Showing posts with label celoteh. Show all posts
Showing posts with label celoteh. Show all posts

Belajar Nulis Sambil Ketawa

Hari-hari ke depan akan penuh kesibukan. Nyebar undangan, nyebar proposal, nyebar spanduk, menyempurnakan format acara,dan segala tetak bengek kepanitiaan. But, sesungging senyum akan tetap menghiasi. Yup! Sebab suka-cita bersama kawan-kawan yanga makin asyik aja. Tugas-tugas diatas kita bagi sama-sama. Jadi ringan dan penuh canda.

Hmm, ini adalah acara yang kedua setelah pada liburan semester kemarin sukses menggelarnya di Kaliopak. Seakarang, tempat acara ada di PP Sunan Pandanaran; tempat yang sejuk-sejuk empuk di kaki merapi sana. Seperti kemarin pula, acara tetap diberi judul yang sama: "Liburan Sastra di Pesantren (LSdP)". Hanya, sastrawan yang mengisi agak berbeda. Kang Tohari yang kemarin ngisi, sekarang mungkin akan digantikan Kang Acep ZAMzam Noor. Pak Dhe Zawawi Imron yang berorasi budaya pada LSDP 1, rencananya digeseer oleh Goenawan Mohammad. Joni Ariadinata, tetap kita pilih untuk ngisi materi bercerpen. Bedanya, LSdP II ini juga mengundang Agus Noor dan Langit Kresna Haryadi (keduanya masih terus kita coba hubungi... ihh.. sibuk sekali mereka ya? sulit sih dihub..)

Kayaknya, LSdP II kali ini akan jadi ramai. Selain panitia sudah pernah menyelenggaran acara yang sama (sehingga tidak canggung lagi), juga karena orang-orang yang diundang itu. Sastrawan-sastrawan kaliber nasional, bung! Dedengkot-dedengkot sastra kontemporer! Siapa sih yang gak mao datang? Aku juga pengen banget ketemu Goenawan Mohammad, salah satu idolaku. Pengen ngobrol tentang caping-nya. tentang proses kreatifnya. dll. juga berdiskusi dan saling mengkritisi ide-ide masing2. Mengidolakan seseorang, bukan berarti membebek pada idenya kan?

Ah, semoga dia bisa datang. Semoga aku dapat berpose bersama Goenawan.. hehe. Yang jelas, minggu-minggu ini kita harus banting tulang. Kata Iwan Fals, "Harus ada yang harus dikerjakan agar kehidupan berjalan wajar."

DARI LASKAR PELANGI HINGGA MARYAMAH KARPOV

Benarkah kata-kata Andrea si Ikal ketika dia menyatakan bahwa Maryamah Karpov direncanakan sebagai karya terakhirnya? Ah, sungguh aku tak yakin itu. Kecuali Andrea akan jadi psikopat yang solopok. sebab, berhenti berkarya berarti mati. Berhenti menulis, jiwa seorang penulis akan kosong dan terombang-ambing dalam kehampaan tiada ujung. Berhenti menggoreskan pena, berhenti menorehkan kata-kata, tidak lain adalah innalillahi yang datang prematur. Kirimkan kiriman bunga kawan! Gelar tahlil dan Yasin bagi Andrea yang telah mengumumkan kematiannya sendiri!!
Aku yakin, Andrea tidak mungkin bisa lepas dari 'menulis'. Menulis adalah candu, yang sekali saja kau tak mengisapnya, dadamu mengehentak-hentak, jantungmu berguntur gemuruh, dan nafasmu tersumbat. Sakau. Seorang penulis yang lama tak menulis akan gila, dan bisa-bisa memutuskan untuk membenturkan kepalanya ke tembok rumahnya!

Ai, ai, atau ada sesuatu yang lain dari pernyataan si Ikal Laskar Pelangi itu? Em, baiklah. Mungkinkah Andrea takut? Mungkinkah orang se-"bebal" Ikal memiliki jiwa pengecut? Analisanya begini. Tulisan pertamanya, Laskar Pelangi, sudah membikin geger seluruh negeri. SUkses besar. Lalu, Andrea takut jika menulis lagi karyanya akan jelek sehingga menjatuhkan 'martabat'nya sebagai penggebrak sastra indonesia? Atau katakanlah, Andrea hanya ingin happy ending?

Kalau memang begitu, sungguh dia pengecut yang punya ambisi besar...

Atau jangan-jangan, Tetralogi Laskar Pelangi bukan tulisanmu sendiri, Bung Andrea? Ada seorang Ghost-Writer yang berada di balikmu?

Ai, ai... kok jadi suuzhon begini? Ai, ai! Maafkan aku jika terlalu menyudutkanmu.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa engkau telah basah, Bung Andrea! Mandi sekalianlah! Karya-karyamu yang lain ditunggu penggemarmu! Kalau kau mundur... maka (mengancam nih) kau... kau...

Ah, tapi itu hak kau. Kau mau mati, kau mau bunuh diri, itu hak kau. Terserah kau lah. Semoga Tuhan memberimu Hidayah... :)

Tentang Hari Ini dan Kambing-Kambing Sang Guru

Sekitar jam 3 baru tidur, terbangun pukul nam. Duh, gak dapet subuh lagi, neh. Aku jadi teringat mimpi kemarin, mimpi yang pernah merasuk ke dalam memori--setelah bertahuntahun tak ingat mimpi-mimpiku sesudah terjagaku.
Aku punya kambing. Entah darimana asalnya, tiba2 sang guru datang, berdehem2 dengna membawa kambing2nya sendiri yang gemuk2 habis. Aku terpana, seperti ada sesuatu rahasia yang tersimpan dalam cara jalan mereka, kambing-kambing itu. Adakah mereka disuntik gemuk sehingga tubuhnya menggelembung?
Belum sempat kujawab pertanyaan dalam hatiku, mimpi itu berkelebat. Sang Guru berkepala botak itu terlihat sedang membawa rumput2, meletakkannya di tempat makan kambing2nya di dekat kandang. Kambing2 itu pun menggerus, mengunyah dengan lahap.
"Makanin kambing yang serius, yang istiqomah. Minimal lima kali sehari, biar nggak kurus. Lha kamu, dua kali sehari. Ya kambiingmu kurus2!" kata Sang Guru tiba-tiba, seakan mengarahkannya kepadaku.
Lalu, pleszart! tak ada lagi mimpi yang tercover memori... aku bangun, saat subuhku hilang...

Hm, ya, aku jadi teringat mimpi itu. Aku buka rahasia tafsir mimpi; Ah, benarkah hewan pemakan rumput ataupun herbivora melambangkan rohani? jika demikian, sang guru sedang bicara tentang rohani kemarin malam--dalam mimpiku itu? berbicara tentang shalat dan rumput2 penyegar jiwa?

allahummahdina!!

Terlelaplah Kawan, Di Buaian Shalawat

August 11, 2008
Kusenandungkan shalawat, dan engkau tampaknya merasakan tenang teramat sangat. Ah, kau tentu ingat kawan, di masa engkau berada di pangkuan. Shalawat yang kukirim beserta goyangan-goyangan itu, membuatmu mengatupkan mata; mengirimkan angin sorga yang mengajakmu bermain-main dalam alam kantuk.
Kawan, kemarin. Dan kemarinnya lagi. Aku pulang. Dan tak sempat. Sungguh tak sempat, aku senandungkan shalawat. Tak seperti tadi. Pagi tadi, sebelum kita berpisah, kawan, aku teringat kakakmu dulu, pernah tertidur di himpitan dua tanganku, dengan shalawat…


Allahulkafi rabbunalkafi qasadnalkafi wajadnal kafi
Likulli kafi kafaanalkafi wani’mal kafi alhamdulillah…
Mugi-mugio den sembadani panyuwun kulo dateng ilahi
Kawulo nyuwun husnul khotimah saged ngibadah kang istiqomah..

Dan tiba-tiba, engkau sudah tertidur..

Novel Harian XXX: Gila

Monday, July 28, 2008
28-Jul-08

Tiba-tiba aku punya ide. Ide gila. Gila? tapi nggak juga. Sebab, gila dan nggak gila kan bukan hal yang kadang dapat dibedakan dengan nyata?


Begini, saudaraku, aku punya ide bikin novel harian. Judul belum ada. Cerita juga belum ada. Tapi keinginan sudah ada. Aku pengin ngisi blogku dengan novel ini. Putus-putus. Mungkin ceritanya juga mbloncat-meloncat. Tapi tak mengapa. Biarkan dia, tokoh-tokohnya menemukan ceritanya sendiri.

Tapi untuk faktor keamanan, biarlah aku pertama menulisnya di Catatan Harian Novel sendiri. Setelah di tulis di cathar, barulah dikopi ke blog. Ya nggak??


OK, para hadiriin… dengarkanlah, dengan bacaan basmallah bersama, marilah kita buka dan kita resmikan novel harian di blog ini…
Satu, dua, tiga…. “Bismillah!!!!”

(Dan seluruh alam, seluruh jagad, seluruh dunia, mengucapkan kata yang sama. Sejak itu, mereka, segeap manusia dari segenap alam, dari sepenjuru jagad, dari sepelosok dunia, dari pucuk-pucukufuk, senantiasa menunggu cerita di blog-ku… ya, mereka menunggu. Dan aku tak ingin mengecewakan mereka…. Inilah novelku… novel blog tepatnya…)

Jul. 28, 08
11:36
Pertama, siapakah yang akan menjadi tokohnya? Inilah permasalahan pertama. Tapi, karena aku tidak ingin pusing-pusing, biarlah aku menjadi tokoh utamanya. Bukannya narsis, tapi emang demi keamanan saja. Kalau temanku kucomot menjadi tokoh utama kan nggak lucu. Nanti dia marah-marah, bisa berabe…

Kedua, bagaimana alur ceritanya? Ohoy! Ini bukan masalah bung… biarlah mereka menemukan ceritanya sendiri. Toh, misalnya alur cerita kubeberkan di sini, buat apa aku tulis lagi nanti menjadi novel? Kalau alur cerita sudah kusebutkan di depan ini, siapa yang akan masih dengan setia menyimpan rasa penasaran mereka? Hohoy! Jangan tergesa membuka misteri… alur cerita itu, biarlah ditangkap bersama waktu, sekejap, sekejap…

Tiba-tiba, ada temanku bertanya; ini novel remaja atau novel orang tua? Maksudnya, ini novel gaul atau novel dewasa? Maksudnya, ini novel ada buka-buka baju dan adegan ranjang, atau cuman adegan pacaran? Maksudnya, ini novel mau vulgar, atau sopan, atau sedikit sopan tapi munafik?

Aku tidak bisa menjawabnya. Tergantung nanti, kau sebut apa novelku ini. Apa novel dewasa atau remaja, atau bahkan kanak-kanak….

Temanku bertanya lagi, “Aku hanya ingin tahu, apakah ada making love dalam novelmu, seperti novel-novel terbaru selama ini?”

Aku tersenyum. Tentu saja ada. Making Love atau bercinta, atau bersetubuh, atau bersenggama, tiada lain adalah hasrat hidup umat manusia, sebagaimana makan, minum, tidur, mandi, dlll. Tentu saja tokoh-tokohku juga nanti melakukan itu. Tentu saja, sebab mereka juga ingin abadi. Mereka harus menciptakan keturunan untuk melanjutkan cita-cita mereka.. hanya saja, nggak fair rasanya jika aku memotret peristiwa ‘making love’ dari tokoh-tokohku… bukannya apa-apa. Sebagai sutradara atas tokoh-tokohku, tentu Aku emang liat ketika tokohku melakukan itu. Tapi biarlah itu kunikmati sendiri.. biarlah aku sendiri yang tersiksa karena syahwat yang tiba-tiba bergolak ketika tokoh-tokohku melakukan senggama di kamar mereka—sedangkan aku melihatnya…. Nggak fair, jika kegiatan tabu itu kubeberkan ke pembaca. Sebab, berarti aku menularkan gelegak syahwatku itu kepada pembaca. Artinya, aku menularkan penyakit kepada pembaca. Artinya, aku… pengecut: sebab aku tidak bisa memendam rasa dan nafsuku, lalu melemparkannya kepada pembaca.
So, jangan harap ada ML… (Entah nanti, jika aku mabuk….)

Kawanku tersenyum. Lalu pergi…

Zemgra-Gurdthdut

Rabu, 25 juni 08

Kami membagi-bagikannya. Sama rata. Tak ada satu pun yang lebih barang setegukan. Tiada. Gurun ini terlalu tandus untuk diarungi dengan dada yang panas dan tenggorokan yang menggerogok.
“Berikan aku kesekian tegukan, kekasih...”
Tapi tak ada jawab. Hanya senggukan airmata. Sebagai tanda. Sebagai makna. Hausku. Dahagaku. Gelegak jiwaku. Tak tersentuh mataair cinta.
“Kuda-kudaku sudah kupacu. Kemalasan sudah kupaku. Semangat dan gelora syahwat sudah kurayu. Kurang apalagi?”
Kami, aku dan para kekasihku, sejak bertahun-tahun yang lalu tak pernah berhenti mengejar mimpi-mimpi. Menciptakan mentari, gerimis, dan warna-warni pelangi. Itulah mengapa kami harus menempuh gurun ini. Pelangi, tentu lebih indah dan merangsang imaji jika dicipta gurun yang menciptakan cahaya dari pantulan gunung-gunung pasir; dari uapan oase-oase; dari keringat para pelancong dan kembara yang kering diterbangkan angin...
“Berikan aku kesekian tegukan, kekasih...”
Onta-onta yang membayang di kejauhan, yang bayangan hitamnya dijulurkan mentari menjelang ghurub-nya, terlihat mengangguk-angguk, menahan beban di punggung dan punuk. Kami bergerak. Menyeruak. Menampik semua gelegak dan kering di ujung telak.
“Kita harus kejar mimpi itu, Kekasih. Sebentar lagi malam. Ku tak mau ia terbang sementara kita hanya duduk dan bungkam!”


Kamis, 26 Juni 2008
10:09
Aku di sini karena cinta, kekasih. Tak ada lain. Dengarkah engkau gemeretak tulang-tulang kerinduan yang berpacu bersama jantungku?
Sebelum hari ini, burung-burung memang tak pernah bersuara merdu. Tetapi maafkanlah kekhilafan para burung! Mereka suka terbang ke sana ke mari, dan siapa tahu, karenanya mereka bosan atau terpengaruh suatu apa. Lunturkan dan ampuni dosa para burung, kekasih. Mereka yang punya sayap, memang suka terbang dan hinggap.
Aku di sini, kembali datang. Melempar secercah tabik dan sujud kegalauan. Tasbih dan tahmid tak putus-putus pula. Masihkah engkau marah kepadaku?
Oh, kasih. Murkamu, sungguh lebih ku suka. Asal kau tak berduka; asal kau tak berairmata atau bersumpah tak pernah mengenalku selamanya.
Kasih, jika engkau ingin menjadi kecipak lautan, biarlah aku menjadi ikan-ikan yang berloncatan. Jika engkau ingin menjelma angin samudra, biarlah ku camar-camar yang diterbang-tamparnya. Jika engkau kembali ke darat, lalu hendak menjadi debu-debu kemarau, biarkan aku menjadi jalan, rumah, dan bangunan-bangunan yang menangkap engkau. Oh, biarkan aku memujamu. Setiap waktu. Setiap hembus paru dan detak jantungku.
Semalam, aku bermimpi—ah, bukan bermimpi; tepatnya, aku memimpi—kita bersama lagi. Duduk di atas kursi-kursi dari mutiara berkerlip-keliuk. Lantai berlapiskan pualam berkilau, melontatkan cahaya, dan setiap cahaya yang menyentuhnya. Ah, angin sepoi bahkan beraroma surga. Kikik cengkerik, di kejauhan yang sayup samar terdengar, seperti orkesta yang mengharu biru, menghanyut-tenggelamkan jiwa. Lalu kau berkata di pucuk telingaku, “Kasih, di surgakah kita?” Dan senyum manismu, kasih, senyum yang akan selalu kuingat itu, mengembang hingga seluruh jagad berwarna jingga. Kasih, suguhkan seluruh cintamu dalam peluk kecupmu!

Kamis, 26 Juni 2008
10:09
Sejak senin kemarin, sejak kita bertemu untuk pertama kali, aku sudah melihat dirimu sebagai samudra yang tak pernah berhenti bergolak, Kawan. Aku tahu, di dalam jiwa kalian ada api yang terus meletup-letup. Menghentak-hentak. Mencoba memberontak.
Hari ini sudah hampir selesai. Pertemuan ini. Sungguh, tubuh lelahku, rasa kantukku, seakan menguap menguar bersama bahagia ketika para kalian begitu antusias mengerjakan tugas-tugas, bersemangat menuliskan karya dan imaji. Duhai, tahukah kalian, tidak ada sedikit pun rasa ingin mengajari kalian! Mengajari, berarti kalian diajari, berarti kalian menjadi objek. Tidak. Kami hanya ingin kalian dapat belajar sendiri. Kita sudah meniup balon. Kita sudah bermain penokohan. Kita sudah bermain wawancara. Kita sudah membikin puisi, cerpen, dan tulisan lainnya. Masihkah kita harus termenung setelah ini, dan memupuk keraguan dan kepesimisan?
Tidak, kawan. Kalian, dan juga kami, marilah bergandeng tangan. Menyusur jalan mendaki dan tebing curam. Jika semangat telah dititahkan, takkan ada halangan, meski itu bumi yang bergoncang.
Kawan, selamat berjuang. Selamat bergerilya merengkuh cita-cita.

10:21 wib

Jika engkau tak juga menutup pintu itu, debu-debu akan segera datang kepadamu. Melingkupi. Menindihi. Dan engkau, sekali lagi, akan terkubur sejarah yang mengabadi. Memprasasti.

10:24:13
“Jangkrik!” ia kembali mengeluh. Untuk kesekian kalinya.
Sejak tadi, ia memang sedang bekonsentrasi dengan tulisan-tulisannya. Dan mereka, para kenalan itu, datang silih berganti. Bertanya ini itu, bercakap begini begitu.
Dan ia terus saja berjangkrik-jangkrik dalam hati, hingga kopi itu datang. Ia mengulurkan tangannya setelah mengucap terimakasih. Begitu satu seruputan kopi membasahi bibirnya, ia berdecak kagum. Ah, alangkah nikmatnya kopi Rembang ini! Pahit, manis, menjadi satu. Ah. Siapakah yang membikinnya? Ia menerka-nerka. Ingin rasanya, ia berhenti menulis, lalu menyusul si penyuguh untuk kemudian bertanya, berbasa-basi, dan menelusuri bagaimana ia membuat kopi. Tapi, semua itu diurungkannya, lagi-lagi, sebgaimana beberapa keinginannya yang lain.
“Hai, Katrin, bagaimana dengan paguyuban angkutan kota yang kemarin ditangkapi? Apakah engkau tidak akan membela mereka?”
Ia mendesah. Ditatapnya tajam Suhendar, kawan yang sejak tadi menikmati rokoknya seraya tak kedip-kedip melahap wajahnya.
“Su, pertanyaanmu telah membuatku jadi Asu, tahu? Aku ingin menggigitmu, lalu menggumulimu hingga puas. Kau tahu, Su, teman-teman kita di paguyuban bukan orang-orang yang berjuang atas jeritan hatinya? Kau tahu, mereka turun ke jalan-jalan karena ada sokongan dari pejabat ini dan pejabat itu? Kau mengertikah bahwa politik tingkat tinggi, konspirasi kotor, dan kongkalikong menjijikkan terjadi di sana sini? Bahkan, mereka yang mogok makan pun diam-diam memesan bakso saat malam tiba. Ah, Su, kau harus tanggap. Kau harus peka. Ini semua hanya permainan yang licik dan munafik. Di depan orang-orang mereka mengaku sebagai penggebrak, tapi di belakang, di bawah tanah, mereka menjegal!”
Suhendar hanya diam. Begitu pula ketika dia tidak melanjutkan komentarnya, melainkan kembali sibuk dengan notebook nya. Suhendar mengambil rokok lagi. Menyeruput kopi hingga dasar-dasarnya, berpamit, lalu pergi.
Dia tak berpaling. Bergeming di tempatnya. Di depan dunia yang sedang dibangunnya sendiri.

Kamis, 26 Juni 2008
11:12 wib
Mereka belum juga selesai. Sudah kukatakan berkali, membuat bulletin memang dikejar deadline; jangan sekali-sekali meremehkan dan berpangku tangan. Dalam kerja bulletin, lembur adalah sarapan sehari-hari. Caci maki dan lempar tanggung jawab harus dibuang jauh-jauh. Team redaksi harus menjadi bola yang bulat,yang menggelinding dengan cepat begitu ada jalan menurun; yang melesat secepat kilat begitu ada tendangan kaki membentur kulitnya. Jika bola itu tak bulat; jika kata sepakat tak didapat, team hanya sekedar gerombolan yang tidak beda dengan para penumpang dalam satu bis atau angkutan...

ketika sore menjelang

ketika sore menjelang cacing-cacing duduk di emper jalan
lendir mereka berleleran mengucur bukan sekadar dari bibir namun seluruh tubuh itu menggelambirkan cairan menjijikkan
redup mentari. kepulan knalpot yang membuat keki. burung-bururng yang tak terlihat lagi. di langit. di langit. mengutuki cacing-cacing dengan caci maki.
"biarkan mereka hingga lendir di tubuhnya mengering. saat semua negeri menjadi panas mentari jam dua belas tepat."
cacing-cacing itu merinding. mendengar fatwa burung-burung yang tak terlihat lagi. di langit. di langit. tapi sesaat saja. karena begitu fatwa tak terdengar lagi. begitu caci maki tak terutuki lagi. cacing-cacing itu, duduk lagi di emper jalan. menjelang sore. menjelang sore...

ngantuk

jangkriknya, sore ini mataku benar-benar terkapar. Ia sudah kuongkrek-ongkrek. Kugetak-getak. kulilipi kopi. Tapi dasar ngantuk. Aku tahan, semakin aku mabuk. Ah, kurokoki dulu saja. Toh, bentar lagi asar. Kita bs pulang sepuasnya bkn?
Sayangya, aku sendiri sok gak ngerti bagaimna bisa aku mengantuk. Tuan Qanadema,kemarin malam bilang kepadaku bahwa rasa kantuk datang dari kemaluan. Kalau kemaluanmu engkau cuci, engkautidak akan ngantuk lagi. aha, apa benar tuan Qanadema?
Sungguh, aku nggak berani mempraktekkan apa kata Tuan Qanadema sialan itu. Mungkin, kalau nyucinya pakai air tawar atau air es, berani-berani sajalah aku. tapi, Tuan Qanadema menyarankanku mencucinya dengan air rebusan telo, diccampur dengan sedikit irisan bawang dan ulegan lombok barang sak-cret. Yang terakhir ini, lho yang nggegirisi. Masa, kemaluan dikasih lombok? Ngawur aja Tuan Qanadema...
Tapi sebenarnya aku sih dapat memaklumi. Munkin memang saran Tuan Qanadema itu dapat menghilangkan kantuk.. Hanya saja, aku nggak akan pernah mencobanya. suer. nggak berani!

subuh yang ketujuh


Kukuruyuk jago bangkok Demang Kaliurang menjenggiratkanku dari mimpi itu. Aku terngos-ngos. Menafas cepat pendek. Astaghfirullah kuulang-ulang. Dingin, keringatku. Berleleran di dahi dan pipi.
Perlahan aku bangkit. Mengernyit. Mencari-cari jam di dinding. Bukan pukul 6. Seharusnya ini masih malam. Subuh masih jauh. Tapi, cahaya itu?
Kuurut sekerlap sulur cahaya dari pinggir-pinggir gedhek. Kubuka pintu. Kriett. Dan sehembusan nafas, sedetakan jantung, aku memaki. Menghujat. Memisuh. Semua binantang, dari binatang besar sampai kruma, kusebut. Kulampiaskan semuanya. Kuhujamkan segala amarah. ke segala arah. kuhamburkan darah. nanah. dan seluruh muntah.
Ya, di subuh yang ketujuh ini, aku kesiangan. Matahari telah naik sepenggalah. Dan karenanya, sia-sialah enam shubuh yang lalu kuhabiskan dengan wirid dan fana. Sia-sia. Keramat itu, takkan pernah menyentuhku ..., mengapa justru di detik terakhir ini?

dunya gonjang-ganjing.


"Aku ngaceng!" lirihnya, sesekali melirik kepada istrinya yang sedang nyapu. memastikan perempuan ndeso itu tidak mendengar. "Tapi, aku sadar, Kang. Ini donya! Donya sing ora ono guna. Bayangkan, Kang. Cewek kayak Shakeera itu dipuja-puja. Padahal ora beda sama wong edan wuda!"
"Kang, aku sadar, ini bukan budaya kita. Tapi aku juga suka. Aku mengutuk, tapi aku diam-diam liurku terteguk.."
DulBakir ngedumel. Ia cerita bahwa semalam, ia nonton shakeera di tivi. Celananya panjang. Wudelnya ketok. Atas cuma pake beha. Dan goyangannya, wadhuh, bikin pusing kepala.
Aku hanya diam, membayangkan Shakeera dengan goyangannya tadi malam. Suer, aku tak munafik. Aku juga nonton. Semalam memang aku nggak bisa tidur. Dan iseng-iseng, pengin liat berita bola. Tapi pas ngeklik remot, ternyata yang muncul Shakeraa yang lagi wuda. Tak jadilah aku liat bola. Dan, aku juga merasakan hal yang sama dengan Dulbakir. Aku juga mengutuk, terutama mengutuk diriku sendiri yang masih belum mampu menahan diri. Diam-diam, aku membayangkan, jangan-jangan, mereka yang suka mengamuk--menghancurkan tempat-tempat maksiat dipicu oleh perasaan muak tapi nikmat seperti yang kualami malam tadi. Jadi, sebenarnya mereka mengamuk karena mereka nggak kuat menahan diri untuk tidak melihat. Mereka memaki-maki diri mereka, mengapa mereka masih saja kalah oleh maksiat, lalu mereka melemparkan kesalahan itu pada kemaksiatan itu sendiri. Mereka masih ngiler melihat cewek berbaju pecotot-pecotot, dan mereka menganggap yang pake baju pecotot-pecotot itu adalah iblis yang harus diamuk.
Aku jadi teringat cerita seorang pelancong dan keledainya. Sebut saja, nama pelancong itu Bardabal. Bardabal ini harus mengarungi sebuah sahara maha luas untuk berbisnis. Malang, ia harus sendirian. Di tengah jalan, di tengah kesendirian, tiba-tiba syahwatnya memuncak. Ingin sekali ia kitul, senggama. Namun, tak ada saluran. Gimana? akhirnya, ia mendatangi keledai yang betina itu, dan disetubuhinya. Pas selesai, pas adzan isya. Bardabal pun mandi, lalu shalat, dan pas wiridan ia mengikrarkan taubatan nashuha. Ia merasa sangat bersalah. Ia merasa telah begitu kotor sehingga melakukan maksiat yang sugguh jorok dan menjijikkan.
"Oh, tuhan... maafkan aku, tuhan..." Bardabal menangis. Mengguguk-guguk. Menderu-deru. "Maafkan aku. Sungguh, aku tak sadar waktu itu. Aku, akh, ini semua karena godaan syetan yang terkutuk!"
Konon, tidak jauh dari Bardabal, ada sesosok syetan sedang duduk. Mendengar itu, syetan segera menyeru: "Enak saja kamu nyalahin aku! Kamu yang enak, melampiaskan syahwat, eh, malah aku yang kamu salahkan! Jangkrik kamu!"
***
Dulbakir menyeruput kopinya. "Kang, kamu percaya nggak kalau aku ini pernah nyolong?"
Kata itu, kukira main-main. Tapi, ketika mataku menangkap matanya yang melolo, yang begitu tajam seolah mau keluar, aku terhentak. Seriuskah dia? Atau sengaja ia berusaha menerorku dengan mukanya yang seakan demikian serius?
Akhirnya, aku menggeleng. Hanya.
"Kang, orang seperti aku seharusnya sudah nyolong, nyopet, atau ngrampok bank."
"Kok?"
"Tivi,kang. Aku liat tivi, kayaknya dunia begitu indah. Tapi kasunyatane beda adooohh! Djagkrik, kan, Kang? Aku ini makan tiga kali saja udah untung. Lha itu, di tivi pada enak-enakan makan yang lezat-lezat. Jangkrik, jadi aku yang sabar jadi nggak sabar karena anak-anakku pada njaluk ini njaluk itu. Sing makanan akeh banget macamnya lagi...!"
DUlbakir nyeruput kopi lagi. Lalu lintingan tembakaunya yang tadi sudah mulai padam disulut lagi. Mengepullah. Menguarlah bau tembakau murahan lama yang ampek, matuki, dan mlekiki.
"Belum lagi apa-apa sudah pada mahal...! Belum lagi besok BBM mau naik. Sementara mata kami terus dililipi oleh iklan, kemewahan, dan mimpi-mimpi di tivi. Keirian kami juga disinggung-singgung oleh acara-acara glamor yang membuat kami melambung sesaat. Membuat kami menjadi makhluk-maklhluk yang hidup di alam mimpi. Kamu percaya kalau aku nyolong, nyopet, atau ngrampok?"
Aku terpana. Sungguh, terasa aku ingin tidak ada di hadapan Dulbakir saja. Terasa sungguh, aku ingin menjadi patung, tak ingin menjawab pertanyaan itu. Matanya. Ah, matanya begitu menghujam. Ke dalam kedalaman jiwa. Aku. Aku tak kuasa.
Akhirnya, lagi-lagi aku menggeleng.
"Kang, kamu tahu si Minah? dia sudah kapusan lima kali. Ditipu orang kota. Dulu ia ikut semacam MLM yang urunan masuknya 6 juta, dengan imbalan dapat gaji 500 dollar per minggu. Syaratnya, ia ngajak orang dua. dan dua orang yang ia ajak harus ngajak orang dua lagi. dst.
"Awalnya semangat. Tapi kemudian, susahnya mencari orang yang mau ikut. apalagi dengan modal 6 juta. Dan melayanglah kini uang 6 jutanya itu. Padahal, dari mana dia dapat 6 juta? Adol sawah, Kang..!"
"Kemudian dia dan keluarganya bingung. Nyari kerja susah. Kalau pun ada, nggak nutupi untuk makan. Maka ia pun berspekulasi. Ikutan lagi bujukan orang, yang katanya dapat wasiat dari anaknya Bung Karno. Kata orang itu, anaknya bung karno yang bernama Agus Muhammad mau mencairkan uang Bung Karno di bank swiss, dan uangnya itu akan dibagi-bagikan kepada seluruh orang melarat di bumi persada. Dan, orang melarat yang mau bagian hasil warisan bung karno itu harus ndaftar; satu juga."
"Kang, bayangkan, kang! Kamu percaya kalau pada suatu saat aku nyolong, ngrampok, atau nggarong?"
dan aku semakin menunduk. Ingin kujawab, bahwa aku tak akan percaya. Dulbakir orang baik. Ia memang miskin dan susah. Tapi aku yakin, ia masih punya iman untuk tidak melakukan hal-hal tercela itu. Namun, bukankah perut dapat menggerakkan apa saja? Mulai dari membuang nyawa hingga menumbangkan penguasa?
"Kamu takkan percaya, Kang. aku juga. Aku juga nggak percaya. dan aku terus berdoa, semoga aku tidak melakukannya... Tapi..."
"Tapi apa, Kang Dul?"
"Aku nggak bisa menjamin orang lain, jangankan tetanggaku. Anak istriku pun, aku tak kuasa untuk mengawasi mereka setiap waktu. Mereka telah diguyur dunia modern, sementara perut lapar dan gengsi berkobar-kobar. Mau apa lagi? Jikapun mereka nggak berani nyolong ataupun nggarong, mungkin bunuh diri menjadi solusi...? akh, semoga tidak"

aku tercenung. Kutatap halaman rumah kos-kosan Kang Dul. Istrinya masih menyapu. Hampir selesai karena sedang mengumpulkan sampah-sampah itu dalam satu tempat. Lalu istri Dulbakir membakarnya. Sepertinya, tubuhku ikut terbakar bersama sampah-sampah itu. Yah, aku tak berdaya menghadapi suasana ini. Aku tak bisa menolong sahabat-sahabatku ini. Aku tak bisa mengentaskan mereka dari jurang terdalam yang nyinyir. Aku hanya bisa menemani mereka ngopi dan berkeluh. Dan aku, akh!

Mari Bercinta!

Ini cerita tentang teman saya yang pernah masuk kahyangan, dan nggak sempat kembali ke bumi.
Pagi, pukul 05.00-an, teman saya ini--sebut saja Badirun--barusan pulang dari masjid. Namun, karena tadi pas adzan subuh ia belm sempat berak, karena antrian yang panjang di jumbleng, dan kemudian ia langsung shalat berjamaah di belakang kiai Wirir, ia pun bercepatcepat menuju sungai. Gelap. Tapi tak apa. Yang penting hajat terpenuhi.
Badirun ndodok. mengangkat sarung. lalu mengejan...
dan sejak saat itu, badirun nggak pernah kembali ke bumi...


so, apa ini? ini celoteh, prajurit. sekedar berlarian ke sana ke mari. sekedar mengembarakan keliaran yang menggelambir di hati dan pikiran. biarlah tulisanku (khususnya dalam antologi celoteh) beterbangan. meloncat-meloncat dari ufuk ke ufuk. dari jurang ke jurang. ia melesat. mengarungi ketakterjangkauan. menyusup. menyusuri segala dunia dan segala akhirat.

Prajurit, maukah engkau kuceritai tentang sebuah mimpi? Semalam, seorang kenalan mengabariku lewat sms. "Mari bercinta! di padang yang penuh rumput-rumput dan belalang. Mari bercinta. Memadukan jiwa yang lama terpana. oleh rindu yang nyala. memberangus, menjilat-jilat segala oase dan tegukan-tegukan syahwatku!"

Sejenak, aku terpaku. Benarkah ia mengajakku bercinta? ia yang selama ini kutunggu dan kuimpikan; ia yang menghiasi selalu mimpi-mimpi malam; ia yang senantiasa terbayang di pikir fi sirri wa 'ayan! ya, ia tiba-tiba mengajakku bercinta, Prajurit! Dapatkah engkau bayangkan, bagaimana jiwa ini serasa buncah di keluasan yang tak berhingga? Dan aku tak mampu membalas Sms itu. Aku tak pula menemuinya. Aku ingin menjaga rindu ini memrasasti...

Prajurit, salamku untuknya. Katakan bahwa smsnya telah membuat rinduku mulad-mulad. blekutuk-blekutuk seperti air yang umeb!
dan semua itu, akan kusimpan. akan kujaga. sampai semua manusia terjaga di alam jaga...

sebongkah otak yang meledak

pagi yang mengusung dingin tibatiba terhentak ketika dapur Sarmini mengepul. Bagaimana tidak? sudah seminggu ini pasangan Sarmini dan Dullah Plenthung yang beranak pinak sebanyak 7 bersaudara (2 anak usia smp,2 sd, dan yang tiga masih balita) tidak makan kecuali sedikit. Selama seminggu ini, Sarmini memang ogah masak. Kalao pagi, ia pergi ke pasar, beli jajanan pasar seribu rupiah untuk makan siang. kalo sore, giliran Dullah Plenthung yang pergi ke angkringan, membeli tiga nasi kucing untuk sepuluh perut yang kelaparan. Praktis, dapur mereka tidak pernah mengepul.

Kaji Bakir yang ke mana-mana naik vespa tahun 81 itu juga menyaksikan itu semua. Ia sudah berniat hendak bersedekah. Tapi tidak jadi ketika ia tahu bahwa Dullah Plenthung ternyata nganggur. Ia pikir, keluarga Sarmini dan Dullah Plenthung bisa kere karena mereka memang sengaja kere. "Tubuh mereka masih sehat. Tapi nggak mau kerja. Ya rasakan saja!"
Dan di kepala Kaji Bakir muncul bayangan bensin dan minyak tanah yang semakin langka. "Sedekah yang pertama adalah untuk anak istri dan keluarga... Jika bensin makin mahal, bisa koit aku." dan uangnya dimasukkannya lagi ke selipan peci.

Sarmini yang mengintip di balik pintu sempat meneguk liurnya. Entah. Sudah lama ia nggak pegang uang, dan sekarang, ia selalu ngiler jika memandang lembaran-lembaran hijau itu...

Kembali ke dapur Sarmini, saat aku mengintip, kulihat anak-anaknya yang bayi-bayi itu sedang mangap-mangap. Sedang apa mereka? Ohk, mungkinkah mereka menangis? mungkinkah mereka... ya, lihatlah di pucuk mata mereka, ada seleler air yang menyedihkan. Mereka menangis? tapi mana suaranya?
"Cup-cup. bentar lagi mateng..." Sarmini seperti mengutuk dirinya sendiri ketika merengkuh bayinya itu. Dikudak-kudaknya seluruh kuali. Matanya merem karena kayu bakar itu mengukuskan asap yang menggebul...

Dullah Plenthung keluar dari kamar. Ucak-ucak sebentar. Melihat kuali. lalu memaki.
"Njangkrik! Asu buntung! Masak opo, kowe! Watu?! Ndasmu kopet!"
"Sst! diam, Dul! Anakmu aja nggak ngomel kamu malah ndremimil!"
"Masak ya masak, tapi jangan batu! Asu!" []

Sazdkta Liweoptz

Jangkrik hanya berdiri. Tubuhnya mendekik. Matanya mendelik. Giginya begidig. Ditatapnya perempuan di depannya dengan jalang. Getar-getar hebat menggeletar. menghancur bisukan seluruh jantung. Ingin sekali ia mlalap. Ingin sekali ia menghujat. Tapi ia juga merasa nikmat. Jangkrik terapung-apung di gelombang pasang tsunami 4,5 skala richter! Jangkrik tergoyang-goyang gempa tektonik 10 skala keminter. Jangkrik mengasu-asukan dirinya sendiri; menjangkrik-jangkrikkan semua makhluk tuhan di muka bumi.

Ketika kemudian perempuan itu mengenakan kerudungnya, jangkrik beringsut. "Aku tahu, aku tahu! Jaman semakin edan!"
ditinjukannya kepalan tangan ke aspal. Kepala ke pagar. Diculeknya mata dengan jemari. Ditutupnya telinga dengan kuali. Disunatnya hidung dengan welad bambu tali.

Jangkrik, kejang-kejang. sekian detik. lalu mati. tenggelam. dalam damai. mati memang damaikah? tak sehidup ini?
jangkrik-hu a'lam

nawaitu

burung-burung gagak yang berputaran di atas kamboja. cengkerik jangkrik meringkik-ringkik. menangiskan lagu malam sunyi sepi. keabsurdan. kegelapan. menggundah. di jiwa. nawaitu! nawaitu! nawaitu menyambut cahaya!

16 JULI 1996


By: Iwan Falsh


Ku kenal kamu dari jauh
Tergetar hati melihatmu
Matamu bening, suaramu bening, smangatmu hening..
Wajahmu lembut, senyummu lembut, rambutmu lepas tergerai

Terasa sejuk mengenalmu
Merdeka aku dibuaimu
Jalan yang panjang, sebatas pandang, kau tempuh tanpa mengeluh
Tangan terkepal, brangkatlah kapal, menuju dermaga sepi

Kunyanyikan hanya untukmu
Puja puji ini karena rindu
Air mata terlanjur tumpah
Membasahi tanah menjadi darah
Dipayungi mega kelabu

Aku tak peduli, apa yang terjadi, jangan kau pergi dariku
Akan kutemani, ke dermaga sepi, membelah ombak yang biru
O bangkitkan aku, kupanggil kau slalu, bertahanlah dalam gelombang
O buka mataku, kau sadarkan aku,
Janganlah bosan

Kunyanyikan hanya untukmu
Puja puji ini karena rindu
Air mata terlanjur tumpah
Membasahi tanah menjadi darah
Dipayungi mega kelabu

***
aku tak bisa berkata-kata... sebab lagumu, lirikmu, merasuk jiwa...

Malas ar-Rajim!?

Ada beberapa orang yang pengin menulis. Tapi pas pengin menulis, rasanya berat sekali. Ide udah di kepala.
"Aku lagi nggak mood," begitu katanya.
Prajurit, ketahuilah bahwa mood dan nggak mood hanyalah alasanmu saja. "Nggak-mood" adalah sebuah ungkapan "bergengsi" dari kata "malas". Artinya, sebenarnya kamu masih bisa menulis. cuman, kamu lagi malas.
Nah, kalau kamu nunggu mood dulu, kapan menulisnya jika kamu nggak mood terus, Prajurit?

Menulis nggak usah nunggu MOOD! Kalau kau sedang suntuk, tulisin pikiranmu dalam kesuntukan. Kalau kau lagi marah, tuliskan ide-idemu dalam keadaan marah. Dan kalau kau lagi putus asa, tetaplah menulis meski dalam keputus-asaan.
Hasil tulisanmu mungkin nggak seperti di saat kamu fresh--yang kamu istilahkan "mood" itu. Namun tetap saja kau telah menulis dan selesai, dan itu bagus. Pengalamanku, saat aku marah, tulisanku terasa marah. Lagi sedih, tetap menulis, dan tulisanku jadi melankolis...

NGgak usah berkata 'Aku lagi nggak mood', Prajurit! Itu hanya alasan orang-orang yang malas! Dan malas adalah terkutuk! malasir-rajim! Sikat rasa malasmu, hingga terhempas dan tewas. Lemparkan jauh-jauh ke ufuk paling ufuk! Kalau masih malas, baca buku! kalau masih malas, diskusi! kalau masih malas, ngobrol ringan! kalau masih malas, mandi atau shalat atau hanya wudhu! kalau masih malas, main ke rumah teman! kalau masih malas, tidur--siapa tahu dapat mimpi yang inspiratif! Dan setelah kegiatan sampingan yang bermanfaat itu, segera tuliskan ide-idemu yang tertunda. tuliskan. tuliskan!

Dan kalaupun setelah itu masih malas, tulislah kemalasanmu itu. tulislah rasa muakmu kepada rasa malasmu. tulislah kemalasanmu dalam menulis kemalasanmu itu. jadikan malasmu sebagai tokoh yang buruk rupa yang kau maki-maki dalam cerpen atau novelmu. Dan kalau masih malas, tetaplah terus menulis meski dalam kemalasanmu.

Namun, jika kau telah mencoba tips-tips di atas secara runtut dan kau masih juga malas, berdoalah kepada tuhan dengan malas: "Ya tuhan, semoga aku segera malas bernapas...!" []

SEGUMPAL CAHAYA YANG MELESAT

Inspirasi seperti wahyu. Ia tiba-tiba meloncat dari ketiadaan. Mewujud di saat ia berkehendak untuk mewujud. Ia masuk dalam lamunan. Merasuk dalam mimpi. Mengeram dalam imajinasi. Lalu menggedor-gedor kesadaranmu hingga terbangun dengan kekagetan tak terkirakan.

Ia datang kapan saja. Mungkin saat engkau tenggelam dalam kekhusyukan. Mungkin di tengah gelamor pesta dunia. Mungkin juga saat engkau sekarat. Mungkin, dan sangat mungkin ketika engkau berkhalwat di toilet. Dan yang perlu dicatat, ia juga pergi sesuka hati. Sedetik lalu ia datang. Sedetik kemudian engkau sudah bertanya-tanya; apakah ide yang tadi melintas di pikiranku?

Maka dari itu, seorang penulis harus menjadi dictator yang kejam terhadap inspirasi. Ia harus memenjaranya dalam kata-kata setiap kali ia muncul. Ia harus dan harus menuliskannya. Entah dalam secarik kertas. Di tembok-tembok. Atau sekedar dalam otak. Dan yang terakhir ini, min adh’afil iman …

Narsis

Narsis adalah cermin bersisi empat yang memantul-mantul tanpa kedip dan berkilauan kemanamana. Ketika engkau narsis, engkau mungkin dimaki temanmu, "Narsis, lo!" namun temanmu, saat ia mengucapkan umpatan 'narsis, lo' sebenarnya sedang mengedepankan narsisnya yang terselubung. ia sedang memuji dirinya sendiri bahwa ia tidak narsis. dan ketika seseorang memuji dirinya sendiri, termakanlah ia oleh narsis.

HOLIDAY

MAAF, BERKENAAN AKAN DIADAKANNYA BEBERAPA KEPERLUAN,
MAKA BLOG INI DITUTUP UNTUK SEMENTARA (S.D. AWAL APRIL 2008)

HARAP MAKLUM

TTD

JENDERAL QI

Win

Win adalah orang kecil. tubuhnya kecil. perutnya kecil. dan makanan yang ia makan tentu saja kecil. ia mempunyai anak yang masih kecil, dari pernikahannya dengan suami yang juga orang kecil.
ketika angin buruk perekonomian menerpa,suaminya tak berdaya. dulu, ia masih bisa nyangoni anaknya dengan gaji 200 ribu perbulan, hasil kerja kepada babah Koh. namun, apa daya, babah Koh bangkrut. dan harga yang melambung membuat keluarga itu berperut kembung...
tiba-tiba saja, ada orang-orang kota yang pintar-pintar berputar di desanya. menawarkan bisnis "kaya mendadak", semacam MLM.
"Beli produk seharga 6 juta, kamu akan mendapat kompensasi 250 ribu per tiga bulan. Lalu kamu rekrut bawahan kanan dan bawahan kiri. Sudah, selanjutnya tinggal ongkang-ongkang. Kamu cuma membimbing bawahanmu untuk dapat bawahan lagi yang akan belii produk sebesar 6 juta. Sesudah itu, kamu duduk aja di rumah. Nunggu gaji dari negeri jauh sana..."
Win terpana. Benar nggak ni orang...
"Eh, kamu nggak percaya? Buktinya, kamu kenal pak anu?"
"Ya."
"Kamu tahu kan, dia tiba-tiba menjadi kaya dua tahun ini?"
"Ya. dulu memang kere. tapi sekarang sudah kaya."
"Itulah! tanya sendiri jika gak percaya. Dan lagi, bisnis ini halal dan sah. Halal karena ada tanda tangan ketua ormas islam..." orang kota itu menunjukkan fotokopi akta. "Juga ada cap dari instansi pemerintah. dari bupati sampai presiden..." dan orang kota itu membuka akta halaman selanjutnya.
WIn manggut-manggut.
Dengan modal jual sawah warisan, dibelinya dua buah produk. 12 juta, yang satu atas namanya, yang lain atas nama suaminya. Lalu mereka mulai keliling kampung. mencari bawahan.
Tapi apa daya, semua usaha terbentur pada biaya. Orang-orang nggak punya uang....

(bersambung)