Menurut seorang kenalan, sufisme tidak lain adalah kebuntuan hidup yang diperturutkan. Dia memaki-maki para sufi, dan menolak mentah-mentah idiologi mereka, seraya mengatakan bahwa para sufi memelihara kemunafikan terselubung dalam diri mereka. Tentu saja, aku sempat panas mendengar ini. Bagaimana tidak, wong ketertarikanku dengan sufisme sempat membuatku takluk di bawah buku-buku mereka, mempraktikan sedikit ajaran mereka, dan dengan senang hati membawa nama mereka ke dalam karya-karyaku. Mempelajari sejarah hidup mereka juga menjadi kesibukan yang pernah membelenggu, mengalahkan minatku terhadap pelajaran-pelajaran politik dan membaca buku-buku praktis.
Dus, mlihat cangkem temanku yang meloncat-loncat ini, aku ingin mengkaploknya dengan sekuat tenaga. Dengan segenap keyakinan untuk menunjukkan bahwa aku sangat tersinggung. Namun beberapa detik sebelum tanganku bergerak cepat, aku teringat tokoh-tokoh sufi itu. Mereka tidak pernah menggubris ketika mereka dihina. Dan tiba-tiba aku merasa malu, mengapa aku yang mengidolakan mereka justru menjadi demikian muntab? Mengapa ketika orang lain yang dihina justru aku malah yang marah, ketika yang dihina tidak menampakkan wajah merahnya sama sekali?
Sekali lagi, kutatap wajah temanku, kenalanku, dan kulihat setitik hitam menggarut di jidatnya. Dia tentu sering bersujud. Sering merendahkan dirinya di hadapan Tuhan. Sering membaca "Subhanallahi rabiyal a'la wa bihamdih: Maha suci tuhanku yang maha tinggi..." Maha tinggi, maha agung. Tapi mengapa dia tak mengagungkan; atau setidaknya menghormati manusia lain? Mengapa tidak? atau kalaupun hendak mengkritisi, setidaknya dengan kata-kata yang tidak terlalu kasar?
ah, aku hanya ingin bersujud saja. memohon ampunan, semoga kawanku ini diberi ampunan.
Belajar Nulis Sambil Ketawa
Hari-hari ke depan akan penuh kesibukan. Nyebar undangan, nyebar proposal, nyebar spanduk, menyempurnakan format acara,dan segala tetak bengek kepanitiaan. But, sesungging senyum akan tetap menghiasi. Yup! Sebab suka-cita bersama kawan-kawan yanga makin asyik aja. Tugas-tugas diatas kita bagi sama-sama. Jadi ringan dan penuh canda.
Hmm, ini adalah acara yang kedua setelah pada liburan semester kemarin sukses menggelarnya di Kaliopak. Seakarang, tempat acara ada di PP Sunan Pandanaran; tempat yang sejuk-sejuk empuk di kaki merapi sana. Seperti kemarin pula, acara tetap diberi judul yang sama: "Liburan Sastra di Pesantren (LSdP)". Hanya, sastrawan yang mengisi agak berbeda. Kang Tohari yang kemarin ngisi, sekarang mungkin akan digantikan Kang Acep ZAMzam Noor. Pak Dhe Zawawi Imron yang berorasi budaya pada LSDP 1, rencananya digeseer oleh Goenawan Mohammad. Joni Ariadinata, tetap kita pilih untuk ngisi materi bercerpen. Bedanya, LSdP II ini juga mengundang Agus Noor dan Langit Kresna Haryadi (keduanya masih terus kita coba hubungi... ihh.. sibuk sekali mereka ya? sulit sih dihub..)
Kayaknya, LSdP II kali ini akan jadi ramai. Selain panitia sudah pernah menyelenggaran acara yang sama (sehingga tidak canggung lagi), juga karena orang-orang yang diundang itu. Sastrawan-sastrawan kaliber nasional, bung! Dedengkot-dedengkot sastra kontemporer! Siapa sih yang gak mao datang? Aku juga pengen banget ketemu Goenawan Mohammad, salah satu idolaku. Pengen ngobrol tentang caping-nya. tentang proses kreatifnya. dll. juga berdiskusi dan saling mengkritisi ide-ide masing2. Mengidolakan seseorang, bukan berarti membebek pada idenya kan?
Ah, semoga dia bisa datang. Semoga aku dapat berpose bersama Goenawan.. hehe. Yang jelas, minggu-minggu ini kita harus banting tulang. Kata Iwan Fals, "Harus ada yang harus dikerjakan agar kehidupan berjalan wajar."
Hmm, ini adalah acara yang kedua setelah pada liburan semester kemarin sukses menggelarnya di Kaliopak. Seakarang, tempat acara ada di PP Sunan Pandanaran; tempat yang sejuk-sejuk empuk di kaki merapi sana. Seperti kemarin pula, acara tetap diberi judul yang sama: "Liburan Sastra di Pesantren (LSdP)". Hanya, sastrawan yang mengisi agak berbeda. Kang Tohari yang kemarin ngisi, sekarang mungkin akan digantikan Kang Acep ZAMzam Noor. Pak Dhe Zawawi Imron yang berorasi budaya pada LSDP 1, rencananya digeseer oleh Goenawan Mohammad. Joni Ariadinata, tetap kita pilih untuk ngisi materi bercerpen. Bedanya, LSdP II ini juga mengundang Agus Noor dan Langit Kresna Haryadi (keduanya masih terus kita coba hubungi... ihh.. sibuk sekali mereka ya? sulit sih dihub..)
Kayaknya, LSdP II kali ini akan jadi ramai. Selain panitia sudah pernah menyelenggaran acara yang sama (sehingga tidak canggung lagi), juga karena orang-orang yang diundang itu. Sastrawan-sastrawan kaliber nasional, bung! Dedengkot-dedengkot sastra kontemporer! Siapa sih yang gak mao datang? Aku juga pengen banget ketemu Goenawan Mohammad, salah satu idolaku. Pengen ngobrol tentang caping-nya. tentang proses kreatifnya. dll. juga berdiskusi dan saling mengkritisi ide-ide masing2. Mengidolakan seseorang, bukan berarti membebek pada idenya kan?
Ah, semoga dia bisa datang. Semoga aku dapat berpose bersama Goenawan.. hehe. Yang jelas, minggu-minggu ini kita harus banting tulang. Kata Iwan Fals, "Harus ada yang harus dikerjakan agar kehidupan berjalan wajar."
DARI LASKAR PELANGI HINGGA MARYAMAH KARPOV
Benarkah kata-kata Andrea si Ikal ketika dia menyatakan bahwa Maryamah Karpov direncanakan sebagai karya terakhirnya? Ah, sungguh aku tak yakin itu. Kecuali Andrea akan jadi psikopat yang solopok. sebab, berhenti berkarya berarti mati. Berhenti menulis, jiwa seorang penulis akan kosong dan terombang-ambing dalam kehampaan tiada ujung. Berhenti menggoreskan pena, berhenti menorehkan kata-kata, tidak lain adalah innalillahi yang datang prematur. Kirimkan kiriman bunga kawan! Gelar tahlil dan Yasin bagi Andrea yang telah mengumumkan kematiannya sendiri!!
Aku yakin, Andrea tidak mungkin bisa lepas dari 'menulis'. Menulis adalah candu, yang sekali saja kau tak mengisapnya, dadamu mengehentak-hentak, jantungmu berguntur gemuruh, dan nafasmu tersumbat. Sakau. Seorang penulis yang lama tak menulis akan gila, dan bisa-bisa memutuskan untuk membenturkan kepalanya ke tembok rumahnya!
Ai, ai, atau ada sesuatu yang lain dari pernyataan si Ikal Laskar Pelangi itu? Em, baiklah. Mungkinkah Andrea takut? Mungkinkah orang se-"bebal" Ikal memiliki jiwa pengecut? Analisanya begini. Tulisan pertamanya, Laskar Pelangi, sudah membikin geger seluruh negeri. SUkses besar. Lalu, Andrea takut jika menulis lagi karyanya akan jelek sehingga menjatuhkan 'martabat'nya sebagai penggebrak sastra indonesia? Atau katakanlah, Andrea hanya ingin happy ending?
Kalau memang begitu, sungguh dia pengecut yang punya ambisi besar...
Atau jangan-jangan, Tetralogi Laskar Pelangi bukan tulisanmu sendiri, Bung Andrea? Ada seorang Ghost-Writer yang berada di balikmu?
Ai, ai... kok jadi suuzhon begini? Ai, ai! Maafkan aku jika terlalu menyudutkanmu.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa engkau telah basah, Bung Andrea! Mandi sekalianlah! Karya-karyamu yang lain ditunggu penggemarmu! Kalau kau mundur... maka (mengancam nih) kau... kau...
Ah, tapi itu hak kau. Kau mau mati, kau mau bunuh diri, itu hak kau. Terserah kau lah. Semoga Tuhan memberimu Hidayah... :)
Aku yakin, Andrea tidak mungkin bisa lepas dari 'menulis'. Menulis adalah candu, yang sekali saja kau tak mengisapnya, dadamu mengehentak-hentak, jantungmu berguntur gemuruh, dan nafasmu tersumbat. Sakau. Seorang penulis yang lama tak menulis akan gila, dan bisa-bisa memutuskan untuk membenturkan kepalanya ke tembok rumahnya!
Ai, ai, atau ada sesuatu yang lain dari pernyataan si Ikal Laskar Pelangi itu? Em, baiklah. Mungkinkah Andrea takut? Mungkinkah orang se-"bebal" Ikal memiliki jiwa pengecut? Analisanya begini. Tulisan pertamanya, Laskar Pelangi, sudah membikin geger seluruh negeri. SUkses besar. Lalu, Andrea takut jika menulis lagi karyanya akan jelek sehingga menjatuhkan 'martabat'nya sebagai penggebrak sastra indonesia? Atau katakanlah, Andrea hanya ingin happy ending?
Kalau memang begitu, sungguh dia pengecut yang punya ambisi besar...
Atau jangan-jangan, Tetralogi Laskar Pelangi bukan tulisanmu sendiri, Bung Andrea? Ada seorang Ghost-Writer yang berada di balikmu?
Ai, ai... kok jadi suuzhon begini? Ai, ai! Maafkan aku jika terlalu menyudutkanmu.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa engkau telah basah, Bung Andrea! Mandi sekalianlah! Karya-karyamu yang lain ditunggu penggemarmu! Kalau kau mundur... maka (mengancam nih) kau... kau...
Ah, tapi itu hak kau. Kau mau mati, kau mau bunuh diri, itu hak kau. Terserah kau lah. Semoga Tuhan memberimu Hidayah... :)
tak-tik-tak
suarasuaraberdetak
diseparuhnafas
disekepingdadayangretak
akumengasu-asukandirikusendiri
mengaparasabegitugelorabegitutakkuasaditahan
begitumengombang-ambingkanhasratdansemangat
akuinginterbakar
tapiapakahapimasihbergunadiharidinginini?
akuingintenggelam
namundimanakahadalautanataudanauyangsejernihhatiparaaulia?
ah,sudahlah
kupilihdisinisaja
bersamadi
berdiam
bersama
diri
sendiri
diseparuhnafas
disekepingdadayangretak
akumengasu-asukandirikusendiri
mengaparasabegitugelorabegitutakkuasaditahan
begitumengombang-ambingkanhasratdansemangat
akuinginterbakar
tapiapakahapimasihbergunadiharidinginini?
akuingintenggelam
namundimanakahadalautanataudanauyangsejernihhatiparaaulia?
ah,sudahlah
kupilihdisinisaja
bersamadi
berdiam
bersama
diri
sendiri
RIndu Di Ujung Waktu
menggelembung di rindu menggunung
aku terpaku
saat tatapmu menggelayut
memagut hingga kedalaman hati
semua warna mati
semua rasa tak berarti
terombang-ambing di samudra tanpa nama
terlempar terkapar terinjak egoku
burung camar pun
tak menyapa
kapal nelayan
pun tak mengirim salam
apakah mayatku,
hingga kau meludahkan dan mengucap na'udzubillah!?
o, rindu dendam ini meluluhlantakkan segala
menderu menghantam semua jadi debu
luruh sudah; lenyap sudah;
jiwaku terhempas
ke kesepian
tandas
(Di Penghujung Tahun, 1 Desember 08)
aku terpaku
saat tatapmu menggelayut
memagut hingga kedalaman hati
semua warna mati
semua rasa tak berarti
terombang-ambing di samudra tanpa nama
terlempar terkapar terinjak egoku
burung camar pun
tak menyapa
kapal nelayan
pun tak mengirim salam
apakah mayatku,
hingga kau meludahkan dan mengucap na'udzubillah!?
o, rindu dendam ini meluluhlantakkan segala
menderu menghantam semua jadi debu
luruh sudah; lenyap sudah;
jiwaku terhempas
ke kesepian
tandas
(Di Penghujung Tahun, 1 Desember 08)
ROKOK BIKIN SEHAT?
Aku nggak tahu, apakah artikel di bawah ini dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Tapi, kok sangat logis ya? berikut cuplikannya:
Mari Kita Merokok,karena Itu Sehat
Bukan propaganda atau pun bermaksud menyesatkan maupun menentang peringatan pemerintah.
Setiap tahun beribu-ribu dokter medis dan anggota ‘Gerakan Anti-Merokok' mengeluarkan milyaran dolar untuk mengabadikan apa yang tak bisa disangkal lagi, sudah menjadi program rekayasa sosial yang walaupun berhasil, tapi paling menyesatkan dalam sejarah. Dengan dorongan dari beberapa pemerintahan Barat, para pelobi Orwellian ini memburu perokok dengan suatu semangat fanatik yang sepenuhuya mengalihkan kegiatan pelarangan alcohol Amerika, yang berawal tahun 1919 dan berlangsung hingga 1933.
Dewasa ini kita melihat ke belakang tentang pelarangan alcohol oleh Amerika dengan rasa keheranan yang dibenarkan. Benar adanya bahwa suatu bangsa secara kesluruhan membiarkan dirinya sendiri untuk tidak boleh minum segelas bir atau scotch oleh sekelompok kecil orang fanatik penabuh genderang? Memang meyedihkan, hal itu benar, meskipun kurangnya bukti bahwa alkohol itu membahayakan manusia jika tidak dikonsumsi terlalu banyak.
Sayang, keselamatan alkohol tidak menarik perhatian para penabuh genderang. Kendali terhadap orang lain merupakan satu-satunya tujuan yang benar bagi mereka. Orang-orang Amerika terlihat ‘berdosa' gara-gara menikmati beberapa jenis minuman alkohol, dan para militant mengetengahinya dengan nama Tuhan untuk membuat mereka semua merasa tidak senang lagi.
Walaupun tidak ada hubungan langsung antara alkohol dan tembakau, sejarah pelarangan Amerika menjadi penting, sebab sejarah itu membantu kita memahami bagaimana sejumlah kecil pengikut fanatik bisa berhasil mengendalikan perilaku dan kehidupan ribuan juta orang. Dewasa ini hal yang persis sama terjadi terhadap perokok, meskipun saat ini masalahnya lebih berada di tangan para pengikut fanatik pemerintah dan praktisi medis yang acuh ketimbang pengikut fanatik agama yang bertindak sebagai penabuh genderang.
Beberapa pemerintahan tertentu tahu bahwa tindakan-tindakan mereka di masa lalu bertanggungjawab langsung atas penyebab kebanyakan kanker paru-paru dan kulit di dunia sekarang ini. Jadi, mereka bertindak terlalu jauh dalam upayanya membelokkan tanggungjawab dan juga utang finansial mereka, dan sebagai gantinya, mereka menimpakannya terhadap tembakau hidup yang tak berbahaya itu. Sebagaimana akan kita lihat kemudian dalam laporan, tembakau hidup yang sederhana itu belum pernah membahayakan siapapun, dan dalam hal-hal tertentu dapat dibenarkan bahwa tembakau itu dapat memberikan proteksi awal bagi kesehatan.
Tidak semua pemerintah di dunia ini menghadapi masalah yang sama. Jepang dan Yunani mempunyai jumlah perokok dewasa terbanyak di dunia, tetapi mempunyai jumlah terkecil penderita kanker paru-paru. Sebaliknya, Amerika , Australia, Rusia, dan beberapa kepulauan Pasifik Selatan memiliki jumlah terkecil perokok dewasa di dunia, tetapi memiliki jumlah tertinggi penderita kanker paru-paru. Ini adalah petunjuk utama dalam membongkar kebohongan kedokteran barat yang mustahil tapi sudah berakar, bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru.'
Kontak pertama orang Eropa dengan tembakau terjadi tahun 1492 ketika Columbus dan rekan petualangnya, Rodriguo de Jerez, melihat penduduk asli merokok di Kuba. Pada hari itu juga de Jerez pertama kalinya mengisap rokok dan dia sangat merasa relaks, sebagaimana penduduk setempat meyakinkannya. Peristiwa ini menjadi penting, sebab de Rodriguo de Jerez menemukan apa yang yang sudah dikenal orang Kuba dan Amerika selama berabad-abad bahwa merokok cerutu dan sigaret tidak hanya membuat relaks, tapi juga menyembuhkan batuk-batuk dan penyakit-penyakit ringan lainnya. Ketika dia pulang ke negerinya, dengan bangganya de Jerez merokok cerutunya di jalan, dan akibatnya diapun segera ditangkap dan dipenjarakan selama tiga tahun oleh Pengadilan Spanyol yang mengerikan itu. Jadi, de Jerez adalah korban pertama lobi anti-merokok.
Dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, merokok menjadi kebiasan yang amat disenangi dan diterima oleh masyarakat di seluruh Eropa. Ribuan ton tembakau diimpor dari berbgai koloni buat memenuhi kebutuhan yang jumlahnya meningkat. Sejumlah penulis memuji tembakau sebagai obat universal untuk penyakit-penyakit manusia. Pada awal abad 20 hampir setiap satu dari dua orang adalah perokok, tetapi jumlah penderita kanker pariu-paru tetap rendah, sehingga hampir dapat diabaikan. Kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa pada 16 Juli 1945, sebuah peristiwa perubahan besar yang ahirnya akan menyebabkan banyak pemerintahan Barat untuk mengubah persepsi tentang merokok selamanya, sebagaimana dikemukakan oleh K. Greisen: “Ketika intensitas sinar itu berkurang, saya simpan gelas minum dan langsung melihat ke menara. Saat-saat itulah saya melihat warna biru mengelilingi awan asap. Kemudian, seseorang berteriak agar kami sebaiknya memperhatikan gelombang kejut yang bergerak di atas tanah. Kemunculannya berupa area melingkar yang bersinar terang dekat dengan tanah, yang pelan-pelan menyebar ke arah kami. Warnanya kuning. Permanennya awan asap itu adalah satu hal yang mengejutkan saya. Sesudah ledakan pertama yang cepat itu, bagian bawah awan tersebut terlihat membuat sebuah bentuk yang tetap dan terus tergantung di udara tanpa bergerak. Sementara itu, bagian atasnya terus naik, sehingga sesudah beberapa menit, bagian ini mencapai ketingian lima mil. Lama-lama, bagian atas ini bentuknya berkelok-elok yang disebabkan oleh velositas angin yang berubah-ubah pada ketinggian yang berbeda. Asap itu sudah menembus awan pada saat awal naiknya asap, dan terlihat tidak terpengaruh sama sekali oleh awan itu.”
Peristiwa jelek ini dikenal dengan ‘Trinity Test' (Tes Trinitas), senjaja nuklir pertama yang kotor ini yang diledakkan di atmosfir. Dengan enam kilogram plutonium yang dipadatkan luar biasa oleh lensa-lensa peledak, Trinitas meledak di atas New Mexico dengan kekuatan mendekati 20.000 ton TNT. Dalam hitungan detik saja, milyaran partikel radio aktif yang mematikan itu tersebar di atmosfir sampai ketinggian enam mil, yang dapat disebarkan pesawat-pesawat jet berkecepatan tingi ke mana-mana.
Pemerintah Amerika sudah tahu tentang radiasi ini terlebih dahulu dan sadar betul akn pengaruh lethal terhadap manusia, tetapi dengan naifnya memerintahkan uji coba itu tanpa memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan sama sekali. Di mata hukum, tindakan ini adalah pelanggaran besar yang jelas salah, namun Pemerintah AS tidak peduli. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan seorang penjahat lainnya untuk dampak jangka panjang yang akan diderita oleh rakyat Amerika sendiri dan warga negara lainnya di darerah-daerah setempat dan terpencil.
Jika sebutir partikel radio aktif mikroskopis mengenai kulit Anda di pantai, maka Anda akan terkena kanker kulit. Coba saja hisap sebutir partikel kotoran yang sama dengan lethal, maka kematian akibat kanker paru-paru tidak dapat dihindari, jika Anda bukan seorang perokok sigaret yang luar biasa beruntung. Partikel radio aktif mikroskopis padat mengubur dirinya sendiri jauh di dalam jaringan paru-paru, membanjiri persediaan vitamin B 17 yang terbatas dalam tubuh, dan menyebabkan pertambahan sel yang menjadi-jadi serta tidak dapat dikendalikan.
Bagaimana kita bisa sepenuhnya yakin bahwa partikel radio aktif yang turun ke tanah itu benar-benar menyebabkan kanker paru-paru setiap saat seorang subjek secara internal terkontaminasi? Bagi para ilmuan, yang sebaliknya dengan dukun-dukun medis dan para propagandis pemerintah, hal ini bukanlah masalah. Bagi teori apapun yang dapat diterima secara ilmiah, teori itu harus dibuktikan sesuai dengan kaidah-kaidah yang tepat yang secara universal disepakati para ilmuwan. Pertama, subjek tersangka radio aktif harus diisolasikan, kemudian digunakan dalam eksperimen-eksperimen lab yang dikedalikan dengan tepat untuk akhirnya mencapai hasil yang dikalaim, misalnya kanker paru-paru pada mamalia.
Melalui prosedur ini, para ilmuwan sudah mengorbankan puluhan ribu tikus dan wirog selama bertahun-tahun, yang dengan sengaja mendedikasikan paru-paru mereka kepada partikel radio aktif. Hasil-hasil penelitian ilmiah dari berbagai jenis eksperimen yang didokumentasikan ternyata persis sama. Setiap tikus atau wirog dengan setia menderita kanker paru-paru, dan kemudian setiap tikus atau wirog mati. Jadi, teori sudah disesuaikan dengan fakta ilmiah yang kuat dibawah kaidah-kaidah lab yang dikendalikan secara ketat. Subjek tersangka (materi radio aktif) menyebabkan hasil yang diklaim (kangker paru-paru) ketika dihisap oleh mamalia.
Besaran keseluruhan risiko kanker paru-paru terhadap manusia dari sebaran radio aktif di atmosfir tidak dapat terlalu dilebih-lebihkan. Sebelum Rusia, Inggris, dan Amerika mengundangkan uji coba nuklir di atmosfir pada 5 Agustus 1963, lebih dari 4.200 kilogram plutonium sudah disebar ke dalam atmosfir. Karena kita tahu bahwa kurang dari satu microgram (1/1.000.000 gram) plutonium yang terhisap menyebabkan kanker paru-paru pada seorang manusia, maka kita tahu bahwa pemerintah Anda yang baik itu sudah menyebarluaskan 4.200.000.000 (4,2 milyar) dosis lethal ke dalam atmosfir, dengan paruh hidupnya bertahan selama minimal 50.000 tahun. Menakutkan, bukan? Sayang sekali, keadaannya malah memburuk. Plutonium yang disebutkan di atas berada di dalam senjata nuklir sebelum peledakan, tetapi kandungan paling besar partikel rdio aktif berasal dari kotoran atau pasir biasa yang terhisap dari tanah, dan teradiasi saat partikel-partikel itu naik ke atas lewat bola api senjata itu. Partikel-partikel ini membentuk bagian ‘asap' terbanyak yang terlihat pada foto peledakan nuklir manapun. Dalam sebagian besar kasus, beberapa ton materi terhisap dan secara permanen terradiasi dalam persimgahan. Namun demikian, mari kita bersikap konservatif dan mengklaim bahwa hanya 1000 kilogram materi permukaan yang terhisap oleh masing-masing uji coba nuklir.
________________________________________
Sebelum dilarang oleh Rusia, Inggris, dan Amerika, ternyata sudah dilakukan 711 uji coba nuklir di atmosfir yang membentuk 712.000 kilogram partikel raio aktif mikroskopis yang masih harus ditambahkan lagi 4.200 kilogram yang berasal dari senjat-senjata mereka sendiri, maka berat kotornya sekalipun masih pakai perhitungan konservatif mencpai 715.200 kilogram. Tiap kilogram mengandung lebih dari satu juta dosis lethal . Ini berarti bahwa pemerintah Anda telah mengkontaminasikan atmosfir Anda dengan lebih dari 715.000.000.000(715 milyar) dosis, sehingga cukup sebagai penyebab kanker paru-paru dan kulit 117 kali pada setiap laki-laki, perempuan, dan anak di muka bumi ini.
Sebelum Anda bertanya, jawabannya ‘Tidak'. Partikel-partikel radio aktif itu tidak akan ‘menghilang' paling tidak selama hidup Anda atau anak dan cucu Anda. Dengan paruh hidup 50.000 tahun atau lebih, trliliunan partikel radio aktif buatan pemerintah yang mematikan ini berada di sekitar Anda selamanya. Dengan disebarluaskan ke seluruh dunia oleh pesawat- pesawat jet yang berkecepatan hebat itu, partikel-partikel tersimpan secara acak meski dalam konsentrasi-konsentrasi yang lebih tinggi dalam jarak beberapa ribu mil dari lokasi uji coba. Ganguan angin atau gangguan permukaan udara lainnya, semua dibutuhkan buat mengaduknya lagi dan menjadikan bahaya yang lebih besar bagi orng-orang di daerah sekitar mereka.
Aktivitas main tendang pasir di sekitar pantai pada musim panas sekarang ini dapat berarti bunuh diri jika Anda mengaduk-aduk partikel-partikel radio aktif yang dapat menempel pada kulit Anda atau terhisap masuk ke dalam paru-paru Anda. Oleh sebab itu, jangan lagi mengolok-olok Michael Jackson waktu dia muncul di bandara udara dengan memakai masker pada hidung dan mulutnya. Mungkin dia tampak eksentrik, tetapi Michael hampir pasti menyelamtkan hidup kita.
Dua belas tahun sesudah Tes Trinitas yang membawa bencana ini, menjadi jelas bagi dunia Barat bahwa banyak hal semakin tidak terkontrol. Laporan Badan Penelitian Kedokteran Inggris menyatakan bahwa angka kematian global akibat kanker paru-paru sudah lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu 1945 sampai 1955, meskipun tidak ada penjelasan yang diberikan. Dalam periode 10 tahun berikutnya, angka kematian akibat kanker paru-paru di lingkungan sekitar Hiroshima dan Nagasaki meningkat tiga kali lipat. Setelah sepenuhnya merusak lingkungan untuk jangka waktu 50.000 tahun ke depan, sudah saatnya bagi ‘negara-negara kuat' untuk mulai mengambil tindakan tegas guna menanggulangi masalah ini.
Bagimana rakyat dapat dibuktikan bersalah karena membuat diri mereka sendiri terkena kanker paru-paru, yakni dikatakan bersalah karena sakit yang ditimbulkannya sendiri, sementara pemerintah tidak bisa dipersalahkan atau digugat? Selain air, satu-satunya zat yang jelas terhisap orang ke dalam paru-paru adalah asap tembakau, jadi pemerintah itulah yang salah. Para ‘peneliti' kedokteran yang malang itu tiba-tiba kebanjiran dana besar serta gratis dari pemerintah yang semua itu ditujukan untuk mencapai hasil ahir yang sama yaitu ‘Membuktikan bahwa merokok menyebabkan kangker paru-paru.' Di pihak lain, para ilmuwan sejati (terutama beberapa ahli fisika nuklir terkemuka) tersenyum geram terhadap upaya-upaya lobi anti-merokok yang menyebalkan itu dan yang membujuk-rayu mereka hingga masuk perangkap yang mematikan itu. Para peneliti kedokteran gadungan itu diundang untuk membuktikan klaim mereka yang salah itu dibawah kaidah-kaidah ilmiah yang sama persis tegasnya dengan yang digunakan ketika membuktikan bahwa partikel-partikel radio aktif menyebabkan kangker paru-paru.
Ingat bahwa teori apapun yang dapat diterima secara ilmiah harus dibuktikan sesuai dengan kaidah-kaidah yang tepat yang secara universal disepakati para ilmuwan. Pertama, agen tersangka (asap tembakau) harus diisolasikan , lalu digunakan dalam kaidah-kaidah laboratorium yang dikendalikn dengan tepat untuk membuktikan hasil yang diklaim, yaitu kanker pada mamalia.
Meskipun sudah memasukkan puluhan ribu tukus dan wirog yang mudah terkontaminasi ke dalam asap tembakau yang ekuivalen dengan 20 batang rokok per hari selama beberapa tahun, ‘ilmu kedokteran' belum pernah berhasil membuktikan adanya kanker paru-paru pada tikus atau wirog manapun. Yah, bacalah benr-benar kalimat itu. Selama lebih dari 40 tahun, ratusan ribu dokter medis telah dengan sengaja membohongi Anda.
Para ilmuwan sejati sudah berhasil memegang kerongkongan para peneliti gadungan itu, sebab dengan ‘membandingkan' antara eksperimen partikel radio aktif yang mematikan dan eksperimen terhadap asap rokok yang ramah dan tidak berbahaya itu, membuktikan dan menyimpulkan selamanya bahwa dalam kondisi apapun merokok tidak dapat menyebabkan kanker paru-paru. Lebih jauh lagi, dalam sebuah eksperimen besar yang ‘kebetulan'itu, mereka tidak pernah diperbolehkan mempublikasikan para ilmuwan sejati membuktikan dengan penjelasan yang mentakjubkan bahwa merokok sebenarnya membantu melindungi terhadap kanker paru-paru .
Semua tikus dan wirog digunakan hanya satu kali dalam sebuah eksperimen tertentu, lalu dihancurkan. Dengan cara ini, para peneliti yakin bahwa hail-hasil dari zat apapun yang sedang mereka uji cobakan tidak dapat secara kebetulan ‘terkontaminasi' oleh pengaruh-pengaruh nyata atau khayalan dari suatu zat lain.
Kemudian suatu hari soeolah-olah magic, beberapa ribu tikus dari eksperimen terhadap merokok'secra kebetulan' menemukan jalan masuk ke dalam eksperimen terhadap partikel radio aktif yang sebelumnya sudah membunuh setiap tikus dan wirog malang yang diuji-cobakan itu. Tetapi saat ini, secara mutlak bukan hal-hal ajaib, 60 % dari tikus dan wirog yang sudah terkena asap tembakau ternyata bertahan hidup dalam kontaminasi partikel-partikel radio aktif itu. Satu-satunya variable adalah penyimpanan mereka terrlebih dahulu dalam ruang dengan kuantitas asap tembakau yang banyak sekali.
________________________________________
Tekanan pemerintah segera dilakukan dan fakta-fakta itupnn disembunyikan, tetapi hal ini tidak sepenuhnya dapat membungkam para ilmuwan sejati. Barangkali lidah di dagu, Profesor Schrauzer, Ketua Asosiasi Ahli Kimia Bio-inorganik Internasional, menyatakan di depan sebuah Komisi Kongres Amerika Serikat tahun 1982 bahwa sudah lama diketahui para ilmuwan bahwa zat-zat tertentu dalam asap tembakau berfungsi sebagai anti-carcinogens (zat anti-kanker) dalam binatang-bimatang percobaan. Dia melanjutkan bahwa ketika carcinogens yang sudah dikenal (zat-zat penyebab kanker) diterapkan terhadap binatang-binatang itu, maka aplikasi zat-zat asap rokok itu ternyat melawan mereka.
Profesor Schrauzer tidak berhenti sampai di sini . Dia lebih jauh menyatakan di atas sumpah di depan Komisi Kongres bahwa ‘tidak ada unsur asap rokok yang terbukti sebagai penyebab kanker paru-paru dalam tubuh hewan-hewan parcobaan di laboratorium akibat dari asap rokok.' Penyataan ini merupakan sebuah jawaban terhadap masalah yang agak membingungkan itu. Jika pemerintah memblokir publikasi makalah ilmiah Anda, ambllah jalan lain dan masukanlah fakta-fakta penting itu ke dalam catatan tertulis Kongres!
Dapat diprediksikan bahwa kebenaran nyata ini mengundang kemarahan pemerintah dan para ‘peneliti' kedokteran gadungan itu. Tahun 1982 sebenarnya mereka sudah mulai mempercayai propaganda mereka yang, dan tidak dapat dibungkam oleh para anggota terkemuka gerakan ilmiah ini. Tiba-tiba saja mereka mengkambing-hitamkan unsur-unsur rahasia yang dimasukkan ke dalam rokok oleh perusahan-perusahaan tembakau. “Yah, mesti demikian!” mereka beramai-ramai menuntut dengan penuh rasa ingin tahu, sampai sekelompok ilmuwan menelepon dan mengemukakan bahwa unsur-unsur ‘rahasia' yang sama sudah dimasukkan ke dalam eksperiman tikus, dan karena itu, juga sudah terbukti tidak dapat menyebabkan kanker paru-paru.
Pemerintah dan komunitas kedokteran semua kelihatannya putus asa. Karena pendanaan anti-merokok sudah mulai dilakukan sejak awal 1960-an, puluhan ribu dokter medis telah lulus dari fakultas kedokteran tempat mereka diajari bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru.' Sebaian besar mempercayai kebohongan itu, namun retak-retak mulai muncul pada cat ‘kebohongan' itu. Malahan, dokter-dokter yang lulus dengan IPK ‘C' tidak mampu membuat korelasi data, dan jika mereka bertanya, mereka diperintahkan agar tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh. Bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru' berubah menjadi sebuah dogma, yakni sebuah mekanisme kepercayaan agama yang pura-pura sebagai wadah kepercayaan taklid yang dijadikan pengganti bukti ilmiah.
Padahal, kepercayaan atas dasar taklid buta itu membutuhkan sebuah sistem penguatan yang positif. Dalam hal ini, sistem itu adalah agen-agen iklan dan media. Tiba-tiba, layer-layar televisi dibanjiri dengan citra tentang paru-paru perokok yang menghitam dan mengerikan, disertai mantera bahwa Anda akan brada dalam kesedihan yang mengerikan apabila Anda tidak berhenti sekarang. Itu semua tentu sampah yang menyedihkan. Di atas tempat tidur mayat, paru-paru seorang perokok dan bukan perokok kelihatan sama persis yaitu merah muda. Satu-satunya yang dapat dikatakan seorang ahli patologi bahwa Anda mungkin sudah menjadi seorang perokok jika dia menemukan lapisan nikotin yang tebal pada jari-jari Anda, sebungkus rokok Camels atau Malboro di dalam saku mantel Anda, atau salah seorang kerabat Anda secara tak bijak mengakui pada catatan bahwa Anda pernah merokok tembakau iblis.
Banyak orang bertanya mengapa tikus yang terkontaminasi asap rokok terlindungi dari partikel-partikel radio aktif yang mematikan, dan lebih banyak orang bertanya mengapa angka-angka nyata sekarang ini menunjukkan bahwa jauh lebih banyak bukan perokok mati karena kanker paru-paru daripada perokok. Profesor Sterling dari Universitas Simon Fraser di Kanada barangkali yang paling mendekati kebenaran. Dia menggunakan makalah-makalah hasil penelitian untuk menarik kesimpulan berdasakan pemikiran yang cermat bahwa merokok itu membentuk formasi lapisan lender tipis di dalam paru-paru, yang menjadi sebuah lapisan pelindung yang menghalangi partikel-partikel penyebab kanker agar tidak bisa memasuki jaringan paru-paru.
Mungkin ini merupakan sebuah penemuan ilmiah yang mendekati kebenaran yang dapat kita lakukan saat ini. Partikel-partikel radio aktif mematikan yang terhisap oleh seorang perokok akan terperangkap pada lapisan lender, dan kemudian dikeluarkan dari tubuh sebelum memasuki jaringan paru-paru.
Semua ini mungkin sedikit menekan bukan perokok, namun ada satu atau dua cara untuk meminimalkan risiko. Daripada menjauh dari perokok di pub atau club Anda, sebaiknya dekatilah sedapat mungkin, dan hisaplah asap bekas mereka yang mahal itu. Teruskan, jangan malu-malu, hisaplah dalam-dalam beberapa kali. Barangkali, Anda juga dapat merokok satu batang sigaret atau cerutu setiap kali sesudah makan, hanya tiga batang sehari untuk membentuk lapisan lender pada paru-paru Anda. Jika Anda tidak bisa atau tidak akan melakukan salah satu dari ketiga saran di atas, pertimbangkan untuk menelepon Michael Jackson untuk meminta sebuah masker cadangan!
Link sumber:
http://www.akhirzaman.info/index.php?option=com_content&view=article&id=1:rokok-bebas-kanker-paru-paru
http: www./joevialls.co.uk/transpositions/smoking.html 4/30/2004
http://www.kapanlagi.com/clubbing/showthread.php?t=16759
link terkait:
http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-07-05-Protein-Anti-Kanker-dari-Tembakau.shtml
http://forum.berani.co.id/default.aspx?g=posts&t=469
link terkait:
nyatanya, iklan rokok pada masa awal industri rokok banyak didukung oleh para dokter, dg slogan2 kesehatan: http://lane.stanford.edu/tobacco/index.html
Mari Kita Merokok,karena Itu Sehat
Bukan propaganda atau pun bermaksud menyesatkan maupun menentang peringatan pemerintah.
Setiap tahun beribu-ribu dokter medis dan anggota ‘Gerakan Anti-Merokok' mengeluarkan milyaran dolar untuk mengabadikan apa yang tak bisa disangkal lagi, sudah menjadi program rekayasa sosial yang walaupun berhasil, tapi paling menyesatkan dalam sejarah. Dengan dorongan dari beberapa pemerintahan Barat, para pelobi Orwellian ini memburu perokok dengan suatu semangat fanatik yang sepenuhuya mengalihkan kegiatan pelarangan alcohol Amerika, yang berawal tahun 1919 dan berlangsung hingga 1933.
Dewasa ini kita melihat ke belakang tentang pelarangan alcohol oleh Amerika dengan rasa keheranan yang dibenarkan. Benar adanya bahwa suatu bangsa secara kesluruhan membiarkan dirinya sendiri untuk tidak boleh minum segelas bir atau scotch oleh sekelompok kecil orang fanatik penabuh genderang? Memang meyedihkan, hal itu benar, meskipun kurangnya bukti bahwa alkohol itu membahayakan manusia jika tidak dikonsumsi terlalu banyak.
Sayang, keselamatan alkohol tidak menarik perhatian para penabuh genderang. Kendali terhadap orang lain merupakan satu-satunya tujuan yang benar bagi mereka. Orang-orang Amerika terlihat ‘berdosa' gara-gara menikmati beberapa jenis minuman alkohol, dan para militant mengetengahinya dengan nama Tuhan untuk membuat mereka semua merasa tidak senang lagi.
Walaupun tidak ada hubungan langsung antara alkohol dan tembakau, sejarah pelarangan Amerika menjadi penting, sebab sejarah itu membantu kita memahami bagaimana sejumlah kecil pengikut fanatik bisa berhasil mengendalikan perilaku dan kehidupan ribuan juta orang. Dewasa ini hal yang persis sama terjadi terhadap perokok, meskipun saat ini masalahnya lebih berada di tangan para pengikut fanatik pemerintah dan praktisi medis yang acuh ketimbang pengikut fanatik agama yang bertindak sebagai penabuh genderang.
Beberapa pemerintahan tertentu tahu bahwa tindakan-tindakan mereka di masa lalu bertanggungjawab langsung atas penyebab kebanyakan kanker paru-paru dan kulit di dunia sekarang ini. Jadi, mereka bertindak terlalu jauh dalam upayanya membelokkan tanggungjawab dan juga utang finansial mereka, dan sebagai gantinya, mereka menimpakannya terhadap tembakau hidup yang tak berbahaya itu. Sebagaimana akan kita lihat kemudian dalam laporan, tembakau hidup yang sederhana itu belum pernah membahayakan siapapun, dan dalam hal-hal tertentu dapat dibenarkan bahwa tembakau itu dapat memberikan proteksi awal bagi kesehatan.
Tidak semua pemerintah di dunia ini menghadapi masalah yang sama. Jepang dan Yunani mempunyai jumlah perokok dewasa terbanyak di dunia, tetapi mempunyai jumlah terkecil penderita kanker paru-paru. Sebaliknya, Amerika , Australia, Rusia, dan beberapa kepulauan Pasifik Selatan memiliki jumlah terkecil perokok dewasa di dunia, tetapi memiliki jumlah tertinggi penderita kanker paru-paru. Ini adalah petunjuk utama dalam membongkar kebohongan kedokteran barat yang mustahil tapi sudah berakar, bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru.'
Kontak pertama orang Eropa dengan tembakau terjadi tahun 1492 ketika Columbus dan rekan petualangnya, Rodriguo de Jerez, melihat penduduk asli merokok di Kuba. Pada hari itu juga de Jerez pertama kalinya mengisap rokok dan dia sangat merasa relaks, sebagaimana penduduk setempat meyakinkannya. Peristiwa ini menjadi penting, sebab de Rodriguo de Jerez menemukan apa yang yang sudah dikenal orang Kuba dan Amerika selama berabad-abad bahwa merokok cerutu dan sigaret tidak hanya membuat relaks, tapi juga menyembuhkan batuk-batuk dan penyakit-penyakit ringan lainnya. Ketika dia pulang ke negerinya, dengan bangganya de Jerez merokok cerutunya di jalan, dan akibatnya diapun segera ditangkap dan dipenjarakan selama tiga tahun oleh Pengadilan Spanyol yang mengerikan itu. Jadi, de Jerez adalah korban pertama lobi anti-merokok.
Dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, merokok menjadi kebiasan yang amat disenangi dan diterima oleh masyarakat di seluruh Eropa. Ribuan ton tembakau diimpor dari berbgai koloni buat memenuhi kebutuhan yang jumlahnya meningkat. Sejumlah penulis memuji tembakau sebagai obat universal untuk penyakit-penyakit manusia. Pada awal abad 20 hampir setiap satu dari dua orang adalah perokok, tetapi jumlah penderita kanker pariu-paru tetap rendah, sehingga hampir dapat diabaikan. Kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa pada 16 Juli 1945, sebuah peristiwa perubahan besar yang ahirnya akan menyebabkan banyak pemerintahan Barat untuk mengubah persepsi tentang merokok selamanya, sebagaimana dikemukakan oleh K. Greisen: “Ketika intensitas sinar itu berkurang, saya simpan gelas minum dan langsung melihat ke menara. Saat-saat itulah saya melihat warna biru mengelilingi awan asap. Kemudian, seseorang berteriak agar kami sebaiknya memperhatikan gelombang kejut yang bergerak di atas tanah. Kemunculannya berupa area melingkar yang bersinar terang dekat dengan tanah, yang pelan-pelan menyebar ke arah kami. Warnanya kuning. Permanennya awan asap itu adalah satu hal yang mengejutkan saya. Sesudah ledakan pertama yang cepat itu, bagian bawah awan tersebut terlihat membuat sebuah bentuk yang tetap dan terus tergantung di udara tanpa bergerak. Sementara itu, bagian atasnya terus naik, sehingga sesudah beberapa menit, bagian ini mencapai ketingian lima mil. Lama-lama, bagian atas ini bentuknya berkelok-elok yang disebabkan oleh velositas angin yang berubah-ubah pada ketinggian yang berbeda. Asap itu sudah menembus awan pada saat awal naiknya asap, dan terlihat tidak terpengaruh sama sekali oleh awan itu.”
Peristiwa jelek ini dikenal dengan ‘Trinity Test' (Tes Trinitas), senjaja nuklir pertama yang kotor ini yang diledakkan di atmosfir. Dengan enam kilogram plutonium yang dipadatkan luar biasa oleh lensa-lensa peledak, Trinitas meledak di atas New Mexico dengan kekuatan mendekati 20.000 ton TNT. Dalam hitungan detik saja, milyaran partikel radio aktif yang mematikan itu tersebar di atmosfir sampai ketinggian enam mil, yang dapat disebarkan pesawat-pesawat jet berkecepatan tingi ke mana-mana.
Pemerintah Amerika sudah tahu tentang radiasi ini terlebih dahulu dan sadar betul akn pengaruh lethal terhadap manusia, tetapi dengan naifnya memerintahkan uji coba itu tanpa memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan sama sekali. Di mata hukum, tindakan ini adalah pelanggaran besar yang jelas salah, namun Pemerintah AS tidak peduli. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan seorang penjahat lainnya untuk dampak jangka panjang yang akan diderita oleh rakyat Amerika sendiri dan warga negara lainnya di darerah-daerah setempat dan terpencil.
Jika sebutir partikel radio aktif mikroskopis mengenai kulit Anda di pantai, maka Anda akan terkena kanker kulit. Coba saja hisap sebutir partikel kotoran yang sama dengan lethal, maka kematian akibat kanker paru-paru tidak dapat dihindari, jika Anda bukan seorang perokok sigaret yang luar biasa beruntung. Partikel radio aktif mikroskopis padat mengubur dirinya sendiri jauh di dalam jaringan paru-paru, membanjiri persediaan vitamin B 17 yang terbatas dalam tubuh, dan menyebabkan pertambahan sel yang menjadi-jadi serta tidak dapat dikendalikan.
Bagaimana kita bisa sepenuhnya yakin bahwa partikel radio aktif yang turun ke tanah itu benar-benar menyebabkan kanker paru-paru setiap saat seorang subjek secara internal terkontaminasi? Bagi para ilmuan, yang sebaliknya dengan dukun-dukun medis dan para propagandis pemerintah, hal ini bukanlah masalah. Bagi teori apapun yang dapat diterima secara ilmiah, teori itu harus dibuktikan sesuai dengan kaidah-kaidah yang tepat yang secara universal disepakati para ilmuwan. Pertama, subjek tersangka radio aktif harus diisolasikan, kemudian digunakan dalam eksperimen-eksperimen lab yang dikedalikan dengan tepat untuk akhirnya mencapai hasil yang dikalaim, misalnya kanker paru-paru pada mamalia.
Melalui prosedur ini, para ilmuwan sudah mengorbankan puluhan ribu tikus dan wirog selama bertahun-tahun, yang dengan sengaja mendedikasikan paru-paru mereka kepada partikel radio aktif. Hasil-hasil penelitian ilmiah dari berbagai jenis eksperimen yang didokumentasikan ternyata persis sama. Setiap tikus atau wirog dengan setia menderita kanker paru-paru, dan kemudian setiap tikus atau wirog mati. Jadi, teori sudah disesuaikan dengan fakta ilmiah yang kuat dibawah kaidah-kaidah lab yang dikendalikan secara ketat. Subjek tersangka (materi radio aktif) menyebabkan hasil yang diklaim (kangker paru-paru) ketika dihisap oleh mamalia.
Besaran keseluruhan risiko kanker paru-paru terhadap manusia dari sebaran radio aktif di atmosfir tidak dapat terlalu dilebih-lebihkan. Sebelum Rusia, Inggris, dan Amerika mengundangkan uji coba nuklir di atmosfir pada 5 Agustus 1963, lebih dari 4.200 kilogram plutonium sudah disebar ke dalam atmosfir. Karena kita tahu bahwa kurang dari satu microgram (1/1.000.000 gram) plutonium yang terhisap menyebabkan kanker paru-paru pada seorang manusia, maka kita tahu bahwa pemerintah Anda yang baik itu sudah menyebarluaskan 4.200.000.000 (4,2 milyar) dosis lethal ke dalam atmosfir, dengan paruh hidupnya bertahan selama minimal 50.000 tahun. Menakutkan, bukan? Sayang sekali, keadaannya malah memburuk. Plutonium yang disebutkan di atas berada di dalam senjata nuklir sebelum peledakan, tetapi kandungan paling besar partikel rdio aktif berasal dari kotoran atau pasir biasa yang terhisap dari tanah, dan teradiasi saat partikel-partikel itu naik ke atas lewat bola api senjata itu. Partikel-partikel ini membentuk bagian ‘asap' terbanyak yang terlihat pada foto peledakan nuklir manapun. Dalam sebagian besar kasus, beberapa ton materi terhisap dan secara permanen terradiasi dalam persimgahan. Namun demikian, mari kita bersikap konservatif dan mengklaim bahwa hanya 1000 kilogram materi permukaan yang terhisap oleh masing-masing uji coba nuklir.
________________________________________
Sebelum dilarang oleh Rusia, Inggris, dan Amerika, ternyata sudah dilakukan 711 uji coba nuklir di atmosfir yang membentuk 712.000 kilogram partikel raio aktif mikroskopis yang masih harus ditambahkan lagi 4.200 kilogram yang berasal dari senjat-senjata mereka sendiri, maka berat kotornya sekalipun masih pakai perhitungan konservatif mencpai 715.200 kilogram. Tiap kilogram mengandung lebih dari satu juta dosis lethal . Ini berarti bahwa pemerintah Anda telah mengkontaminasikan atmosfir Anda dengan lebih dari 715.000.000.000(715 milyar) dosis, sehingga cukup sebagai penyebab kanker paru-paru dan kulit 117 kali pada setiap laki-laki, perempuan, dan anak di muka bumi ini.
Sebelum Anda bertanya, jawabannya ‘Tidak'. Partikel-partikel radio aktif itu tidak akan ‘menghilang' paling tidak selama hidup Anda atau anak dan cucu Anda. Dengan paruh hidup 50.000 tahun atau lebih, trliliunan partikel radio aktif buatan pemerintah yang mematikan ini berada di sekitar Anda selamanya. Dengan disebarluaskan ke seluruh dunia oleh pesawat- pesawat jet yang berkecepatan hebat itu, partikel-partikel tersimpan secara acak meski dalam konsentrasi-konsentrasi yang lebih tinggi dalam jarak beberapa ribu mil dari lokasi uji coba. Ganguan angin atau gangguan permukaan udara lainnya, semua dibutuhkan buat mengaduknya lagi dan menjadikan bahaya yang lebih besar bagi orng-orang di daerah sekitar mereka.
Aktivitas main tendang pasir di sekitar pantai pada musim panas sekarang ini dapat berarti bunuh diri jika Anda mengaduk-aduk partikel-partikel radio aktif yang dapat menempel pada kulit Anda atau terhisap masuk ke dalam paru-paru Anda. Oleh sebab itu, jangan lagi mengolok-olok Michael Jackson waktu dia muncul di bandara udara dengan memakai masker pada hidung dan mulutnya. Mungkin dia tampak eksentrik, tetapi Michael hampir pasti menyelamtkan hidup kita.
Dua belas tahun sesudah Tes Trinitas yang membawa bencana ini, menjadi jelas bagi dunia Barat bahwa banyak hal semakin tidak terkontrol. Laporan Badan Penelitian Kedokteran Inggris menyatakan bahwa angka kematian global akibat kanker paru-paru sudah lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu 1945 sampai 1955, meskipun tidak ada penjelasan yang diberikan. Dalam periode 10 tahun berikutnya, angka kematian akibat kanker paru-paru di lingkungan sekitar Hiroshima dan Nagasaki meningkat tiga kali lipat. Setelah sepenuhnya merusak lingkungan untuk jangka waktu 50.000 tahun ke depan, sudah saatnya bagi ‘negara-negara kuat' untuk mulai mengambil tindakan tegas guna menanggulangi masalah ini.
Bagimana rakyat dapat dibuktikan bersalah karena membuat diri mereka sendiri terkena kanker paru-paru, yakni dikatakan bersalah karena sakit yang ditimbulkannya sendiri, sementara pemerintah tidak bisa dipersalahkan atau digugat? Selain air, satu-satunya zat yang jelas terhisap orang ke dalam paru-paru adalah asap tembakau, jadi pemerintah itulah yang salah. Para ‘peneliti' kedokteran yang malang itu tiba-tiba kebanjiran dana besar serta gratis dari pemerintah yang semua itu ditujukan untuk mencapai hasil ahir yang sama yaitu ‘Membuktikan bahwa merokok menyebabkan kangker paru-paru.' Di pihak lain, para ilmuwan sejati (terutama beberapa ahli fisika nuklir terkemuka) tersenyum geram terhadap upaya-upaya lobi anti-merokok yang menyebalkan itu dan yang membujuk-rayu mereka hingga masuk perangkap yang mematikan itu. Para peneliti kedokteran gadungan itu diundang untuk membuktikan klaim mereka yang salah itu dibawah kaidah-kaidah ilmiah yang sama persis tegasnya dengan yang digunakan ketika membuktikan bahwa partikel-partikel radio aktif menyebabkan kangker paru-paru.
Ingat bahwa teori apapun yang dapat diterima secara ilmiah harus dibuktikan sesuai dengan kaidah-kaidah yang tepat yang secara universal disepakati para ilmuwan. Pertama, agen tersangka (asap tembakau) harus diisolasikan , lalu digunakan dalam kaidah-kaidah laboratorium yang dikendalikn dengan tepat untuk membuktikan hasil yang diklaim, yaitu kanker pada mamalia.
Meskipun sudah memasukkan puluhan ribu tukus dan wirog yang mudah terkontaminasi ke dalam asap tembakau yang ekuivalen dengan 20 batang rokok per hari selama beberapa tahun, ‘ilmu kedokteran' belum pernah berhasil membuktikan adanya kanker paru-paru pada tikus atau wirog manapun. Yah, bacalah benr-benar kalimat itu. Selama lebih dari 40 tahun, ratusan ribu dokter medis telah dengan sengaja membohongi Anda.
Para ilmuwan sejati sudah berhasil memegang kerongkongan para peneliti gadungan itu, sebab dengan ‘membandingkan' antara eksperimen partikel radio aktif yang mematikan dan eksperimen terhadap asap rokok yang ramah dan tidak berbahaya itu, membuktikan dan menyimpulkan selamanya bahwa dalam kondisi apapun merokok tidak dapat menyebabkan kanker paru-paru. Lebih jauh lagi, dalam sebuah eksperimen besar yang ‘kebetulan'itu, mereka tidak pernah diperbolehkan mempublikasikan para ilmuwan sejati membuktikan dengan penjelasan yang mentakjubkan bahwa merokok sebenarnya membantu melindungi terhadap kanker paru-paru .
Semua tikus dan wirog digunakan hanya satu kali dalam sebuah eksperimen tertentu, lalu dihancurkan. Dengan cara ini, para peneliti yakin bahwa hail-hasil dari zat apapun yang sedang mereka uji cobakan tidak dapat secara kebetulan ‘terkontaminasi' oleh pengaruh-pengaruh nyata atau khayalan dari suatu zat lain.
Kemudian suatu hari soeolah-olah magic, beberapa ribu tikus dari eksperimen terhadap merokok'secra kebetulan' menemukan jalan masuk ke dalam eksperimen terhadap partikel radio aktif yang sebelumnya sudah membunuh setiap tikus dan wirog malang yang diuji-cobakan itu. Tetapi saat ini, secara mutlak bukan hal-hal ajaib, 60 % dari tikus dan wirog yang sudah terkena asap tembakau ternyata bertahan hidup dalam kontaminasi partikel-partikel radio aktif itu. Satu-satunya variable adalah penyimpanan mereka terrlebih dahulu dalam ruang dengan kuantitas asap tembakau yang banyak sekali.
________________________________________
Tekanan pemerintah segera dilakukan dan fakta-fakta itupnn disembunyikan, tetapi hal ini tidak sepenuhnya dapat membungkam para ilmuwan sejati. Barangkali lidah di dagu, Profesor Schrauzer, Ketua Asosiasi Ahli Kimia Bio-inorganik Internasional, menyatakan di depan sebuah Komisi Kongres Amerika Serikat tahun 1982 bahwa sudah lama diketahui para ilmuwan bahwa zat-zat tertentu dalam asap tembakau berfungsi sebagai anti-carcinogens (zat anti-kanker) dalam binatang-bimatang percobaan. Dia melanjutkan bahwa ketika carcinogens yang sudah dikenal (zat-zat penyebab kanker) diterapkan terhadap binatang-binatang itu, maka aplikasi zat-zat asap rokok itu ternyat melawan mereka.
Profesor Schrauzer tidak berhenti sampai di sini . Dia lebih jauh menyatakan di atas sumpah di depan Komisi Kongres bahwa ‘tidak ada unsur asap rokok yang terbukti sebagai penyebab kanker paru-paru dalam tubuh hewan-hewan parcobaan di laboratorium akibat dari asap rokok.' Penyataan ini merupakan sebuah jawaban terhadap masalah yang agak membingungkan itu. Jika pemerintah memblokir publikasi makalah ilmiah Anda, ambllah jalan lain dan masukanlah fakta-fakta penting itu ke dalam catatan tertulis Kongres!
Dapat diprediksikan bahwa kebenaran nyata ini mengundang kemarahan pemerintah dan para ‘peneliti' kedokteran gadungan itu. Tahun 1982 sebenarnya mereka sudah mulai mempercayai propaganda mereka yang, dan tidak dapat dibungkam oleh para anggota terkemuka gerakan ilmiah ini. Tiba-tiba saja mereka mengkambing-hitamkan unsur-unsur rahasia yang dimasukkan ke dalam rokok oleh perusahan-perusahaan tembakau. “Yah, mesti demikian!” mereka beramai-ramai menuntut dengan penuh rasa ingin tahu, sampai sekelompok ilmuwan menelepon dan mengemukakan bahwa unsur-unsur ‘rahasia' yang sama sudah dimasukkan ke dalam eksperiman tikus, dan karena itu, juga sudah terbukti tidak dapat menyebabkan kanker paru-paru.
Pemerintah dan komunitas kedokteran semua kelihatannya putus asa. Karena pendanaan anti-merokok sudah mulai dilakukan sejak awal 1960-an, puluhan ribu dokter medis telah lulus dari fakultas kedokteran tempat mereka diajari bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru.' Sebaian besar mempercayai kebohongan itu, namun retak-retak mulai muncul pada cat ‘kebohongan' itu. Malahan, dokter-dokter yang lulus dengan IPK ‘C' tidak mampu membuat korelasi data, dan jika mereka bertanya, mereka diperintahkan agar tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh. Bahwa ‘merokok menyebabkan kanker paru-paru' berubah menjadi sebuah dogma, yakni sebuah mekanisme kepercayaan agama yang pura-pura sebagai wadah kepercayaan taklid yang dijadikan pengganti bukti ilmiah.
Padahal, kepercayaan atas dasar taklid buta itu membutuhkan sebuah sistem penguatan yang positif. Dalam hal ini, sistem itu adalah agen-agen iklan dan media. Tiba-tiba, layer-layar televisi dibanjiri dengan citra tentang paru-paru perokok yang menghitam dan mengerikan, disertai mantera bahwa Anda akan brada dalam kesedihan yang mengerikan apabila Anda tidak berhenti sekarang. Itu semua tentu sampah yang menyedihkan. Di atas tempat tidur mayat, paru-paru seorang perokok dan bukan perokok kelihatan sama persis yaitu merah muda. Satu-satunya yang dapat dikatakan seorang ahli patologi bahwa Anda mungkin sudah menjadi seorang perokok jika dia menemukan lapisan nikotin yang tebal pada jari-jari Anda, sebungkus rokok Camels atau Malboro di dalam saku mantel Anda, atau salah seorang kerabat Anda secara tak bijak mengakui pada catatan bahwa Anda pernah merokok tembakau iblis.
Banyak orang bertanya mengapa tikus yang terkontaminasi asap rokok terlindungi dari partikel-partikel radio aktif yang mematikan, dan lebih banyak orang bertanya mengapa angka-angka nyata sekarang ini menunjukkan bahwa jauh lebih banyak bukan perokok mati karena kanker paru-paru daripada perokok. Profesor Sterling dari Universitas Simon Fraser di Kanada barangkali yang paling mendekati kebenaran. Dia menggunakan makalah-makalah hasil penelitian untuk menarik kesimpulan berdasakan pemikiran yang cermat bahwa merokok itu membentuk formasi lapisan lender tipis di dalam paru-paru, yang menjadi sebuah lapisan pelindung yang menghalangi partikel-partikel penyebab kanker agar tidak bisa memasuki jaringan paru-paru.
Mungkin ini merupakan sebuah penemuan ilmiah yang mendekati kebenaran yang dapat kita lakukan saat ini. Partikel-partikel radio aktif mematikan yang terhisap oleh seorang perokok akan terperangkap pada lapisan lender, dan kemudian dikeluarkan dari tubuh sebelum memasuki jaringan paru-paru.
Semua ini mungkin sedikit menekan bukan perokok, namun ada satu atau dua cara untuk meminimalkan risiko. Daripada menjauh dari perokok di pub atau club Anda, sebaiknya dekatilah sedapat mungkin, dan hisaplah asap bekas mereka yang mahal itu. Teruskan, jangan malu-malu, hisaplah dalam-dalam beberapa kali. Barangkali, Anda juga dapat merokok satu batang sigaret atau cerutu setiap kali sesudah makan, hanya tiga batang sehari untuk membentuk lapisan lender pada paru-paru Anda. Jika Anda tidak bisa atau tidak akan melakukan salah satu dari ketiga saran di atas, pertimbangkan untuk menelepon Michael Jackson untuk meminta sebuah masker cadangan!
Link sumber:
http://www.akhirzaman.info/index.php?option=com_content&view=article&id=1:rokok-bebas-kanker-paru-paru
http: www./joevialls.co.uk/transpositions/smoking.html 4/30/2004
http://www.kapanlagi.com/clubbing/showthread.php?t=16759
link terkait:
http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-07-05-Protein-Anti-Kanker-dari-Tembakau.shtml
http://forum.berani.co.id/default.aspx?g=posts&t=469
link terkait:
nyatanya, iklan rokok pada masa awal industri rokok banyak didukung oleh para dokter, dg slogan2 kesehatan: http://lane.stanford.edu/tobacco/index.html
NgapuntenE
Ngapuntene, ayem sorry, ngafwan, lan mohon maaf. Kepada semua tamu dan kerabat yang suka berkunjung ke gubug cinta-suci ini, diberitahukan bahwa khusus bulan ramadhan hingga awal-awal syawal, tuan rumah hendak pergi. jadi, boleh saja berkunjung; buka-buka, baca-baca, atau ngeklik link-link yang ada.
bat, ayem sorry, pada bulan2 itu cinta-suci belum akan membuat suguhan baru....
ngapuntene,
Penghuni Cinta-Suci,
Jenderal Qi
bat, ayem sorry, pada bulan2 itu cinta-suci belum akan membuat suguhan baru....
ngapuntene,
Penghuni Cinta-Suci,
Jenderal Qi
ramadhan
ahai, ramadhan telah datang... bolehkah kita berbahagia, kawan? ya, yap. mari kita menari-nari, menyambut kedatangan bulan bahagia ini. mari bernyanyi-nyanyi, memburu sejuknya hujah rohani....
Tentang Hari Ini dan Kambing-Kambing Sang Guru
Sekitar jam 3 baru tidur, terbangun pukul nam. Duh, gak dapet subuh lagi, neh. Aku jadi teringat mimpi kemarin, mimpi yang pernah merasuk ke dalam memori--setelah bertahuntahun tak ingat mimpi-mimpiku sesudah terjagaku.
Aku punya kambing. Entah darimana asalnya, tiba2 sang guru datang, berdehem2 dengna membawa kambing2nya sendiri yang gemuk2 habis. Aku terpana, seperti ada sesuatu rahasia yang tersimpan dalam cara jalan mereka, kambing-kambing itu. Adakah mereka disuntik gemuk sehingga tubuhnya menggelembung?
Belum sempat kujawab pertanyaan dalam hatiku, mimpi itu berkelebat. Sang Guru berkepala botak itu terlihat sedang membawa rumput2, meletakkannya di tempat makan kambing2nya di dekat kandang. Kambing2 itu pun menggerus, mengunyah dengan lahap.
"Makanin kambing yang serius, yang istiqomah. Minimal lima kali sehari, biar nggak kurus. Lha kamu, dua kali sehari. Ya kambiingmu kurus2!" kata Sang Guru tiba-tiba, seakan mengarahkannya kepadaku.
Lalu, pleszart! tak ada lagi mimpi yang tercover memori... aku bangun, saat subuhku hilang...
Hm, ya, aku jadi teringat mimpi itu. Aku buka rahasia tafsir mimpi; Ah, benarkah hewan pemakan rumput ataupun herbivora melambangkan rohani? jika demikian, sang guru sedang bicara tentang rohani kemarin malam--dalam mimpiku itu? berbicara tentang shalat dan rumput2 penyegar jiwa?
allahummahdina!!
Aku punya kambing. Entah darimana asalnya, tiba2 sang guru datang, berdehem2 dengna membawa kambing2nya sendiri yang gemuk2 habis. Aku terpana, seperti ada sesuatu rahasia yang tersimpan dalam cara jalan mereka, kambing-kambing itu. Adakah mereka disuntik gemuk sehingga tubuhnya menggelembung?
Belum sempat kujawab pertanyaan dalam hatiku, mimpi itu berkelebat. Sang Guru berkepala botak itu terlihat sedang membawa rumput2, meletakkannya di tempat makan kambing2nya di dekat kandang. Kambing2 itu pun menggerus, mengunyah dengan lahap.
"Makanin kambing yang serius, yang istiqomah. Minimal lima kali sehari, biar nggak kurus. Lha kamu, dua kali sehari. Ya kambiingmu kurus2!" kata Sang Guru tiba-tiba, seakan mengarahkannya kepadaku.
Lalu, pleszart! tak ada lagi mimpi yang tercover memori... aku bangun, saat subuhku hilang...
Hm, ya, aku jadi teringat mimpi itu. Aku buka rahasia tafsir mimpi; Ah, benarkah hewan pemakan rumput ataupun herbivora melambangkan rohani? jika demikian, sang guru sedang bicara tentang rohani kemarin malam--dalam mimpiku itu? berbicara tentang shalat dan rumput2 penyegar jiwa?
allahummahdina!!
SALSABILA!
novel pencarian hakekat
Bagian Pertama:
TAREKAT KOPI MUNYENG (3)
Si pengamen bukannya takut mendengar nama itu. Ia malah marah. Tapi, aku kuat-kuatkan juga mentalku. Aku berdiri, sok mau kelahi. Si pengamen sendiri yang kemudian pergi. Dengan sumpah serapah yang tak jelas suaranya.
“Hmm, pasti orang baru dia, Mas.... nggak kenal Cak Dikin...,” bisikku pada diri sendiri, dengan mengeraskan sedikit suara ke arah Sugi yang terlihat gemetar dan berkeringat. Aku duduk kembali, sok tidak perhatian sama kang sugi. Sebenarnyalah, aku teringat kawanku di pondok dulu yang bernama Jemino. Persis, orangnya persis dengan Sugi—waktu itu aku nggak kenal namanya sugi. Yang jelas, sama deh ingah-ingihnya, persis culun-culunnya. Juga wajah sok gak punya dosanya. Semuanya sama. Kecuali beberapa hal yang menjadi ciri khas masing-masing: rambut. Rambut Jemino agak ngombak, kalau rambut kang Sugi ini tampaknya super keriting. Hampir Kribo. Buegh. Kalau saja saat itu bukan dia yang ndekatin aku dahulu, aku tak sudi mengakrabinya.
Setelah orang di sampingku turun, dan tempat duduk di sampingku kosong, kulihat kang sugi pelan-pelan dan penuh keraguan, mendekat. Ia tempelkan sedikit bokongnya ke jok yang kosong. Ah! Tiap lihat orang yang seperti ini, yang sok peragu, sok sopan, rasanya aku pengen mbentak. Ihh! Geregetan aja!
Takut-takut, ia melirik ke arahku, “Mas...”
Aku pura-pura tak melihat, aku tetap memandang pertokoan di kanan jalan dari dalam jendela.
“Mas, ...”
Bagian Pertama:
TAREKAT KOPI MUNYENG (3)
Si pengamen bukannya takut mendengar nama itu. Ia malah marah. Tapi, aku kuat-kuatkan juga mentalku. Aku berdiri, sok mau kelahi. Si pengamen sendiri yang kemudian pergi. Dengan sumpah serapah yang tak jelas suaranya.
“Hmm, pasti orang baru dia, Mas.... nggak kenal Cak Dikin...,” bisikku pada diri sendiri, dengan mengeraskan sedikit suara ke arah Sugi yang terlihat gemetar dan berkeringat. Aku duduk kembali, sok tidak perhatian sama kang sugi. Sebenarnyalah, aku teringat kawanku di pondok dulu yang bernama Jemino. Persis, orangnya persis dengan Sugi—waktu itu aku nggak kenal namanya sugi. Yang jelas, sama deh ingah-ingihnya, persis culun-culunnya. Juga wajah sok gak punya dosanya. Semuanya sama. Kecuali beberapa hal yang menjadi ciri khas masing-masing: rambut. Rambut Jemino agak ngombak, kalau rambut kang Sugi ini tampaknya super keriting. Hampir Kribo. Buegh. Kalau saja saat itu bukan dia yang ndekatin aku dahulu, aku tak sudi mengakrabinya.
Setelah orang di sampingku turun, dan tempat duduk di sampingku kosong, kulihat kang sugi pelan-pelan dan penuh keraguan, mendekat. Ia tempelkan sedikit bokongnya ke jok yang kosong. Ah! Tiap lihat orang yang seperti ini, yang sok peragu, sok sopan, rasanya aku pengen mbentak. Ihh! Geregetan aja!
Takut-takut, ia melirik ke arahku, “Mas...”
Aku pura-pura tak melihat, aku tetap memandang pertokoan di kanan jalan dari dalam jendela.
“Mas, ...”
Terlelaplah Kawan, Di Buaian Shalawat
August 11, 2008
Kusenandungkan shalawat, dan engkau tampaknya merasakan tenang teramat sangat. Ah, kau tentu ingat kawan, di masa engkau berada di pangkuan. Shalawat yang kukirim beserta goyangan-goyangan itu, membuatmu mengatupkan mata; mengirimkan angin sorga yang mengajakmu bermain-main dalam alam kantuk.
Kawan, kemarin. Dan kemarinnya lagi. Aku pulang. Dan tak sempat. Sungguh tak sempat, aku senandungkan shalawat. Tak seperti tadi. Pagi tadi, sebelum kita berpisah, kawan, aku teringat kakakmu dulu, pernah tertidur di himpitan dua tanganku, dengan shalawat…
Allahulkafi rabbunalkafi qasadnalkafi wajadnal kafi
Likulli kafi kafaanalkafi wani’mal kafi alhamdulillah…
Mugi-mugio den sembadani panyuwun kulo dateng ilahi
Kawulo nyuwun husnul khotimah saged ngibadah kang istiqomah..
Dan tiba-tiba, engkau sudah tertidur..
Kusenandungkan shalawat, dan engkau tampaknya merasakan tenang teramat sangat. Ah, kau tentu ingat kawan, di masa engkau berada di pangkuan. Shalawat yang kukirim beserta goyangan-goyangan itu, membuatmu mengatupkan mata; mengirimkan angin sorga yang mengajakmu bermain-main dalam alam kantuk.
Kawan, kemarin. Dan kemarinnya lagi. Aku pulang. Dan tak sempat. Sungguh tak sempat, aku senandungkan shalawat. Tak seperti tadi. Pagi tadi, sebelum kita berpisah, kawan, aku teringat kakakmu dulu, pernah tertidur di himpitan dua tanganku, dengan shalawat…
Allahulkafi rabbunalkafi qasadnalkafi wajadnal kafi
Likulli kafi kafaanalkafi wani’mal kafi alhamdulillah…
Mugi-mugio den sembadani panyuwun kulo dateng ilahi
Kawulo nyuwun husnul khotimah saged ngibadah kang istiqomah..
Dan tiba-tiba, engkau sudah tertidur..
Istirah-3
mungkin selingan memang perlu
tak bisalah kuposting novel melulu
meski rencananya begitu
tapi toh tak bisa semudah itu
pengendapanpengendapan
penyaringan dan pembuntingan
kan juga dibutuhkan
ah, kau
jangan menuntutku secepat itu
sabarlah
sembari berdoa
semoga dunia ini masih ada
hingga novelku lengkap tercipta
tak bisalah kuposting novel melulu
meski rencananya begitu
tapi toh tak bisa semudah itu
pengendapanpengendapan
penyaringan dan pembuntingan
kan juga dibutuhkan
ah, kau
jangan menuntutku secepat itu
sabarlah
sembari berdoa
semoga dunia ini masih ada
hingga novelku lengkap tercipta
Istirah-2
Di balik lenguh mulut yang menguapnguap
sebenarnyalah tersimpan bara semangat
Di wajah yang kuyu layu
sejatinya masih ada gairah yang mengharu biru
kau tentu tahu itu
hanya saja, tubuh perlu diletakkan
di atas meja
biar jadi santapan
jiwajiwa
sebenarnyalah tersimpan bara semangat
Di wajah yang kuyu layu
sejatinya masih ada gairah yang mengharu biru
kau tentu tahu itu
hanya saja, tubuh perlu diletakkan
di atas meja
biar jadi santapan
jiwajiwa
Istirah
jikalau kau lelah
jika tubuh kau serasa dibelahbelah
jika tulang kau seperti patahpatah
istirahlah
rebahkan badan
luruskan tulangtulang
biarkan sejenak matamu pejam
jika tubuh kau serasa dibelahbelah
jika tulang kau seperti patahpatah
istirahlah
rebahkan badan
luruskan tulangtulang
biarkan sejenak matamu pejam
SALSABILA!
novel pencarian hakekat
Bagian Pertama:
TAREKAT KOPI MUNYENG (2)
Rabu, 30 Juli 2008
4:50:46
Waktu itu dia mengenakan celana abu-abu, persis seragam anak sma. Kepalanya botak. Matanya masuk ke dalam kepala, tepat di tengah cekungan tengkoraknya. Meski demikian, tampak bersinar-sinar. Ia mengenakan kacamata bulat yang tampaknya sekadar asesoris saja. Bibirnya kering, dan wajahnya yang tirus menonjolkan tulang-tulang yang runcing. Menurut guruku di SMP dulu, orang yang berciri fisik seperti Sugi adalah orang yang cerdas, namun penakut. Aku tahu itu. Dan itu semua terbukti ketika seorang pengamen menodongkan belati kepadanya. Ya, aku katakan pengamen, memang demikian adanya. Di kota ini, pengamen kadang harus mengeluarkan belati demi meminta lima ratus atau seribu perak.
Ketika keringatnya mulai membasahi dahinya, dan si pengamen semakin nekat menodongkan belati kecilnya itu, sementara Sugi tampaknya tidak hendak memberikan uangnya, aku berdehem. Si pengamen melirik ke arahku. Aku tersenyum, lalu kuberikan selembar sepuluh ribu. Si pengamen agak marah pula dicampuri urusannya.
“Ayo terima.”
Bukannya menerima, dia malah mendelik.
“Jangan sok ganteng. Apa sampeyan orang baru di sini, hah? Kenal Cak Dikin wetan terminal, gak?” kataku ikut mendelik pula.
Bagian Pertama:
TAREKAT KOPI MUNYENG (2)
Rabu, 30 Juli 2008
4:50:46
Waktu itu dia mengenakan celana abu-abu, persis seragam anak sma. Kepalanya botak. Matanya masuk ke dalam kepala, tepat di tengah cekungan tengkoraknya. Meski demikian, tampak bersinar-sinar. Ia mengenakan kacamata bulat yang tampaknya sekadar asesoris saja. Bibirnya kering, dan wajahnya yang tirus menonjolkan tulang-tulang yang runcing. Menurut guruku di SMP dulu, orang yang berciri fisik seperti Sugi adalah orang yang cerdas, namun penakut. Aku tahu itu. Dan itu semua terbukti ketika seorang pengamen menodongkan belati kepadanya. Ya, aku katakan pengamen, memang demikian adanya. Di kota ini, pengamen kadang harus mengeluarkan belati demi meminta lima ratus atau seribu perak.
Ketika keringatnya mulai membasahi dahinya, dan si pengamen semakin nekat menodongkan belati kecilnya itu, sementara Sugi tampaknya tidak hendak memberikan uangnya, aku berdehem. Si pengamen melirik ke arahku. Aku tersenyum, lalu kuberikan selembar sepuluh ribu. Si pengamen agak marah pula dicampuri urusannya.
“Ayo terima.”
Bukannya menerima, dia malah mendelik.
“Jangan sok ganteng. Apa sampeyan orang baru di sini, hah? Kenal Cak Dikin wetan terminal, gak?” kataku ikut mendelik pula.
SALSABILA!
novel pencarian hakekat
Bagian Pertama:
TAREKAT KOPI MUNYENG (1)
Senin, 28 Juli 2008
21:55
Serentak, seluruh ruangan hanya berisi senyap. halaqah orang-orang yang memadati ruangan seukuran lapangan sepakbola itu, yang semula riuh rendah dan bising oleh ocehan masing-masing, mendadak terdiam saat sosok itu datang. Seakan-akan seluruh perhatian dunia tersedot habis ke dalam sosok berpakaian putih-putih itu. Ia masih muda. Atau dapat dikatakan terlalu muda untuk seorang kiai yang berwibawa.
“Inikah orangnya?” bisikku, penasaran.
“Sst! Diam.” Temanku balas membisik.
“Ok, tapi inikah dia, Syaikh Jibroil yang kamu ceritakan?”
“Bukan... ini asistennya.”
Oh! Jadi ini baru asistennya? Jika asistennya saja sudah dapat memengaruhi ratusan orang yang ada dalam ruangan ini, bagaimana halnya dengan Syaikh Jibroil sendiri? Terus terang, cerita-cerita kebesaran tentang Syaikh Jibroil semakin membuatku penasaran—apalagi ketika aku melihat kenyataan ini. Aku ingin sekali bertanya ini itu tentang Syaikh Jibroil kepada Sugi, tapi dengan cekatan, ketika aku baru saja membuka mulutku, ia mengacungkan jemarinya di depan bibirnya. Dan sia-sialah niatku. Sugi mengacungkan jemarinya ke depan, memberiku isyarat agar mendengar petuah sang asisten Syaikh Jibroil.
“Sampurasun salamun ‘alaikum....”
Semua yang ada di ruang itu membalas dengan serempak, dengan nada berat yang mengguncang ruangan itu, memantul-mantul di seluruh sisi temboknya: “Rampes wa’alaikum salamun!”
Kemudian sang asisten mulai menyanyi. Aku nggak tahu, lagu apa yang ia nyanyikan, namun kukira serupa dengan dendangan lagu jawa. Lirik-liriknya tidak kupahami, tetapi aku yakin—dan demikianlah yang kurasa saat itu—bahwa lagu itu memiliki nuansa mistik yang kental. Pada bagian tertentu, para jamaah mengeluarkan ponsel mereka. Lalu dengan gerakan seragam, tangan mereka mematikan ponsel masing-masing. Aku tahu, mungkin ini sudah kesepakatan jamaah. Tapi entahlah, aku tidak demikian peduli. Siapa yang peduli jika pikiranmu telah dipenuhi rasa ingin tahu tentang nama besar Syaikh Jibroil?
Ketika kemudian sang asisten bertepuk dua kali, para jamaah membukakan mulutnya. Lalu secara bersamaan, mengucapkan syahadat rabbi, syahadat nabi, dan yang terakhir, syahadat wali.
“Aku bersaksi allah tuhan kami
Aku bersaksi, muhammad nabi kami
Aku bersaksi, Syaikh Jibroil wali kutub bumi ini..”
Kemudian kemenyan dibakar. Dupa-dupa di setiap pojok ruang, juga dinyalakan. Wangi semerbak memenuhi segenap udara di dalam ruang itu. Juga asap yang mengepul menyesakkan mata.
Sang asisten, perlahan masuk. Beberapa saat kemudian, ia datang kembali, membawa secangkir kopi, sebotol air putih, dan segenggam kembang setaman. Semua itu diletakkanya di tengah jamaah yang melingkar.
Sang asisten duduk bersila di tengah halaqah. Kedua tangannya tepat berada di sudut lutut. Tatapnya ke lantai. Tepat ke arah dupa yang mengepulkan asap di depannya. Seakan-akan, ia hendak memakan seluruh asap itu dengan matanya.
“Assalamu’alaikum...” katanya dengan suara lirih, nyaris tak membuat bibirnya bergerak. Namun, suar alirih itu sudah sangat cukup untuk membuat seluruh ruangan mendengar kata-katanya, “Syaikh jibroil telah mewasiatkan kepada saya... untuk satu minggu ini, saya pimpin jamaah aurad dan hizib ini. Sedang mbah madun yang akan memimpin shalawat...”
Aku memandang Sugi. Ia tak berkedip. Aku memandang wajah para jamaah yang lain. Mereka juga tak berkedip. Seakan, mereka sama sekali tidak terkejut dengan berhalangannya Syaikh Jibroil. Seolah mereka tidak bertanya-tanya, mengapa syaikh tiba-tiba digantikan posisinya. Aku ingin sekali bertanya, tetapi jika melihat wajah-wajah datar itu, aku pesimis. Aku pasti hanya akan mendapati mereka memelototkan mata, mengacungkan jemari di depan bibir mereka seraya mendesis dengan keras. Atau justru aku dapat diusir keluar. Ah, apakah mereka berhati batu? Ataukah mereka semua telah mabuk oleh aroma kemenyan yang bergulung-gulung ini?
Kemudian suara dzikir mulai keluar dari sang asisten. Dan jamaah menirukan. “Laaa ilaaaaa ha illlallah...! laaaa ilaaaaha illla llah!”
Berguntur-guntur koor dzikir itu. Menggelegar. Seperti hendak meruntuhkan seluruh tembok bangunan ini.
“Illallah! Illlallah!”
Kulihat dupa semakin mengepul. Ruangan sudah menjadi semakin putih. Mata semakin perih. Beberapa di antara jamaah bahkan terbatuk di tengah dzikir mereka. Tapi mereka tidak berhenti. Kemenyan ditambah lagi. Kecepatan dzikir ditambah, lebih cepat lagi.
“illallah! Illallah!”
Kukejapkan mataku. Sugi menggeleng-gelengkan kepala, seirama dzikir bersama. Matanya terpejam. Tubuhnya menghentak-hentak. Mulutnya menganga. Sengaja sedikit kusenggol pahanya dengan ujung kaki. Tampaknya ia tak merasakan apa-apa. Mungkinkah mereka telah ekstase?
“Illallah! Illallah!”
Mataku semakin perih. Memaksaku memejam. Kepalaku juga pening. Dan semakin berputaranlah otakku begitu indera penglihatanku terkatup. Aku seperti melayang. Seluruh bulu di tubuhku seperti berdiri. Aku merinding. Sebentar kemudian, keringat dingin mulai meleleh. Aroma dupa semakin menyedak. Kepalaku semakin berat. Tiba-tiba, pintu ruangan itu seperti terbuka. Seorang tua berjubah hitam-hitam dengan secepat kilat melayang. Lalu mengambang di tengah ruang. Kukerjap-kerjapkan mataku. Aku tak percaya. Aku tak percaya.
“Allahu!”
Dan dzikir itu berhenti...
Kupejal-pejalkan mataku yang pedih. Sosok hitam-hitam itu sudah tidak ada. Ah, siapakah dia? Apakah itu hanya bayang-bayang yang bermain di imajiku saja?
Di tengah, sang asisten mendehem panjang. Suaranya bergetar, seperti orang yang tidak memiliki kontrol lagi terhadap dirinya sendiri.
“Shalatun ‘ala thaha!”
Dan bersamaan dengan suara itu, ia melempar entah apa ke arah dupa. Asap menjadi berlipat-lipat. Aroma harum semerbak kembang menyeruak. Menyesakkan dada dan otak. Seperdetik kemudian, seluruh penjuru ruangan mengumandangkan shalawat. Para jamaah tetap bersila, hanya saja, sekarang tidak lagi mengikuti irama yang menghentak. Namun, tubuh mereka seperti lunglai, bergoyang-goyang mengikuti irama shalawat yang gemulai.
Sungguh, jika tidak karena sugi di ruangan ini, aku sudah keluar dan pergi. Mataku pedih. Otakku mendidih. Perutku mual. Tubuhku lemah tak bertenaga. Seperti akan muntah saja.
Seperempat jam kemudian, kepalaku terasa semakin berat. Mataku pun demikian. Suara-suara, bentuk-bentuk, dan aroma menjadi kabur. Sekali lagi, dalam pejaman mata yang diiringi desisan dzikir itu, aku melihat sesosok hitam-hitam melesat menuju tengah ruang. Aku tidak tahu, apakah ini kenyataan? Sosok hitam itu bukan orang tua seperti yang kulihat pertama tadi. Ia seorang gadis nan jelita dengan mata molar-molar dan alis yang mbulan sabit. Rambutnya gemulai, mengular dari balik jilbabnya yang tidak terlalu panjang. Tubuhnya gemulai. Melingkar-lingkar seperti peer, pejal dan berputar. Kakinya yang jenjang, seperti bergemiricik dengan gelang kaki yang diberi kerincingan. Ya, ya, ia mulai menari. Tangan langsatnya melesat ke kanan dan ke kiri, lalu menghentak bersamaan dengan tubuhnya yang tertarik ke belakang, memperlihatkan lekuk-lekuk indah perempuan. Ah, apakah aku bermimpi?
Gadis itu kini mengelilingi lingkaran. Ia cibakkan air cawan yang diambilnya dari tengah lingkaran kepada setiap jamaah. Setiap orang yang didekatinya menengadah pasrah. Membuka mulutnya lebar-lebar, dan membiarkan mulutnya dibasahi air cawan. Dengan lincah, ia seperti meloncat dari satu jamaah ke jamaah yang lain. Dan semua itu, semua gerakan indahnya itu, dihiasinya dengan senyum terkulum yang basah. Ah, gadis itu melesat. Hilang, beberapa langkah sebelum tiba bagianku menengadahkan mulut. Bersamaan dengan itu, tubuh ini mendadak bergetar hebat. Ada kegalauan yang menggebalau di dasar jiwaku, meletup-letup, merajuk-rajuk. Ah, mengapa tiba-tiba aku merasa kehilangan segalanya begitu gadis itu raib? Ah, mengapa tiba-tiba aku merasa menyesal tidak mendapatkan percikan air cawan dari gadis itu? Mengapa tiba-tiba saja air mataku meleleh, seakan baru saja putus cinta pertama kalinya?
Belum sempat aku menguasai diri, asap hitam menguasai seluruh ruangan. Gelap, sedikit pun tanpa cahaya. Aku seperti sendiri. Seakan berada di alam lain yang tak kumengerti. Aku begitu takut. Di kubur kah aku? Kupandangkan mataku ke seluruh penjuru. Gelap. Hanya gelap. Tak ada setitik pun api untuk sekedar membuat remang-remang. Pekat. Bahkan aku tak tahu, aku memejam atau tidak.
Ohoy, tunggu. Tampaknya ada sulur-sulur cahaya dari depan sana? Ahai, siapakah dia yang memantik api di tempat segelap ini? Jamaah lain kah? Tapi mengapa terasa sedemikian jauh? Aha? Jauh? Tidak. Cahaya itu semakin besar. Ah! Tidak hanya satu! Itu sepasang cahaya! Ohooou! Cahaya! Aku merindukanmu! Aku menghendakimu! Terangilah ruangan ini. Barang sekejap!
Namun, semakin lama kupandangi, cahaya itu semakin menakutkanku. Ah, tiba-tiba seluruh keringat di tubuhku seperti meleleh dengan cepatnya ketika kusadari bahwa dua cahaya itu seperti sepasang mata. Ah, apa lagi ini?
Dan aku kaku. Beku. Tak dapat bergerak. Tak dapat bernafas. Dua cahaya itu tepat di depanku sekarang. Dan aku sadar, dua cahaya itu adalah sepasang mata ... seekor ular naga!
Aku kucak-kucak mataku. Aku pejamkan, aku buka lagi. Namun, sepasang mata itu tidak juga pergi. Ia seperti menatapku dengan penuh dendam, dengan kebuasan hendak menyantap tubuhku. Seluruh bulu di badanku serasa berdiri. Alam ini menjadi sedemikian dingin. Dan aku ingin mati saja. Aku ingin musnah saja daripada harus berhadapan dengan desisan hewan buas di depanku.
Terpikir olehku untuk lari, tapi tubuh ini rasanya mati. Otot-ototku seperti tak terkendali. Aku terduduk, dan kurasakan selangkanganku menghangat. Saat itu, hanya nama tuhan yang kusebut. Kusebut. Kusebut berulang-ulang. Aku pasrah. Total. Hingga aku tak tahu lagi, di mana aku, dan di mana hewan buas itu. Aku hilang. Hewan itu hilang. Aku mengawang. Entah di mana. Aku tak ada.
***
Sugi, bagiku adalah sebuah keajaiban. Aku tahu itu sejak pertama kali bertemu di bis antar kota jurusan solo yang penuh penumpang itu.
bersambung...
Bagian Pertama:
TAREKAT KOPI MUNYENG (1)
Senin, 28 Juli 2008
21:55
Serentak, seluruh ruangan hanya berisi senyap. halaqah orang-orang yang memadati ruangan seukuran lapangan sepakbola itu, yang semula riuh rendah dan bising oleh ocehan masing-masing, mendadak terdiam saat sosok itu datang. Seakan-akan seluruh perhatian dunia tersedot habis ke dalam sosok berpakaian putih-putih itu. Ia masih muda. Atau dapat dikatakan terlalu muda untuk seorang kiai yang berwibawa.
“Inikah orangnya?” bisikku, penasaran.
“Sst! Diam.” Temanku balas membisik.
“Ok, tapi inikah dia, Syaikh Jibroil yang kamu ceritakan?”
“Bukan... ini asistennya.”
Oh! Jadi ini baru asistennya? Jika asistennya saja sudah dapat memengaruhi ratusan orang yang ada dalam ruangan ini, bagaimana halnya dengan Syaikh Jibroil sendiri? Terus terang, cerita-cerita kebesaran tentang Syaikh Jibroil semakin membuatku penasaran—apalagi ketika aku melihat kenyataan ini. Aku ingin sekali bertanya ini itu tentang Syaikh Jibroil kepada Sugi, tapi dengan cekatan, ketika aku baru saja membuka mulutku, ia mengacungkan jemarinya di depan bibirnya. Dan sia-sialah niatku. Sugi mengacungkan jemarinya ke depan, memberiku isyarat agar mendengar petuah sang asisten Syaikh Jibroil.
“Sampurasun salamun ‘alaikum....”
Semua yang ada di ruang itu membalas dengan serempak, dengan nada berat yang mengguncang ruangan itu, memantul-mantul di seluruh sisi temboknya: “Rampes wa’alaikum salamun!”
Kemudian sang asisten mulai menyanyi. Aku nggak tahu, lagu apa yang ia nyanyikan, namun kukira serupa dengan dendangan lagu jawa. Lirik-liriknya tidak kupahami, tetapi aku yakin—dan demikianlah yang kurasa saat itu—bahwa lagu itu memiliki nuansa mistik yang kental. Pada bagian tertentu, para jamaah mengeluarkan ponsel mereka. Lalu dengan gerakan seragam, tangan mereka mematikan ponsel masing-masing. Aku tahu, mungkin ini sudah kesepakatan jamaah. Tapi entahlah, aku tidak demikian peduli. Siapa yang peduli jika pikiranmu telah dipenuhi rasa ingin tahu tentang nama besar Syaikh Jibroil?
Ketika kemudian sang asisten bertepuk dua kali, para jamaah membukakan mulutnya. Lalu secara bersamaan, mengucapkan syahadat rabbi, syahadat nabi, dan yang terakhir, syahadat wali.
“Aku bersaksi allah tuhan kami
Aku bersaksi, muhammad nabi kami
Aku bersaksi, Syaikh Jibroil wali kutub bumi ini..”
Kemudian kemenyan dibakar. Dupa-dupa di setiap pojok ruang, juga dinyalakan. Wangi semerbak memenuhi segenap udara di dalam ruang itu. Juga asap yang mengepul menyesakkan mata.
Sang asisten, perlahan masuk. Beberapa saat kemudian, ia datang kembali, membawa secangkir kopi, sebotol air putih, dan segenggam kembang setaman. Semua itu diletakkanya di tengah jamaah yang melingkar.
Sang asisten duduk bersila di tengah halaqah. Kedua tangannya tepat berada di sudut lutut. Tatapnya ke lantai. Tepat ke arah dupa yang mengepulkan asap di depannya. Seakan-akan, ia hendak memakan seluruh asap itu dengan matanya.
“Assalamu’alaikum...” katanya dengan suara lirih, nyaris tak membuat bibirnya bergerak. Namun, suar alirih itu sudah sangat cukup untuk membuat seluruh ruangan mendengar kata-katanya, “Syaikh jibroil telah mewasiatkan kepada saya... untuk satu minggu ini, saya pimpin jamaah aurad dan hizib ini. Sedang mbah madun yang akan memimpin shalawat...”
Aku memandang Sugi. Ia tak berkedip. Aku memandang wajah para jamaah yang lain. Mereka juga tak berkedip. Seakan, mereka sama sekali tidak terkejut dengan berhalangannya Syaikh Jibroil. Seolah mereka tidak bertanya-tanya, mengapa syaikh tiba-tiba digantikan posisinya. Aku ingin sekali bertanya, tetapi jika melihat wajah-wajah datar itu, aku pesimis. Aku pasti hanya akan mendapati mereka memelototkan mata, mengacungkan jemari di depan bibir mereka seraya mendesis dengan keras. Atau justru aku dapat diusir keluar. Ah, apakah mereka berhati batu? Ataukah mereka semua telah mabuk oleh aroma kemenyan yang bergulung-gulung ini?
Kemudian suara dzikir mulai keluar dari sang asisten. Dan jamaah menirukan. “Laaa ilaaaaa ha illlallah...! laaaa ilaaaaha illla llah!”
Berguntur-guntur koor dzikir itu. Menggelegar. Seperti hendak meruntuhkan seluruh tembok bangunan ini.
“Illallah! Illlallah!”
Kulihat dupa semakin mengepul. Ruangan sudah menjadi semakin putih. Mata semakin perih. Beberapa di antara jamaah bahkan terbatuk di tengah dzikir mereka. Tapi mereka tidak berhenti. Kemenyan ditambah lagi. Kecepatan dzikir ditambah, lebih cepat lagi.
“illallah! Illallah!”
Kukejapkan mataku. Sugi menggeleng-gelengkan kepala, seirama dzikir bersama. Matanya terpejam. Tubuhnya menghentak-hentak. Mulutnya menganga. Sengaja sedikit kusenggol pahanya dengan ujung kaki. Tampaknya ia tak merasakan apa-apa. Mungkinkah mereka telah ekstase?
“Illallah! Illallah!”
Mataku semakin perih. Memaksaku memejam. Kepalaku juga pening. Dan semakin berputaranlah otakku begitu indera penglihatanku terkatup. Aku seperti melayang. Seluruh bulu di tubuhku seperti berdiri. Aku merinding. Sebentar kemudian, keringat dingin mulai meleleh. Aroma dupa semakin menyedak. Kepalaku semakin berat. Tiba-tiba, pintu ruangan itu seperti terbuka. Seorang tua berjubah hitam-hitam dengan secepat kilat melayang. Lalu mengambang di tengah ruang. Kukerjap-kerjapkan mataku. Aku tak percaya. Aku tak percaya.
“Allahu!”
Dan dzikir itu berhenti...
Kupejal-pejalkan mataku yang pedih. Sosok hitam-hitam itu sudah tidak ada. Ah, siapakah dia? Apakah itu hanya bayang-bayang yang bermain di imajiku saja?
Di tengah, sang asisten mendehem panjang. Suaranya bergetar, seperti orang yang tidak memiliki kontrol lagi terhadap dirinya sendiri.
“Shalatun ‘ala thaha!”
Dan bersamaan dengan suara itu, ia melempar entah apa ke arah dupa. Asap menjadi berlipat-lipat. Aroma harum semerbak kembang menyeruak. Menyesakkan dada dan otak. Seperdetik kemudian, seluruh penjuru ruangan mengumandangkan shalawat. Para jamaah tetap bersila, hanya saja, sekarang tidak lagi mengikuti irama yang menghentak. Namun, tubuh mereka seperti lunglai, bergoyang-goyang mengikuti irama shalawat yang gemulai.
Sungguh, jika tidak karena sugi di ruangan ini, aku sudah keluar dan pergi. Mataku pedih. Otakku mendidih. Perutku mual. Tubuhku lemah tak bertenaga. Seperti akan muntah saja.
Seperempat jam kemudian, kepalaku terasa semakin berat. Mataku pun demikian. Suara-suara, bentuk-bentuk, dan aroma menjadi kabur. Sekali lagi, dalam pejaman mata yang diiringi desisan dzikir itu, aku melihat sesosok hitam-hitam melesat menuju tengah ruang. Aku tidak tahu, apakah ini kenyataan? Sosok hitam itu bukan orang tua seperti yang kulihat pertama tadi. Ia seorang gadis nan jelita dengan mata molar-molar dan alis yang mbulan sabit. Rambutnya gemulai, mengular dari balik jilbabnya yang tidak terlalu panjang. Tubuhnya gemulai. Melingkar-lingkar seperti peer, pejal dan berputar. Kakinya yang jenjang, seperti bergemiricik dengan gelang kaki yang diberi kerincingan. Ya, ya, ia mulai menari. Tangan langsatnya melesat ke kanan dan ke kiri, lalu menghentak bersamaan dengan tubuhnya yang tertarik ke belakang, memperlihatkan lekuk-lekuk indah perempuan. Ah, apakah aku bermimpi?
Gadis itu kini mengelilingi lingkaran. Ia cibakkan air cawan yang diambilnya dari tengah lingkaran kepada setiap jamaah. Setiap orang yang didekatinya menengadah pasrah. Membuka mulutnya lebar-lebar, dan membiarkan mulutnya dibasahi air cawan. Dengan lincah, ia seperti meloncat dari satu jamaah ke jamaah yang lain. Dan semua itu, semua gerakan indahnya itu, dihiasinya dengan senyum terkulum yang basah. Ah, gadis itu melesat. Hilang, beberapa langkah sebelum tiba bagianku menengadahkan mulut. Bersamaan dengan itu, tubuh ini mendadak bergetar hebat. Ada kegalauan yang menggebalau di dasar jiwaku, meletup-letup, merajuk-rajuk. Ah, mengapa tiba-tiba aku merasa kehilangan segalanya begitu gadis itu raib? Ah, mengapa tiba-tiba aku merasa menyesal tidak mendapatkan percikan air cawan dari gadis itu? Mengapa tiba-tiba saja air mataku meleleh, seakan baru saja putus cinta pertama kalinya?
Belum sempat aku menguasai diri, asap hitam menguasai seluruh ruangan. Gelap, sedikit pun tanpa cahaya. Aku seperti sendiri. Seakan berada di alam lain yang tak kumengerti. Aku begitu takut. Di kubur kah aku? Kupandangkan mataku ke seluruh penjuru. Gelap. Hanya gelap. Tak ada setitik pun api untuk sekedar membuat remang-remang. Pekat. Bahkan aku tak tahu, aku memejam atau tidak.
Ohoy, tunggu. Tampaknya ada sulur-sulur cahaya dari depan sana? Ahai, siapakah dia yang memantik api di tempat segelap ini? Jamaah lain kah? Tapi mengapa terasa sedemikian jauh? Aha? Jauh? Tidak. Cahaya itu semakin besar. Ah! Tidak hanya satu! Itu sepasang cahaya! Ohooou! Cahaya! Aku merindukanmu! Aku menghendakimu! Terangilah ruangan ini. Barang sekejap!
Namun, semakin lama kupandangi, cahaya itu semakin menakutkanku. Ah, tiba-tiba seluruh keringat di tubuhku seperti meleleh dengan cepatnya ketika kusadari bahwa dua cahaya itu seperti sepasang mata. Ah, apa lagi ini?
Dan aku kaku. Beku. Tak dapat bergerak. Tak dapat bernafas. Dua cahaya itu tepat di depanku sekarang. Dan aku sadar, dua cahaya itu adalah sepasang mata ... seekor ular naga!
Aku kucak-kucak mataku. Aku pejamkan, aku buka lagi. Namun, sepasang mata itu tidak juga pergi. Ia seperti menatapku dengan penuh dendam, dengan kebuasan hendak menyantap tubuhku. Seluruh bulu di badanku serasa berdiri. Alam ini menjadi sedemikian dingin. Dan aku ingin mati saja. Aku ingin musnah saja daripada harus berhadapan dengan desisan hewan buas di depanku.
Terpikir olehku untuk lari, tapi tubuh ini rasanya mati. Otot-ototku seperti tak terkendali. Aku terduduk, dan kurasakan selangkanganku menghangat. Saat itu, hanya nama tuhan yang kusebut. Kusebut. Kusebut berulang-ulang. Aku pasrah. Total. Hingga aku tak tahu lagi, di mana aku, dan di mana hewan buas itu. Aku hilang. Hewan itu hilang. Aku mengawang. Entah di mana. Aku tak ada.
***
Sugi, bagiku adalah sebuah keajaiban. Aku tahu itu sejak pertama kali bertemu di bis antar kota jurusan solo yang penuh penumpang itu.
bersambung...
Subscribe to:
Posts (Atom)