak sadar, bahasa tulis mereka pun terbangun dengan sendirinya. Tidak ada cara yang lebih murah dan efektif selain daripada cara ini. Karena menghapal teori-teori bahasa yang jumlahnya bejibun itu tidak akan banyak membantu kecuali hanya menghabiskan waktu saja.
Jadi, untuk mempertajam rasa-bahasa dan lebih khususnya rasa-eyd, kamu bisa menempuh cara dengan membaca berbagai macam karangan. Jika perlu, sediakan kamus untuk mencari kata-kata yang sulit dan ejaan-ejaan yang kurang kamu pahami. Lalu belajarlah dengan sering-sering mempraktekkannya.
Beberapa Keluhan Editor
Sebenarnya kesalahan dalam berbahasa adalah lumrah. Karena selain manusia memang mahallul-khotho’ wa nisyan, juga karena beberapa penerbit terkadang memiliki ejaannya sendiri. Meski demikian, terdapat kesalahan-kesalahan fatal yang perlu dihindari sehingga editor sebuah penerbit tidak mengeluh ketika menerima tulisanmu.
Nah, dari beberapa naskah yang sudah masuk ke redaksi Matapena, dan dari keluhan editor beberapa penebit, dapatlah aku menyimpulkan kesalahan-kesalahan parah dalam berbahasa yang biasanya diterjang oleh para pemula. Di antaranya adalah:
1. tanda petik dalam dialog
Kesalahan yang pertama inilah yang kerapkali membuat penerbit jadi pusing membaca tulisanmu. Karena ketika kamu tidak mengindahkannya, bentuk tulisan kamu jadi kacau. Belum membaca, melihatnya pun udah bikin enek dan gak sedep di mata.
Ketika menuliskan dialog, seyogyanya kamu membuatnya dalam paragrap baru. Lihatlah dan bandingkan dua contoh di bawah ini:
a. Topek hanya geleng kepala. Dan dialog pun terputus di depan kamar. Topek masuk dan Bayu yang melihat kelebat kang Kolid di depan kantor langsung menodong info. Dari lantai atas komplek A Bayu teriak. “kang Kolid! Aku mau bicara.” Kang Kolid yang baru keluar dari kantor Pondok menengok ke atas. Buru-buru Bayu menghampiri Kang Kholid. Ia turun tangga dan mendapati kang Kolid di depan komplek. “Ada apa? Pake teriak-teriak segala?” tanya kang Kolid penasaran. Dengan sedikit malu Bayu bertanya. “E, anu. Nanti malem ada undangan muqodaman ndak kang? Atu tahlilan, ato apalah?” Bayu nyengir. Kang Kolid senyum. “Aku tahu, lagi BD, ya?” “Apaan tuh BD?” Bayu bingung. “Butuh Duit!” Bayu hanya nyengir. “Ada ndak kang. Kalo ada aku diajak ya!” “Ada sih, tapi yang diundang anak-anak rebana.”Ah, Bayu agak lemes. Ah, lagi-lagi ia teringat Faisol. Seandainya dia ada, semuanya beres. Dia kan anggora grup rebana Al kariem. “Eh, tapi kayaknya ada lowongan kalo cuman satu orang. Kebetulan si Faisol kan sedang pulang tuh. Kalo kamu bisa main rebana, ikutan aja.”
b. “Kenapa sih Yu kamu demen banget baca majalah musik?” Topek tiba-tiba bertanya mengalihkan perhatian. Dan rupanya ia berhasil.
“Ceritanya panjang, Pek. Kita bahas nanti saja di kamar. Sekalian kamu tak kasih tahu rahasiaku.”
“Rahasia? Apaan tuh, Yu?” Topek malah dibikin penasaran sama Bayu.
“Ya nanti dong. Kalo tak omongin di sini entar ndak jadi rahasia lagi dong.”
“Masak? Ah, ya dah nanti aja kita bahas, kayaknya majalah ini bagus deh.” Topek mengambil sebuah majalah bergambar cewek cakep dengan dada telanjang. Maksudnya setengah telanjang. “Masyaallah…” bisik Topek dalam hati sambil tak henti-henti memandangi majalah itu. “Ini harusnya kena UU APP, Yu,”
“UU APP? Matamu melotot gitu? Nonsens!” Bayu protes. Lalu dengan sigap meraih dan memainkan gitar yang tergeletak di kursi panjang dari Bambu. Dulu gitar itu milik Jori, tapi sekarang milik Solekan. Bayu membuka majalah musik dan mulai mendendangkan sebuah lagu milik Dewa. ‘Sang pangeran cinta’.
2. tanya dan seru
Tanda tanya dan tanda seru tidak perlu dibubuhi dengan titik, dan hendaknya cukup menggunakan satu tanda seru atau tanda tanya saja. Contoh:
- Apakah kamu sudah makan siang?
- Pergi!
Contoh yang salah dan keliru:
- Apakah kamu sudah makan siang?.
- Pergi!.
- Pergi!!!!!!
- Masyaallah!?!?
3. titik dan koma
Titik dan koma seharusnya digandeng dengan kalimatnya. Contoh:
- Saya pergi mampir ke rumah Cintia, ngobrol sebentar, dan kemudian pergi ke sekolah.
Contoh yang keliru:
- Saya mampir ke rumah Cintia , ngobrol sebentar , dan kemudian pergi ke sekolah .
Selain itu, membubuhkan tanda koma hendaknya juga seefektif mungkin. Sehemat-hematnya. Karena sebagaimana tanda baca yang lain, koma hanyalah merupakan alat bantu saja. Menampilkan terlalu banyak alat bantu hanya akan menghambat kelancaraan pembaca dalam menikmati tulisanmu.
Contoh:
- Bagaimanapun, seorang santri harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan juga berakhlak mulia.
Contoh yang nggak baik:
- Bagaimanapun, seorang santri, harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan juga, berakhlak mulia.
4. di+tempat dan di+kerja
Ini juga masalah yang akut. Meski tidak terlalu mencolok, tetapi bisa membuat editor risih. Kata depan ‘di’ harus dipisah ketika bertemu dengan kata benda. Contohnya, di rumah, di pasar, di sekolah, di pesantren, dan lain-lain. Sedangkan ketika kata depan ‘di’ bertemu dengan kata kerja, maka ia harus digandeng. Contohnya, dimakan, ditempeleng, digerakkan, dibenahi, dan lain-lain.
5. kpts
Kesalahan kategori kelima ini nggak begitu fatal. Di sini aku hanya ingin mengingatkan aja, mengingat banyak orang yang keliru dalam menggunakannya. Setiap kata dasar yang berawalan k, p, t, s, ketika bertemu dengan awalan me, maka huruf-huruf itu menjadi luntur alias hilang.
Contoh:
Percaya+ me-i à memercayai, bukan mempercayai
Posisi+me-kan à memosisikan, bukan memposisikan
Kawin+ me-kan à mengawinkan, bukan mengkawinkan
Sapu+ me à menyapu, bukan mensapu
Terima+ me à menerima, bukan menterima
Adapun yang bukan kata dasar, seperti kata jadian dan kata bentukan, yang berawalan k-p-t-s, jika bertemu dengan awalan me, hukumnya tetap.
Seperti: pertaruhan+ me-kan à mempertaruhkan, bukan memertaruhkan; pertanggungjawaban+me-kanà mempertanggungjawabkan, bukan memertanggungjawabkan. Dan lain-lain.
· Beberapa Polesan
Biar bahasa tulisan kalian tambah menarik, hendaknya kalian juga memerhatikan kaidah-kaidah—yang meskipun hukumnya cuma ‘sunat’ tetapi perlu diingat-ingat. Beberapa kaidah itu:
1. kalimat panjang dan kalimat pendek
Kalimat yang terlalu panjang akan membuat pembaca pusing. Sedangkan kalimat yang pendek-pendek terus, akan membuat tulisan terasa tidak utuh dan terputus-putus. Keduanya sebaiknya digunakan dengan berselang-seling.
Contoh penggunaan kalimat-kalimat pendek:
Satu hal selesai yang lain datang mengguncang. Ini bukan persoalan sepele. Ini persoalan mengerikan. Romo kyai memecat aku. Sebenarnya sih aku belum tahu secara pasti. Tapi begitulah. Aku tidak dipanggil lagi. Dicuekkin.
Contoh penggunaan kalimat-kalimat panjang:
Ketika malam menjadi gulita dan burung-burung kembali ke sarangnya, aku sendirian terpekur di kamar khodam. Beberapa hari ini, sebuah permasalahan yang mengerikan—setidaknya menurutku—begitu menguasai seluruh hidupku, membelenggu pikiran, dan mengisi lamunan-lamunanku. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu pasti apakah kyai telah memecatku atau belum, mengingat belum ada surat pe-ha-ka yang sampai kepadaku. Tetapi gelagat yang kutangkap dari sikap, tatapan mata, dan keacuhan kyai ketika aku menghadap, dan juga karena aku tidak pernah dipanggil lagi oleh kyai, aku menemukan sesuatu yang tersirat bahwa aku telah dipecat!
Contoh penggunaan variasi antara kalimat pendek dan panjang:
Satu permasalahan telah selesai. Sedangkan yang lain datang mengguncang. Ini bukan persoalan sepele. Ini persoalan mengerikan. Romo kyai memecat aku. Sebenarnya sih aku belum tahu secara pasti. Tapi dari gelagat bahwa aku tak pernah disuruh-suruh lagi, aku jadi berkesimpulan bahwa yang dimaksud beliau kurang lebih demikian. Aku benar-benar di PeHaKa.
2. kadar paragrap
Membikin paragrap sebaiknya tidak terlalu panjang. Karena hal itu bisa membuat pembaca bosan. Sebenarnya tidak ada aturan seberapa panjang sebuah paragrap mau dituliskan. Tetapi sebaiknya, jangan lebih dari sepuluh baris. Karena di atas jumlah itu, tulisan akan terkesan kurang nyaman dan membikin pembaca kelelahan.
3. efektif dalam menggunakan kata
Gunakanlah kata dengan seefektif mungkin. Jika nggak perlu, nggak perlu nggak usah ditampilkan. Jangan sering mengulang kata-kata yang sama dalam satu pragrap. Karena itu bikin risih dan monoton. Misalnya:
Lelaki itu datang ke rumah bercat hijau itu. Kemudian lelaki itu pergi lagi beberapa saat kemudian. Di ujung jalan, ia bertemu dengan penunggang kuda itu. Dan buru-buru ia melengos, mencari pemandangan lain agar matanya tidak bertemu dengan mata penunggang kuda itu. Melihat hal itu, penunggang kuda itu pun tampak sangat marah. Ia tahu, semua itu terjadi karena permasalahan yang itu-itu juga. Penunggang kuda itu pun memaki, “Hai! Keparat!”
Lelaki itu segera lari mendengar teriakan itu. Terbirit-birit meninggalkan penunggang kuda itu.
Aku kira udah cukup. Kalau semua dibeberkan di sini, tidak butuh sepuluh lembar untuk menuliskannya. Yang diperlukan kalian adalah jam terbang dalam membaca dan menulis. Jika jam terbang kalian tinggi, bahasa tulis kalian pasti akan lebih baik. Nah, selamat berjuang!
MENULIS ITU GAMPANG!
MENULIS ITU GAMPANG!
BAGAIMANA DENGAN "MENJADI PENULIS"?[1]
Oleh Mahbub Jamaluddin
1. Pengantar
Ada fenomena yang asyik dari dunia kepenulisan di tanah air. Bagaimana nggak asyik, jika tiba-tiba saja muncul banyak sekali buku dalam setiap bulannya, dengan variasi judul dan bermacam-macam tema? Begitu juga di surat kabar, banyak sekali nama-nama baru yang muncul mengemuka sebagai seorang pengarang baru. Para artis dan selebritis berlomba-lomba menerbitkan novel. Para pejabat meluncurkan biografi. Tak ketinggalan, para 'penjahat' pun ikut-ikut melauncing 'buku putih' mereka. Fenomena ini, mungkin merupakan salah satu pertanda bahwa gairah kepenulisan, sedang menanjak di tanah air kita ini.
Lalu bagaimana dengan santri? Apakah masih akan tetap adem-ayem di antara kamar-kamar dan tembok-tembok pesantren? Apakah tetap setia dengan hanya bertahan dalam "benteng moral terakhir" negara ini? Padahal di luar gerbang pesantren, trend dan kebudayaan global bergasingan. Berputar-putar menerpa apa saja: mulai dari gaya hidup hingga keyakinan?
Saya seorang penggemar sepakbola. Di sini, saya ingin bercerita tentang sebuah pertandingan yang fenomenal dan sampai saat ini masih terngiang terus. Padahal pertandingan itu terjadi beberapa tahun yang lalu (Kayaknya, Liga Champion 2001). Pertandingan itu adalah antara Manscheter United (MU) dan Bayern Munchen.
Waktu itu MU sudah ketinggalan 2-0. Hingga pertengahan babak kedua, tidak ada satu goal pun yang tercipta untuk MU, meski telah melakukan serangan yang bertubi-tubi (dan hampir membabi-buta). Pertahanan Bayern Munchen teramat kokoh untuk ditembus. Pelatih Bayern Munchen menginstruksikan para pemainnya untuk bertahan total. Maklum, sudah unggul dua-kosong!
Saya melihat Beckam, Garry Neville, dan Roy Keane hampir putus asa. Namun pada detik-detik terakhir babak kedua, kegigihan mereka bisa menyarangkan satu goal. Lalu satu goal lagi. Dan pada injuri time, satu goal lagi. Kedudukan menjadi 3-2 untuk MU. Dalam tiga menit, tercipta tiga goal. Sebuah rekor dalam sejarah sepakbola internasional.
Mengapa bisa Bayern Munchen justru berbalik kalah?
Para pengamat sepakbola mengatakan karena mereka bertahan. Masih kata mereka, sekuat apapun pertahanan, kalau digempur terus-menerus, tinggal menunggu waktu saja untuk kebobolan. Tinggal menunggu momentum untuk roboh dan hancur.
Kisah ini, mengingatkan saya kepada fenomena pesantren yang sering digembor-gemborkan para kyai sebagai "benteng pertahanan terakhir akhlak bangsa". Saya jadi berpikir, kalau Bayern Munchen yang sudah unggul saja bisa berbalik kalah karena serangan bertubi-tubi tersebut, bagaimana dengan pesantren, yang dalam beberapa hal sudah jauh tertinggal? Apakah hanya akan bertahan saja, dihempas globalisasi, diterpa westernisasi-budaya yang hingar-bingar di luar pesantren?
Jawabannya, tentu tidak. Mengapa?
Karena anda berani membaca makalah ini. Karena anda hadir dalam majlis yang—Insya Allah—mubarok ini!
Kembali ke awal tulisan ini, bahwa fenomena kepenulisan sedang bangkit di negeri ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa tulisan-tulisan tersebut, tentu saja membawa serta unsur-unsur budaya dari si penulis. Mereka yang telah terpengaruhi oleh baratisasi, tentu saja akan menelorkan tulisan-tulisan yang tidak jauh-jauh dari budaya tersebut. Maka jangan heran jika opini masyarakat berubah menjadi baratisme. Dulu pacaran adalah tabu, tapi sekarang masyarakat menganggap lucu seseorang yang tidak memiliki pacar. Dulu orang tua ketar-ketir jika anak gadisnya dibawa seorang lelaki, sekarang orang tua menjadi bangga: 'Ahay, anak gadisku telah laku!'
Di sinilah peran santri, untuk meluruskan kembali sejarah. Meluruskan peradaban yang salah jalan. Melalui kerja-kerja kecil yang berkesinambungan: melalui usaha-usaha yang meski lambat namun pasti.
Mengapa saya optimis?
Karena santri memiliki syarat-syarat untuk menjadi kader peradaban. Mereka memiliki moral tinggi. Mereka memiliki keotentikan peradaban yang cukup jauh dari sentuhan propaganda baratisasi. Mereka memiliki keunikan dan pemikiran yang kadang nakal, tetapi kreatif. Mereka memiliki kultural yang khas dan eksotis. Dan di atas semua itu, para santri memiliki segudang ilmu yang—bukan sekedar ilmu-wacana—tetapi lebih pada ilmu-laku. Ilmu empiris-aplikatif.
Potensi-potensi santri tersebut akan sangat mengagumkan jika digali dan dikembangkan. Karena keunggulan tersebut sangatlah jauh jika dibanding dengan kekurangan yang dimiliki santri. Apa itu kekurangan santri?
Saya melihat, hanya satu yang menjadi kendala utama: minder. Tidak percaya diri.
Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita bersama untuk menggusur rasa minder itu dari jiwa santri. Sudah saatnya santri tidak malu lagi memakai sarung dan peci. Sudah waktunya santri bangkit: dengan percaya diri memberi warna terhadap masyarakatnya. Terhadap bangsanya.
Salah satu caranya adalah dengan mencetak kader-kader penulis dari pesantren.
2. Mental Seorang Penulis
Adalah mudah untuk menuliskan sebuah karya. Kita tinggal memetik sebuah ide dari berjubel-jubel gagasan di kepala, lalu duduk, mengambil pena dan kertas. Kemudian menggerakkan tangan dan pikiran. Maka jadilah sebuah tulisan. Sehingga banyaklah para pengarang yang mengatakan bahwa menulis itu memang mudah. Bahkan Arsewendo Atmowiloto menyusun sebuah buku panduan menulis dengan judul "Mengarang Itu Gampang".
Ya. Menulis memang mudah. Namun untuk menjadi seorang penulis, perlu beberapa pra-syarat yang harus dipenuhi.
1. Kerja Keras dan Pantang Menyerah
Saya terkagum-kagum ketika mendengar berita di radio—saya tak punya televisi—bahwa dari berapa kursi lowongan Pegawai Negeri Sipil, yang mendaftar ternyata sekian juta orang. Mereka, para pelamar itu, yang rata-rata sarjana, rela antri berjam-jam di masing-masing kabupaten hanya untuk mengisi formulir dan memperebutkan segelintir kursi Pegawai Negeri. Saya jadi heran. Mengapa mereka begitu berminat? Bukankah gaji PNS kecil? Dan bukankah—meskipun kadang dinaikkan—gajinya selalu saja pas-pasan dengan kebutuhan rumah tangga?
Ada yang mengatakan bahwa jadi PNS itu enak. Kerja ringan, gaji pasti. Ongkang-ongkang pun masih bayaran. Setelah pensiun, masih dapat pensiunan, lagi!
Di lain hari, saya bertemu seorang pekerja kasar di tepi jalan. Pekerja itu sedang membikin selokan. Ia duduk istirahat, dan saya yang kebetulan mengenalnya, diajaknya berbincang-bincang. Ia bercerita perjalanan hidupnya. Suka-dukanya hidup di perantauan. Nostalgia kampung halaman. Dan sebagainya. Perbincangan kami mencapai klimaks ketika tiba-tiba ia menghentikan percakapan, dan dengan wajah yang terburu-buru, mengambil cangkulnya, lalu bekerja kembali dengan semangatnya. Saya sempat kecewa karena ditinggal begitu saja. Tapi, selidik punya selidik, ternyata teman saya itu melihat sang mandor datang dari kejauhan.
Nah. Untuk menjadi penulis, anda harus menata mental. Membuang jauh-jauh mentalitas pegawai dan buruh. Seorang penulis tidak pernah bersandar pada pihak lain. Pada majikan, mandor, negara. Tidak. Seorang penulis harus jadi pekerja, mandor dan sekaligus majikan bagi dirinya sendiri. Karena ia harus terus berproses—menulis dan terus menulis—meski tidak ada yang mengawasi. Meski tulisannya belum diakui.
Jika anda berketetapan untuk menjadi penulis, anda harus bekerja keras. Pantang mundur. Berkarya dan terus berkarya meski aral melintang di depan mata. Tanpa itu, anda hanya akan tenggelam dalam angan-angan saja. Tenggelam dalam mimpi. Karena seorang penulis dihargai dari hasil karya-nya. Dari tulisan-tulisannya.
"Seorang dokter boleh bekerja di rumah sakit atau membuka praktek sendiri, apabila ia punya ijazah di kantongnya. Tidak demikian dengan pengarang. Tidak ada universitas yang dapat memberikan ijazah pengarang kepadanya."[2] Kecuali satu universitas saja: universitas kerja keras dan pantang menyerah.
2. Disiplin
Yang dimaksud disiplin di sini adalah disiplin dalam segala bidang. Seorang penulis harus mau belajar dan terus belajar. Banyak membaca, baik buku maupun tanda-tanda. Belajar dari mana saja. Karakter orang ia pelajari. Lukisan alam, ia perhatikan. Pergaulan masyarakat, sifat-sifat manusia, gaya bicara, gerakan tubuh, tingkah-laku hewan, bentuk dan gestur tumbuhan. Semuanya. Segalanya.
Ia harus menimba ilmu dari mana saja. Dari siapa saja. Ia harus membuka lebar-lebar semua panca inderanya.
Ia harus berpikir kreatif. Menjadi anak kecil kembali, yang selalu bertanya-tanya dengan herannya hal-hal yang sudah dianggap lumrah: mengapa ini demikian? Apakah tidak seyogyanya jika demikian? Mengapa daun ini berwarna hijau, dan yang itu berwarna kuning? Bagaimana bisa sebuah lampu menyala hanya karena disambung dengan sebuah kabel? Apakah dalam kabel tersebut terdapat api yang menjalar menuju lampu? Atau dalam kabel itu ada minyak tanah, sehingga kita tinggal menyulutnya? Mengapa ada istilah daun pintu, sementara tidak ada batang-pintu dan buah-pintu?
Pendeknya, seorang penulis harus tak bosan-bosan menangkap data. Mereguk pengalaman. Mengamati fenomena. Lalu diolahnya dalam alam pikirnya. Ditadaburrinya dengan akal-budhi-nya. Dan setelah itu (atau bersamaan dengan itu), tak bosan-bosan menuliskannya. Mengoreksi tulisannya. Merevisi. Meminta pendapat orang lain. Merevisi lagi. Menuliskannya lagi.
Setelah selesai itu semua, ia masih harus menulis tema lain, membaca karya-karya orang lain, menulis lagi, membaca lagi, mengambil ilmu dari percakapan, mencatat ide-ide yang melintas…. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Begitu terus tak bosan-bosannya.
Tentu saja prasyarat itu hanya untuk anda yang benar-benar ingin menjadi penulis. Yang memiliki tekad kuat dan motivasi kokoh untuk berproses menjadi penulis yang benar-benar. Bagi yang hanya ikut-ikutan? Tempat anda bukan di sini. Karena dunia penulis adalah sebuah dunia di mana seseorang diakui hanya dari karyanya, hasil kerjanya. Digaji dan dihormati dari cucuran keringatnya. Bukan karena ia terdaftar sebagai pegawai di institusi anu. Bukan karena ia membenalu dalam perusahaan inu. Bukan karena ia mampu menyenangkan atasan ini dan mandor itu.
Bagaimana, anda takut?
Beberapa bulan yang lalu saya telah mengompori anda. Saya telah bercerita panjang lebar keunggulan-keunggulan menjadi penulis. Kepuasan tatkala menyelesaikan sebuah karya. Kedamaian jiwa, dan 'sedikit' iming-iming materi.
Sekarang, saya ingin katakan, bahwa semua itu tidak dicapai hanya dengan ongkang-ongkang. Tidak dengan D3: datang-duduk-duit. Sekali-sekali tidak. Segala kebesaran dan kesuksesan tidak ditempuh dengan berleha-leha. Bukan hanya penulis. Pengusaha, bisnisman, petani, pedagang, jika ingin sukses, juga membutuhkan usaha keras. Harus dibayar dengan keringat dan cucuran air-mata.
Sekarang. Saat ini. Tanyakan kembali kepada diri anda sendiri. Apakah anda sanggup? Jika anda yakin akan menjadi orang besar, anda akan mengangguk. Tapi jika anda bermental kuli, jika Anda ingin hidup Anda biasa-biasa saja: asal hidup sambil menunggu mati, silahkan mundur dengan teratur.
Nah, bagaimana? Lanjut?
Semoga sedikit coretan ini berguna dan bermanfaat. Fiddunya wal akhirat. Amiin!
Yogyakarta, Akhir Nopember 2006
Malam yang panas
Seonggok bintang berkelip sendirian